Kemarau Melanda Kukar, Warga Lintas Agama Bersatu dalam Doa Memohon Hujan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Doa dan peribadatan digelar serentak di kukar. (Foto: Aswin/Pusaeanmedia.com)
Doa dan peribadatan digelar serentak di kukar. (Foto: Aswin/Pusaeanmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kemarau Melanda Kukar, Warga Lintas Agama Bersatu dalam Doa Memohon Hujan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Doa dan peribadatan digelar serentak di kukar. (Foto: Aswin/Pusaeanmedia.com)
Doa dan peribadatan digelar serentak di kukar. (Foto: Aswin/Pusaeanmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kemarau Melanda Kukar, Warga Lintas Agama Bersatu dalam Doa Memohon Hujan

Doa dan peribadatan digelar serentak di kukar. (Foto: Aswin/Pusaeanmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong masyarakat dari berbagai agama untuk bersama-sama melakukan ikhtiar spiritual. Doa dan peribadatan digelar serentak di sejumlah tempat di Tenggarong, Rabu (2/9/2026).

Umat Islam melaksanakan Salat Istisqa di Lapangan Kantor Bupati Kukar. Sejak pagi, masyarakat berdatangan untuk mengikuti salat berjemaah sekaligus memanjatkan doa agar hujan segera mengguyur wilayah Kukar.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama setelah salat selesai dilaksanakan.

Di lokasi berbeda, umat Kristiani menggelar penyembahan dan doa bersama di Taman Tanjong, Jalan Diponegoro, Kelurahan Panji, Kecamatan Tenggarong.

Ruang terbuka yang berada di tepian Sungai Mahakam itu berubah menjadi tempat peribadatan. Sejumlah umat Kristiani berkumpul dan berdoa untuk bangsa Indonesia serta memohon agar kemarau yang berlangsung segera berakhir.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, Salat Istisqa yang dilaksanakan bersama masyarakat menjadi salah satu bentuk ikhtiar untuk memohon turunnya hujan.

“Melaksanakan salat Istisqa bersama seluruh warga masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara. Harapan kita dengan melaksanakan salat ini segera diturunkan hujan di Kabupaten Kutai Kartanegara di seluruh penjuru Kabupaten Kutai Kartanegara,” ujarnya.

Menurut Aulia, pada waktu yang sama masyarakat dari agama lain juga melakukan doa bersama dengan tujuan yang sama, yakni memohon agar hujan segera turun.

“Hari ini juga selain umat muslim, umat agama yang lain melakukan doa bersama dengan satu tujuan kita berharap bahwa hujan segera turun di Kabupaten Kutai Kartanegara,” katanya.

Ia menyebut kemarau panjang telah memunculkan berbagai persoalan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut di antaranya ditandai dengan kejadian kebakaran, keterbatasan air bersih, hingga berkurangnya pasokan air untuk persawahan.

“Kita melihat terjadi bencana kebakaran, terjadi bencana kesulitan air bersih di beberapa titik, dan sawah-sawah kita juga tidak teraliri air sebagaimana biasanya atau sebagaimana mestinya,” jelasnya.

Karena itu, Aulia berharap hujan segera turun dan membawa manfaat bagi masyarakat di seluruh wilayah Kukar.

“Sekali lagi harapan kami dengan melaksanakan salat ini, maka segera diturunkan hujan yang membawa berkah di seluruh warga masyarakat Kabupaten Kukar,” pungkasnya.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar Ananias turut mengikuti kegiatan tersebut. Ia menjelaskan, doa lintas agama merupakan bagian dari gerakan bersama dalam menghadapi kondisi kekeringan yang terjadi saat ini.

Menurutnya, penanganan dampak kemarau tidak cukup hanya melalui upaya secara fisik, tetapi juga perlu dibarengi ikhtiar spiritual sesuai keyakinan masing-masing.

“Sebenarnya itu kan gerakan bersama kita. Bukan hanya berusaha secara jasmani sebagai manusia biasa seperti ini, dan juga secara spiritual keagamaan, kita juga memohon kepada Tuhan agar kekeringan ini bisa kita lalui dan bisa segera berakhir,” ujar Ananias.

Ia menjelaskan, masyarakat dari berbagai agama melaksanakan kegiatan doa di lokasi berbeda dengan tata cara peribadatan masing-masing.

“Jadi, sama tadi, kalau yang di halaman kantor bupati tadi salat, kemudian kami yang di Taman Tanjong tadi juga melakukan penyembahan dan doa bersama. Juga umat-umat beragama yang lain, kita secara bersama-sama ya di tempat masing-masing, kemudian dengan cara ibadah masing-masing,” katanya.

Ananias berharap hujan segera turun sehingga dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dapat ditekan. Salah satu yang dikhawatirkan adalah potensi gagal panen akibat kurangnya pasokan air.

“Tetapi tujuannya sama, yaitu meminta supaya kekeringan yang saat ini melanda Indonesia, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara, bisa segera berakhir dan kita bisa mendapatkan hujan, sehingga petani-petani kita juga dapat terhindar dari gagal panen,” ujarnya.

Ia juga berharap berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi kondisi tersebut dapat memberikan hasil.

“Dan segala usaha-usaha yang dikerjakan bisa membuahkan hasil. Harapannya seperti itu,” katanya.

Lebih jauh, Ananias menyebut kegiatan tersebut menunjukkan kuatnya semangat toleransi dan kebersamaan masyarakat Kukar yang hidup dalam keberagaman agama.

“Jadi, wujud toleransi, kebersamaan, keberagaman kita, dengan berbagai cara ibadah masing-masing agama dan keyakinan, kita satu tujuan. Sama-sama meminta hujan segera diturunkan di Kabupaten Kutai Kartanegara,” pungkasnya.

Doa bersama tidak hanya dilakukan umat Islam dan Kristiani. Umat Hindu juga melaksanakan peribadatan di Pura Payogan Agung Kutai yang berada di Gang Nusa Indah, Jalan Loa Ipuh, Kelurahan Loa Ipuh, Kecamatan Tenggarong.

Di pura tersebut, umat Hindu mengikuti rangkaian doa dengan suasana tenang dan khidmat. Kegiatan itu menjadi bagian dari ikhtiar spiritual masyarakat lintas agama dalam menghadapi kemarau.

Sementara itu, umat Buddha turut melaksanakan doa bersama di salah satu vihara di kawasan Timbau, Tenggarong. Peribadatan berlangsung dalam suasana hening dan penuh kekhusyukan.

Kegiatan lintas agama tersebut digelar saat dampak kemarau semakin dirasakan di sejumlah wilayah Kukar. Kekeringan tidak hanya memengaruhi ketersediaan air, tetapi juga berkaitan dengan munculnya kebakaran serta terganggunya kebutuhan air untuk lahan pertanian.