Kabut Hampir Terasa di Sejumlah Wilayah, DLH Samarinda Rutin Ukur Kualitas Udara

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kabut Hampir Terasa di Sejumlah Wilayah, DLH Samarinda Rutin Ukur Kualitas Udara

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kabut Hampir Terasa di Sejumlah Wilayah, DLH Samarinda Rutin Ukur Kualitas Udara

Plt Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Sebagian wilayah Kota Samarinda masih diselimuti kabut yang membuat jarak pandang berkurang dan mata terasa pedih. Kondisi tersebut seiring dengan kualitas udara yang sempat berada dalam kategori sedang berdasarkan hasil pengukuran di dua lokasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan salah satu pengukuran dilakukan di Stasiun BMKG APT Pranoto. Hasil pengukuran di kedua lokasi tersebut sama-sama menunjukkan kualitas udara dalam kategori sedang.

Meski secara umum masih berada dalam kategori sedang, Suwarso mengakui kondisi udara secara kasat mata terlihat agak berkabut. Bahkan, sebagian warga dapat merasakan pedih pada mata ketika beraktivitas di luar ruangan.

Karena itu, masyarakat diimbau tetap menggunakan masker dan kacamata, terutama kelompok rentan. Warga juga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak memiliki keperluan mendesak.

“Memang disarankan untuk tetap memakai masker kalau berkegiatan di luar rumah. Kalau tidak penting tidak usah keluar rumah,” ungkap Suwarso.

Menurutnya, kualitas udara di Samarinda turut dipengaruhi arah angin dan kondisi kebakaran lahan di wilayah kota maupun daerah sekitarnya. Apabila frekuensi kebakaran meningkat, kualitas udara berpotensi ikut menurun.

Sejumlah wilayah yang dinilai perlu mendapat perhatian karena memiliki frekuensi kejadian kebakaran cukup tinggi di antaranya Kecamatan Palaran, Sambutan, dan Samarinda Ulu.

Suwarso menjelaskan, kondisi kualitas udara dapat berubah setiap jam. Waktu yang dinilai cukup rawan berada pada siang hingga sore hari, mengingat kebakaran lahan umumnya terjadi sejak siang hingga malam dan dapat memengaruhi kualitas udara.

“Kalau secara umum masih sedang. Itu per jam juga berubah, yang agak rawan itu di jam dua siang dan sore,” jelasnya.

Ia menambahkan, kondisi kabut saat ini hampir dirasakan di sejumlah wilayah Samarinda. Kebakaran lahan yang masih terjadi juga dapat memengaruhi kualitas udara di masing-masing kecamatan.

Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, DLH telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kota Samarinda. Pemantauan dan pengobatan terhadap warga yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga disiapkan melalui puskesmas.

DLH juga rutin melakukan pengukuran kualitas udara yang disertai pembagian masker. Pembagian masker diprioritaskan bagi wilayah dengan frekuensi kebakaran tinggi atau lokasi yang berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan kualitas udara sedang dan mendekati buruk.

Selain langkah pemerintah, Suwarso mengapresiasi mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker ketika berada di tempat terbuka, khususnya saat berkendara.

“Pembagian masker dari DLH diutamakan di daerah yang frekuensi kebakarannya tinggi atau diduga menurut hasil pengamatan kualitas udaranya sudah sedang mendekati buruk, jadi berdasarkan skala prioritas,” pungkasnya.