Fasilitas Pendidikan Inklusi di Sekolah Kutim Belum Merata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono: Tiga hal Prioritas yang dilakukan pendidikan, yaitu, Pemerataan tenaga pendidik, akreditasi serta sarpras. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono: Tiga hal Prioritas yang dilakukan pendidikan, yaitu, Pemerataan tenaga pendidik, akreditasi serta sarpras. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Fasilitas Pendidikan Inklusi di Sekolah Kutim Belum Merata

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono: Tiga hal Prioritas yang dilakukan pendidikan, yaitu, Pemerataan tenaga pendidik, akreditasi serta sarpras. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono: Tiga hal Prioritas yang dilakukan pendidikan, yaitu, Pemerataan tenaga pendidik, akreditasi serta sarpras. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Fasilitas Pendidikan Inklusi di Sekolah Kutim Belum Merata

Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono: Tiga hal Prioritas yang dilakukan pendidikan, yaitu, Pemerataan tenaga pendidik, akreditasi serta sarpras. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan

SANGATTA – Fasilitas pendukung pendidikan inklusi belum tersedia secara merata di sekolah umum di Kabupaten Kutim.

Sejumlah sekolah telah memiliki sarana untuk menunjang kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus, sementara sekolah lainnya masih belum dilengkapi fasilitas serupa.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono mengatakan, kondisi tersebut dipengaruhi oleh kebutuhan masing-masing sekolah. 

Tidak semua sekolah memiliki peserta didik berkebutuhan khusus sehingga fasilitas yang tersedia pun berbeda. “Sebagian sudah, sebagian belum,” ujar Mulyono.

Menurut dia, fasilitas dasar yang dibutuhkan untuk mendukung pendidikan inklusi antara lain toilet yang ramah penyandang disabilitas, kursi roda, tongkat, serta sarana pendukung lainnya.

Pengadaan fasilitas itu dapat dilakukan melalui anggaran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) maupun Bantuan Operasional Sekolah Daerah (BOSDA), disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

“Biasanya itu terkait dengan toilet, kursi roda, tongkat dan lain-lainnya. Itu bisa dari BOS maupun BOSDA,” jelasnya.

Mulyono mengatakan, pihaknya juga dapat mengambil peran apabila kebutuhan fasilitas di suatu sekolah cukup besar dan tidak dapat dipenuhi melalui anggaran operasional sekolah.

“Kalau memang ada sekolah yang sangat besar, tidak menutup kemungkinan dari Dinas Pendidikan akan memenuhinya,” katanya.

Ia menyebut fasilitas pendukung pendidikan inklusi telah tersedia di sejumlah sekolah di Kutim, mulai tingkat sekolah dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Salah satunya SMP Negeri 1 Sangatta. Selain menyediakan ruang bagi peserta didik berkebutuhan khusus, sekolah tersebut juga memberikan kesempatan kepada mereka untuk menunjukkan keterampilan dalam berbagai kegiatan sekolah.

Mulyono mengatakan keterampilan anak berkebutuhan khusus bahkan dapat ditampilkan dalam kegiatan seperti acara kelulusan atau wisuda.

“Pada saat acara wisuda atau kelulusan itu bisa ditampilkan juga, termasuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Mereka juga punya keterampilan,” pungkasnya.