Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Kota Balikpapan masih berada dalam kondisi relatif aman dari dampak kabut asap di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Timur (Kaltim).
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono mengatakan asap memang telah masuk ke atmosfer di sejumlah wilayah Kalimantan, termasuk Kaltim. Tapi dampaknya di Balikpapan sejauh ini belum signifikan.
Hal tersebut terlihat dari kondisi jarak pandang atau visibility di Balikpapan yang masih berada di angka sekitar 10 kilometer. "Informasi terakhir jarak pandang masih 10 kilometer. Artinya, untuk Balikpapan sendiri masih aman. Aktivitas, berkendara dan sebagainya masih bisa dilakukan," kata Djoko, Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah wilayah lain yang terdampak kabut asap lebih tebal.
Sebagai contoh, jarak pandang di Berau sebelumnya sempat mencapai sekitar 3,5 kilometer sehingga mulai mengganggu aktivitas, termasuk transportasi udara.
"Kalau jarak pandang sampai 3,5 kilometer tentu sudah mengganggu aktivitas, apalagi transportasi pesawat," ujarnya. Djoko mengatakan, keberadaan asap di sekitar Balikpapan kemungkinan berada pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi sehingga belum terlalu dirasakan langsung oleh masyarakat di permukaan.
Selain itu, aktivitas masyarakat di Balikpapan juga masih berlangsung normal dan belum terlihat adanya dampak signifikan terhadap aktivitas sehari-hari.
"Dilihat dari jarak pandang masih normal. Kemudian dari aktivitas masyarakat juga masih seperti biasanya. Jadi, kalaupun ada asap, dampaknya di Balikpapan belum signifikan terasa," katanya.
Terkait peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Balikpapan, Djoko mengatakan belum dapat dipastikan apakah kenaikan tersebut secara langsung disebabkan kabut asap atau dipengaruhi faktor lain, seperti perubahan cuaca dan kondisi musim kemarau.
"Memang ada peningkatan kasus ISPA dibandingkan bulan sebelumnya. Tetapi kami belum bisa memastikan apakah itu akibat asap atau karena perubahan cuaca," ujarnya.
Sementara itu, kondisi kabut asap dapat berkurang apabila terjadi perubahan arah dan kecepatan angin yang membawa partikel asap menjauhi Balikpapan.
Selain itu, hujan juga dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel di udara.
"Asap itu sifatnya berupa partikel-partikel halus yang melayang di udara. Kalau ada angin yang cukup kencang, bisa terbawa ke tempat lain. Kemudian hujan juga bisa membantu menurunkan partikel-partikel tersebut kembali ke permukaan," jelasnya.
Meski kondisi di Balikpapan masih relatif aman, kekhawatiran terhadap dampak penurunan kualitas udara tetap muncul.
Wakil Ketua III DPRD Balikpapan, Budiono, mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan akibat kualitas udara yang memburuk.
Ia menganjurkan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan, terutama untuk mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan.
"Dianjurkan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan atau di luar rumah itu memakai masker," kata Budiono.
Menurutnya, penggunaan masker perlu menjadi perhatian apabila kondisi kualitas udara sudah tidak layak atau berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat.
Ia berharap aktivitas pendidikan tetap dapat berjalan selama kondisi masih memungkinkan dan langkah perlindungan kesehatan dapat diterapkan.
"Belajar-belajar tetap, itu tadi solusinya bagi masyarakat," ujarnya.
Budiono menegaskan perlindungan kesehatan harus tetap menjadi perhatian utama. Apabila kondisi udara semakin memburuk, masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan perlu meningkatkan langkah perlindungan untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan, khususnya ISPA.


