Asap Menebal di Krayan Selatan, Warga Mulai Keluhkan Batuk dan Sakit Tenggorokan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kabut asap yang menyelimuti langit Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)
Kabut asap yang menyelimuti langit Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Asap Menebal di Krayan Selatan, Warga Mulai Keluhkan Batuk dan Sakit Tenggorokan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kabut asap yang menyelimuti langit Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)
Kabut asap yang menyelimuti langit Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Asap Menebal di Krayan Selatan, Warga Mulai Keluhkan Batuk dan Sakit Tenggorokan

Kabut asap yang menyelimuti langit Krayan Selatan (Foto: Oktavianus Ramli)

Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin 

NUNUKAN — Langit Krayan Selatan dalam beberapa hari terakhir tidak lagi tampak sejernih biasanya. Kabut asap yang terus menebal mulai membatasi pandangan, mengganggu aktivitas warga hingga memaksa kegiatan belajar mengajar dialihkan dari sekolah ke rumah.

Dalam tiga hari terakhir, Kecamatan Krayan Selatan diselimuti kabut asap dengan kondisi yang disebut semakin memburuk, terutama pada sore hari.

Camat Krayan Selatan, Oktavianus Ramli mengatakan jarak pandang warga kini semakin terbatas. Dalam kondisi tertentu, jarak pandang diperkirakan hanya berkisar antara satu hingga dua kilometer.

“Kabut asap semakin hari semakin parah. Jarak pandang kurang lebih satu sampai dua kilometer. Sudah tiga hari ini kabut cukup tebal, apalagi sore hari,” ujar Oktavianus, Selasa (1/9/2026).

Kondisi tersebut mendorong pemerintah kecamatan mengambil langkah antisipasi untuk mengurangi dampak paparan asap, terutama terhadap kelompok rentan seperti anak-anak.

Sejak 31 Agustus 2026, kegiatan belajar mengajar di wilayah Krayan Selatan dialihkan melalui sistem Belajar dari Rumah (BDR).

Kebijakan tersebut dilaksanakan sesuai dengan Surat Edaran Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan sebagai langkah untuk mengurangi aktivitas peserta didik di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Selain itu, pemerintah kecamatan juga telah meneruskan Surat Edaran Bupati Nunukan kepada pemerintah desa sebagai bentuk peningkatan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap.

“Kami di kecamatan meneruskan surat edaran Bupati yang sudah ada dan telah disampaikan ke desa-desa,” katanya.

Kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut tidak hanya berdampak pada aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai memunculkan keluhan kesehatan.

Oktavianus mengatakan sejumlah warga mulai mengeluhkan gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan kondisi udara. Keluhan yang paling banyak diterima antara lain flu, batuk dan sakit tenggorokan.

Pemerintah kecamatan pun mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah, terutama pada waktu-waktu ketika kabut asap semakin pekat.

Warga juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat memperburuk kondisi kualitas udara.

“Keluhan masyarakat yang kami terima kebanyakan flu, batuk dan sakit tenggorokan. Kami mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan bersama-sama menjaga lingkungan agar tidak terjadi aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran,” ujarnya.

Menurut Oktavianus, kondisi kabut asap membutuhkan perhatian bersama karena dampaknya tidak hanya terbatas pada gangguan jarak pandang.

Apabila terus berlangsung dan semakin pekat, kabut asap berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, pelayanan pendidikan hingga kesehatan warga.

Untuk saat ini, pemerintah kecamatan terus memantau perkembangan kondisi di lapangan sambil memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa dan pihak terkait.