Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Pelaku usaha lokal di Kutim terus berupaya memperluas pasar dengan menawarkan jasa dan produk kepada perusahaan yang beroperasi di daerah.
Peluang tersebut menjadi salah satu bahasan dalam Forum Komunikasi CSR dan Kontraktor PT Kaltim Prima Coal (KPC) di Wisma Rayah KPC, Selasa (1/9/2026).
Forum itu dimanfaatkan dua mitra lokal KPC, yakni PT Baja Murni Mandiri (BMM) dan Komunitas Pembatik Kutim untuk memperkenalkan kapasitas usaha sekaligus membuka peluang kerja sama dengan perusahaan maupun pemerintah daerah.
Direktur PT BMM, Eko Sugiarto mengatakan perusahaan lokal memiliki peluang untuk berperan lebih besar dalam aktivitas ekonomi daerah seiring kebijakan pemerintah yang mendorong keterlibatan tenaga kerja dan pelaku usaha lokal.
Ia merujuk pada Peraturan Daerah (Perda) Nomor 1 Tahun 2022 tentang Ketenagakerjaan serta Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 6 Tahun 2024. Regulasi tersebut memberikan ruang bagi tenaga kerja dan perusahaan lokal untuk berpartisipasi dalam dunia usaha.
“Di mana tenaga kerja lokal dan juga perusahaan lokal diberikan kesempatan atau porsi yang lebih untuk dapat berpartisipasi dan berperan serta,” ujar Eko.
PT BMM sendiri bergerak di bidang pengamanan, general supplier, dan kontraktor. Pada sektor pengamanan, Eko mendorong perusahaan pengguna jasa agar memperhatikan legalitas badan usaha jasa pengamanan (BUJP), termasuk kompetensi personel yang ditempatkan.
Menurut Eko, kesempatan bagi perusahaan lokal harus diikuti kesiapan memenuhi standar industri. Hal itu mencakup sumber daya manusia, sertifikasi, hingga perizinan sesuai ketentuan.
“Kita menyadari juga sebagai perusahaan lokal, kita harus siap dari segala cuaca, yaitu mempersiapkan perangkat-perangkat sumber daya manusia dan lisensi atau izin,” katanya.
Eko juga memperkenalkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang telah memperoleh lisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Keberadaan lembaga itu dapat membantu meningkatkan kompetensi tenaga kerja lokal tanpa harus mengikuti sertifikasi ke luar daerah.
PT BMM juga disebut telah menyelenggarakan pelatihan tenaga pengamanan sebanyak 15 kali, termasuk uji kompetensi. Pelatihan serupa direncanakan kembali dilaksanakan pada bulan berikutnya. Sementara peluang pasar lokal juga coba diperluas Komunitas Pembatik Kutim.
Perwakilan komunitas, Ises, mengatakan komunitas tersebut berdiri sejak 2017 dengan empat anggota dan kini berkembang menjadi 12 pembatik.
Menurut Ises, dukungan dari KPC selama ini membantu komunitas mengembangkan kemampuan para anggotanya melalui bantuan peralatan maupun pelatihan.
“Kami ingin mengenalkan bahwa kami ada di Kutai Timur ini, dan kami juga turut melestarikan dan mengembangkan potensi budaya yang ada di Kutai Timur melalui kain-kain yang kami hasilkan,” ujarnya.
Produk yang dikembangkan para pembatik mengangkat sejumlah unsur alam dan budaya Kutim.
Di antaranya Batik Paku yang mengadaptasi karakter akar paku atau pakis khas Kalimantan serta Juwita Batik yang menggunakan motif kelubut dan bunga karamunting.
Pengembangan produk juga dilakukan melalui penggunaan pewarna alam. Salah satunya dengan memanfaatkan limbah kayu ulin sebagai bahan pewarna dalam proses membatik.
Ises memperkenalkan Batik Teluk Ramos yang mengangkat unsur budaya Dayak melalui motif yang terinspirasi dari kebudayaan setempat.
Pembatik lainnya mengembangkan motif kontemporer untuk menjangkau konsumen dari kalangan generasi muda.
Selain mempertahankan karakter masing-masing, para pembatik didorong untuk mengangkat identitas daerah.
Salah satunya melalui penggunaan motif Wakaroros sebagai bagian dari ciri khas Kutim.
“Kami harus mengkombinasikan dengan motif yang ciri khas Kutai Timur, yaitu Wakaroros. Nah, ini kewajiban kami sebagai pembatik lokal yang melakukan pembatikannya di Kutai Timur,” jelasnya.
Persoalan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat masuk ke pasar yang lebih luas, termasuk memenuhi kebutuhan perusahaan dan instansi pemerintah.
Ises berharap perusahaan dan pemerintah di Kutim dapat menggunakan produk pembatik lokal, termasuk untuk kebutuhan seragam.
“Harapannya, Bapak/Ibu yang ada di sini, semua kontraktor dan pemerintah, bisa memakai kami untuk mengadakan seragam,” katanya.
Menurut Ises, penggunaan produk lokal dapat memberikan dampak langsung terhadap keberlanjutan usaha para pengrajin.
Sebagai informasi, sebagian anggota komunitas merupakan pensiunan dan ibu rumah tangga yang menjadikan kegiatan membatik sebagai salah satu sumber penghasilan.
Forum Komunikasi CSR dan Kontraktor KPC tersebut pada akhirnya mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan kapasitas pelaku usaha lokal.
Bagi pelaku usaha, kesempatan masuk ke rantai pasok perusahaan membutuhkan kesiapan dari sisi kualitas, legalitas, kompetensi, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar.
Sementara bagi perusahaan dan pemerintah daerah, keberadaan pelaku usaha lokal menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan untuk memperluas manfaat ekonomi dari aktivitas industri di Kutim.


