Pedagang Punya Banyak Kios di Lantai Berbeda, DPRD Samarinda Usul Disatukan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pedagang Punya Banyak Kios di Lantai Berbeda, DPRD Samarinda Usul Disatukan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pedagang Punya Banyak Kios di Lantai Berbeda, DPRD Samarinda Usul Disatukan

Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA – Persoalan keterisian kios masih menjadi salah satu pekerjaan rumah dalam pengelolaan Pasar Pagi Samarinda. Dari sekitar 2.500 kios yang tersedia, Ketua Komisi II DPRD Samarinda, Iswandi, menyebut masih terdapat sekitar ratusan kios yang belum terisi.

Iswandi mengatakan angka tersebut merupakan hasil sidaknya ke Pasar Pagi beberapa waktu lalu. “Waktu saya sidak ke sana terakhir itu masih ada 1.500 kios yang belum terisi. Makanya kita kejar tadi, tinggal sedikit lagi katanya. Nah, sedikit lagi itu belum tahu berapa. Besok saya akan minta data konkretnya,” kata Iswandi.

Menurutnya, salah satu persoalan yang membuat kios belum dibuka adalah adanya pedagang yang memperoleh dua hingga tiga kios, tetapi lokasinya berada di lantai berbeda. Kios itu didapat dengan menggunakan data dari sanak saudara, namun hanya satu orang saja yang mengelola. 

Kondisi tersebut dinilai tidak mudah bagi pedagang untuk menjalankan seluruh kios secara bersamaan. Terlebih, setiap kios membutuhkan biaya operasional, termasuk tenaga untuk menjaga lapak.

Iswandi mencontohkan, ketika satu kios saja memiliki omzet yang belum menentu, pedagang tentu akan mempertimbangkan biaya tambahan apabila harus membuka kios lainnya di lantai berbeda.

“Omzetnya sehari belum tentu laku, kadang nggak terjual. Kalau dia memaksakan buka yang lain lagi, kan ada cost yang harus dikeluarkan, minimal yang jaga karyawan,” jelasnya.

Karena itu, salah satu solusi yang perlu dibahas adalah mempertemukan para pedagang untuk mencari pola pengelolaan kios yang lebih efektif, termasuk kemungkinan menggabungkan atau menyatukan penggunaan kios.

Ia berharap seluruh pihak mulai fokus membicarakan langkah ke depan agar Pasar Pagi kembali ramai dan aktivitas ekonomi dapat bergerak.

“Selama ini masalahnya kan hanya komunikasi,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan Pasar Pagi tidak hanya diukur dari sisi pengelolaan kios, tetapi juga dari ramainya pedagang dan pembeli.

Iswandi juga menyebut masukan terkait akses menuju lantai tertentu, termasuk usulan penambahan eskalator, menjadi bagian dari pembahasan untuk meningkatkan kenyamanan di Pasar Pagi.

Ia berharap komunikasi antara pemerintah dan pedagang terus terjaga sehingga berbagai persoalan teknis dapat diselesaikan secara bertahap.

“Sekarang kita bicara solusi, bicara hal-hal lain yang kira-kira memberi manfaat untuk pengembangan Pasar Pagi ini,” pungkasnya.