Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN - Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Nunukan mulai diikuti peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Setelah sempat menurun selama dua pekan berturut-turut, jumlah kasus kembali bergerak naik pada akhir Agustus.
Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan Kabupaten Nunukan, terdapat sekitar 380 kasus ISPA pada Minggu Epidemiologi ke-34. Angka tersebut bertambah sekitar 50 kasus dibandingkan pekan sebelumnya yang berada di kisaran 330 kasus.
Kenaikan ini menjadi perhatian karena terjadi setelah tren ISPA sebelumnya menunjukkan penurunan. Pada Minggu Epidemiologi ke-31, kasus tercatat sekitar 420, kemudian turun menjadi 350 kasus pada pekan ke-32 dan kembali menurun hingga sekitar 330 kasus pada pekan ke-33.
Memasuki pekan ke-34, tren tersebut berbalik. Meski demikian, Dinas Kesehatan belum menyatakan peningkatan kasus tersebut sebagai dampak langsung dari kabut asap.
Kepala Dinas Kesehatan Nunukan, Miskia, mengatakan perkembangan kasus ISPA sepanjang Agustus menunjukkan pola yang berubah-ubah. Karena itu, peningkatan terbaru perlu disikapi dengan kewaspadaan, terutama ketika kondisi kualitas udara sedang terpengaruh asap kebakaran hutan dan lahan.
“Kasus ISPA selama Agustus menunjukkan pola yang fluktuatif. Setelah mengalami penurunan, pada minggu ke-34 kembali terjadi peningkatan dan ini perlu menjadi perhatian bersama,” ujar Miskia.
Menurut Miskia, ISPA tidak disebabkan oleh satu faktor. Perubahan cuaca, kondisi lingkungan, daya tahan tubuh, hingga paparan polusi udara dapat memengaruhi munculnya gangguan saluran pernapasan.
Namun, keberadaan kabut asap tetap menjadi persoalan yang perlu diantisipasi. Paparan asap dapat menurunkan kualitas udara dan menyebabkan iritasi pada mata serta saluran pernapasan. Pada kelompok tertentu, paparan dalam durasi panjang juga dapat memperburuk gangguan pernapasan yang telah ada.
Di tengah kondisi tersebut, Dinkes Nunukan meminta masyarakat mengurangi paparan asap dan meningkatkan perlindungan diri.
“Paparan asap dapat memicu iritasi mata, hidung, dan tenggorokan. Keluhan seperti batuk, pilek hingga sesak napas juga berpotensi muncul, terutama pada warga yang terpapar dalam waktu lama,” jelasnya.
Perhatian khusus perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti bayi, anak-anak, ibu hamil dan lanjut usia. Warga yang memiliki riwayat asma, bronkitis, atau gangguan paru-paru juga diminta lebih waspada karena paparan asap berpotensi memperburuk kondisi kesehatan.
Masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker dan mengurangi kegiatan di luar rumah apabila tidak terdapat keperluan mendesak, terutama ketika kabut asap semakin pekat.
Upaya perlindungan juga dapat dilakukan dari lingkungan rumah dengan menutup pintu dan jendela untuk membatasi masuknya asap. Masyarakat tetap dianjurkan menjaga asupan cairan, mengonsumsi makanan bergizi dan mencukupi waktu istirahat.
“Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, gangguan pernapasan atau sesak napas diminta tidak menunggu kondisi semakin parah dan segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat,” pungkasnya.


