Pekerjaan Teras Samarinda II Segmen 1 Dihentikan Sementara karena Turap Longsor

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kawasan turap longsor yang terjadi di sekitar Teras Samarinda, Jumat (4/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kawasan turap longsor yang terjadi di sekitar Teras Samarinda, Jumat (4/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pekerjaan Teras Samarinda II Segmen 1 Dihentikan Sementara karena Turap Longsor

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kawasan turap longsor yang terjadi di sekitar Teras Samarinda, Jumat (4/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kawasan turap longsor yang terjadi di sekitar Teras Samarinda, Jumat (4/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Pekerjaan Teras Samarinda II Segmen 1 Dihentikan Sementara karena Turap Longsor

Kawasan turap longsor yang terjadi di sekitar Teras Samarinda, Jumat (4/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Pekerjaan pembangunan Teras Samarinda tahap II segmen 1 dihentikan sementara setelah ditemukan potensi longsor pada turap di kawasan antara Teras Samarinda tahap I dan tahap II.

Penghentian dilakukan pada area sekitar 50 meter di sisi kiri dan kanan lokasi pergerakan tanah. Langkah tersebut diambil untuk mengantisipasi longsoran meluas dan memastikan pekerjaan tidak menimbulkan dampak yang lebih besar.

Asisten II Sekretariat Kota Samarinda, Marnabas Patiroy mengatakan pergerakan pada turap dipengaruhi kondisi konstruksi yang telah berusia hampir 30 tahun serta cuaca kemarau.

“Itu ada pergerakan karena memang sudah hampir 30 tahun turapnya. Apalagi sekarang kemarau, turun-turun, itu berpengaruh terhadap kondisi kekuatan turapnya,” ujar Marnabas, Kamis (3/9/2026).

Marnabas menyebut Pemkot Samarinda telah melakukan rapat bersama Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk membahas kondisi tersebut.

Tim juga telah turun ke lokasi guna melihat langsung potensi dampak dan langkah penanganan yang diperlukan.

Sebagai antisipasi awal, bagian turap yang mengalami pergerakan ditutup menggunakan terpal. Penutupan dilakukan untuk mencegah air hujan masuk ke celah longsoran dan memperbesar pergerakan tanah.

Selain itu, Pemkot melakukan pembatasan kendaraan yang melintas di sekitar lokasi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga telah turun ke lapangan. Sejumlah pohon di sekitar lokasi ditebang agar tidak menambah beban pada turap.

“Insyaallah dalam waktu dekat kita lakukan mitigasi supaya tidak terjadi lebarnya longsoran itu,” katanya.

Pemkot juga mendatangkan ahli dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) untuk mengkaji penyebab pergerakan turap.

Kajian tersebut akan melihat kemungkinan pengaruh faktor alam maupun faktor manusia, termasuk apakah pekerjaan Teras Samarinda tahap II segmen 1 ikut memengaruhi kondisi turap meski lokasinya disebut berada cukup jauh.

Marnabas mengatakan masukan dari berbagai pihak menjadi bahan pertimbangan dalam penanganan.

“Kita juga minta diteliti apakah pengaruh itu, walaupun jauh dari situ. Tapi kan faktor alam atau faktor manusianya. Jadi dua faktor perencanaan kita lakukan,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika hasil kajian menunjukkan pergerakan disebabkan faktor alam dan kondisi cuaca, maka Pemkot akan segera melakukan perbaikan.

Namun, penanganan jangka pendek tetap harus dilakukan sembari menunggu kajian jangka panjang. Sebab, longsoran tersebut berpotensi berdampak pada beberapa fasilitas di sekitar lokasi, mulai dari badan jalan, sungai, pipa Perumdam, hingga kawasan Teras Samarinda itu sendiri.

“Bisa melebar kiri kanan kena dampaknya teras, yang kedua bisa berdampak ke sungainya karena di situ juga ada pipa Perumdam, kemudian berdampak ke jalan nasional. Jadi semua kita mitigasi,” ujarnya.

Marnabas mengatakan pekerjaan Teras Samarinda tahap II segmen 1 untuk sementara dihentikan di sekitar lokasi hingga kajian dan langkah mitigasi dilakukan. Penghentian tersebut juga menjadi upaya untuk mencegah risiko yang tidak diinginkan.

“Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, kami sarankan sementara dihentikan,” pungkasnya.