Banner ADV

Kemarau Panjang Uji Ketahanan Pangan Berau, Stok 41 Ton Jadi Penyangga hingga Akhir Tahun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sekertaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Sekertaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Panjang Uji Ketahanan Pangan Berau, Stok 41 Ton Jadi Penyangga hingga Akhir Tahun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Sekertaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Sekertaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Panjang Uji Ketahanan Pangan Berau, Stok 41 Ton Jadi Penyangga hingga Akhir Tahun

Sekertaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Berau mulai menguji ketahanan sektor pangan. Minimnya ketersediaan air tak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas produksi pertanian, hortikultura hingga peternakan.

Di tengah kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memastikan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan pangan. Dinas Pangan Berau masih memiliki cadangan pangan sekitar 41 ton yang berasal dari stok tahun sebelumnya.

Sekretaris Dinas Pangan Berau, Dewi Rosita, mengatakan cadangan tersebut diproyeksikan menjadi salah satu penyangga kebutuhan masyarakat hingga penghujung 2026. Pemerintah juga tetap menyiapkan langkah tambahan apabila kondisi kemarau semakin panjang dan berdampak terhadap produksi pangan daerah.

“Cadangan pangan masih aman hingga akhir tahun,” ujarnya. Meski stok relatif terkendali, ancaman justru muncul dari sisi produksi. Keterbatasan air mulai dirasakan petani, terutama pada komoditas yang sangat bergantung terhadap pasokan air.

Padi dan sayuran menjadi sektor yang mendapat perhatian karena penurunan ketersediaan air berpotensi memengaruhi hasil panen.

Dampak kemarau juga tidak berhenti di lahan pertanian. Sektor hortikultura dan peternakan turut menghadapi persoalan serupa karena sumber air yang semakin terbatas. Kondisi ini membuat pemerintah harus menyiapkan langkah antisipasi sebelum gangguan produksi berkembang menjadi persoalan pasokan.

Untuk memperkuat cadangan, Dinas Pangan Berau juga menyiapkan pengadaan pangan sekitar satu ton pada 2026. Selain menjaga stok, pemerintah membentuk tim yang bertugas memastikan distribusi pangan tetap berjalan, terutama menuju wilayah pedalaman, pesisir dan kawasan yang berpotensi mengalami kerawanan pangan.

Intervensi juga dilakukan dari sisi daya beli masyarakat. Sepanjang 2026, program pangan murah telah digelar sebanyak 17 kali. Kegiatan tersebut menyasar masyarakat sekaligus dapat menjadi instrumen bantuan bagi kelompok yang terdampak bencana maupun petani yang mengalami gagal panen.

Namun, ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada seberapa banyak stok yang tersimpan. Dinas Pangan juga mendorong masyarakat mengubah pola konsumsi dengan memperkuat pemanfaatan pangan lokal melalui edukasi Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA).

Sosialisasi tersebut menyasar masyarakat hingga lingkungan sekolah. Pemerintah ingin konsumsi pangan lokal semakin berkembang sekaligus memastikan masyarakat memahami pentingnya pemenuhan kebutuhan pangan yang sehat dan beragam.

Upaya menekan potensi pemborosan pangan juga terus digencarkan melalui kampanye stop boros pangan. Edukasi ini menyasar berbagai kelompok, mulai dari sekolah, rumah makan, hotel hingga masyarakat umum.

Di sisi lain, Pemkab Berau mulai menyiapkan strategi jangka panjang dengan menyasar persoalan regenerasi petani. Melalui inovasi Petarung Pangan, generasi milenial dan Gen Z didorong untuk melihat sektor pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi juga sebagai peluang usaha.

Salah satu pendekatan yang dikenalkan adalah budidaya hortikultura menggunakan sistem hidroponik. Metode ini dinilai relevan di tengah keterbatasan air karena kebutuhan air dapat dikelola lebih efisien dibandingkan metode budidaya konvensional.

“Petarung Pangan kami siapkan untuk mencetak regenerasi petani dan membuka lapangan kerja,” kata Dewi.

Dengan strategi tersebut, pemerintah tidak hanya berupaya menjaga pangan Berau tetap tersedia di tengah tekanan kemarau, tetapi juga membangun fondasi agar sektor pertanian memiliki generasi penerus. Ketahanan pangan pun diarahkan tidak sekadar bertahan menghadapi krisis, melainkan mampu tumbuh melalui keterlibatan generasi muda. (Adv)