Balikpapan Deflasi 0,03 Persen, BI Soroti Risiko Tekanan Ekonomi dari Kemarau dan El Nino

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Aktivitas jual beli di Pasar Klandasan Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Aktivitas jual beli di Pasar Klandasan Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Balikpapan Deflasi 0,03 Persen, BI Soroti Risiko Tekanan Ekonomi dari Kemarau dan El Nino

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Aktivitas jual beli di Pasar Klandasan Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Aktivitas jual beli di Pasar Klandasan Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Balikpapan Deflasi 0,03 Persen, BI Soroti Risiko Tekanan Ekonomi dari Kemarau dan El Nino 

Aktivitas jual beli di Pasar Klandasan Balikpapan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Tekanan harga di Kota Balikpapan mulai melandai pada Agustus 2026. Kota ini mencatat deflasi sebesar 0,03 persen secara bulanan, setelah sejumlah komoditas, terutama transportasi dan pangan, mengalami penurunan harga.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Balikpapan, Robi Ariadi mengatakan perkembangan tersebut mengonfirmasi berbagai langkah pengendalian inflasi yang dilakukan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mulai memberikan dampak terhadap harga komoditas strategis.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat risiko ekonomi ke depan hilang. 

Inflasi tahunan Balikpapan masih mencapai 3,79 persen atau berada di atas inflasi nasional sebesar 3,19 persen.

Deflasi pada Agustus terutama didorong kelompok transportasi dengan andil sebesar 0,26 persen. 

Penurunan tarif angkutan udara didukung turunnya harga avtur di Bandara Sepinggan Balikpapan. 

Harga bensin juga turun setelah Pertamina menyesuaikan harga Pertamax pada 1 Agustus 2026.

Sejumlah komoditas pangan seperti bawang merah, kangkung, dan tomat juga mengalami penurunan harga akibat meningkatnya pasokan.

Namun, tekanan harga masih muncul dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Ikan layang, cabai rawit, kacang panjang, jagung manis, dan ketimun menjadi sejumlah komoditas yang mengalami kenaikan harga.

Menurutnya, risiko terhadap stabilitas harga masih perlu diantisipasi, terutama memasuki puncak musim kemarau pada triwulan III 2026 dan dampak El Nino terhadap daerah sentra produksi pangan.

Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi dan kesinambungan pasokan pangan ke Balikpapan yang masih bergantung pada daerah pemasok, khususnya Jawa dan Sulawesi.

"Ke depan, masih terdapat sejumlah risiko yang dapat mendorong meningkatnya tekanan inflasi, sehingga perlu dimitigasi dan diantisipasi dengan sejumlah langkah strategis dan kebijakan yang konsisten agar inflasi tetap terkendali," kata Robi dalam keterangannya, Kamis (3/9/2026).

Selain ancaman terhadap produksi, peningkatan kebutuhan pangan juga menjadi tantangan tersendiri. Akselerasi operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terus berlanjut pada 2026 berpotensi meningkatkan permintaan komoditas pangan.

BI Balikpapan bersama pemerintah daerah melalui TPID terus memperkuat pengendalian harga melalui Gerakan Pangan Murah, pasar murah, operasi pasar, serta kerja sama antardaerah untuk menjaga pasokan.

Hingga Agustus 2026, TPID Balikpapan telah melaksanakan 87 kali Gerakan Pangan Murah, termasuk tujuh kali selama Agustus.

Berbagai langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas harga sekaligus mengantisipasi tekanan ekonomi yang dapat muncul apabila gangguan pasokan pangan akibat kemarau dan El Nino semakin meluas.