Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur (Kaltim) mengalami peningkatan cukup signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Peningkatan tersebut terjadi di tengah maraknya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kukar dan menyebabkan kabut asap.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar, Ismi Mufiddah mengaku berdasarkan data yang dihimpun, kasus ISPA terus mengalami peningkatan sejak Juni hingga Agustus 2026.
“Memang ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan. Kalau kita lihat dari Juni itu kemarin 3.703 dari data kita, kemudian mulai meningkat di bulan Juli 7.172, kemudian dari 1 sampai 31 Agustus kemarin ada 9.075, jadi cukup meningkat kasus ISPA,” ujar Ismi. Rabu (2/9/2026)
Menurutnya, kasus ISPA tidak hanya ditemukan di wilayah yang terdampak langsung karhutla. Seluruh kecamatan di Kukar tercatat memiliki kasus ISPA, meski jumlahnya berbeda-beda.
Untuk wilayah dengan kasus tertinggi, Tenggarong menjadi salah satu daerah yang paling banyak mencatat kasus ISPA. “Kalau kita sebut lima besar di Agustus itu, Loa Ipuh, Rapak Mahang, Sanga-Sanga, Loa Janan, Samboja, itu lima besar,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan kelompok usia, kasus ISPA paling banyak ditemukan pada kelompok usia produktif dan usia sekolah. Untuk kelompok usia produktif 18-59 tahun tercatat sebanyak 3.028 kasus. Sementara kelompok usia sekolah lima sampai 18 tahun mencapai sekitar 2.950 kasus.
Adapun kasus ISPA pada balita tercatat sekitar 1.600 kasus. Meski peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan kondisi kabut asap akibat karhutla, tapi ISPA bukan penyakit yang hanya disebabkan oleh asap kebakaran.
Menurutnya, ISPA selama ini memang menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di Kukar, bahkan selalu berada di peringkat pertama dalam daftar 10 penyakit terbesar.
“Tadi saya bilang penyebabnya bukan hanya kabut, tapi polusi kendaraan itu juga menjadi penyebab terbesar. Sebab kan kita mobilitas ya, kayak naik motor, naik mobil juga benar-benar aman. Tapi karena ada kasus tambahan kabut asap ini, kasusnya jadi kelihatan meningkat, cukup signifikan,” ujarnya.
Selain asap karhutla dan polusi kendaraan, kondisi kualitas udara di sejumlah kawasan perkotaan juga menjadi perhatian. Ismi mengatakan hasil pengukuran Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) di sejumlah titik padat aktivitas menunjukkan adanya peningkatan angka polutan.
“ISPA itu, kalaupun tidak ada kabut, dia merupakan selalu peringkat pertama dari 10 penyakit terbesar,” katanya.
Di sisi pelayanan kesehatan, Ismi memastikan obat-obatan untuk menangani kasus ISPA tersedia di puskesmas.
Masyarakat yang mengalami keluhan ISPA dapat memperoleh pelayanan dan pengobatan sesuai prosedur di fasilitas kesehatan, termasuk di wilayah yang mencatat kasus cukup tinggi seperti Loa Ipuh dan Rapak Mahang.
“Kalau di puskesmas kita obat-obatan siap, artinya tadi yang saya sebutkan misalnya di Loa Ipuh, Rapak Mahang, itu semua terlayani dan diberikan pengobatan sesuai dengan prosedur,” katanya.
Di tengah kondisi kabut asap, Dinkes Kukar juga mengimbau masyarakat meningkatkan perlindungan diri. Masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.
Jika harus beraktivitas di luar ruangan, masyarakat diminta menggunakan perlindungan yang sesuai, termasuk mengenakan pakaian tertutup dan masker.
“Sebenarnya kemarin sudah muncul di SE ya, imbauan kita terhadap masyarakat. Pertama mungkin kalau memang tidak perlu kurangi aktivitas di luar rumah. Kalaupun harus terpaksa beraktivitas di luar rumah, ya mungkin dengan persiapan,” ujarnya.


