Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Edukasi kesiapsiagaan bencana di Kutim mulai diperluas dari lingkungan sekolah hingga fasilitas kesehatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim menjalankan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan menyiapkan konsep Rumah Sakit Aman Bencana.
Program SPAB menjadi salah satu agenda BPBD Kutim pada 2026 dengan sasaran satuan pendidikan, mulai sekolah dasar (SD) hingga sekolah menengah pertama (SMP).
Kegiatan dilakukan melalui sosialisasi dan simulasi yang melibatkan siswa, guru, serta kepala sekolah.
Kepala Pelaksana BPBD Kutim, Sulastin mengataka, simulasi diperlukan agar warga sekolah tidak hanya memahami teori, tetapi mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
“Kita simulasi sosialisasi, jadi kalau sampai ada kejadian apa-apa mereka sudah tahu,” kata Sulastin.
Menurut Sulastin, materi SPAB meliputi pengenalan jenis bencana, deteksi dini, penanganan awal, penggunaan peralatan penyelamatan, hingga prosedur evakuasi.
Warga sekolah juga diarahkan mengenali titik kumpul dan jalur evakuasi di lingkungan masing-masing.
SPAB telah dilaksanakan antara lain di SD Negeri 009 Kecamatan Muara Wahau dan SMP Negeri 1 Kecamatan Kongbeng.
Sulastin menilai edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak usia dini dan tidak berhenti pada jenjang SD dan SMP.
Program serupa, kata dia, dapat diterapkan mulai taman kanak-kanak (TK) hingga perguruan tinggi.
Menurutnya, pengenalan kebencanaan sejak dini dapat membentuk kebiasaan anak dalam menghadapi kondisi darurat. Pengetahuan yang diperoleh juga diharapkan dapat diteruskan kepada keluarga di rumah.
Pendekatan edukasi disesuaikan dengan usia peserta. Untuk anak TK, misalnya, BPBD menggunakan bahasa dan metode yang lebih mudah dipahami anak.
“Anak TK itu lebih percaya bundanya daripada orang tuanya. Kata bunda begini, nah itu,” ujar Sulastin.
Selain sektor pendidikan, BPBD Kutim mulai menyiapkan program Rumah Sakit Aman Bencana.
Konsep tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan menghadapi situasi darurat, termasuk kesiapan tenaga medis dan prosedur evakuasi pasien.
“Di sektor kesehatan juga sedang kita siapkan Rumah Sakit Aman Bencana, termasuk bagaimana tenaga medis bertindak dan mengevakuasi pasien saat terjadi bencana,” jelasnya.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas kesiapsiagaan bencana ke berbagai lingkungan yang memiliki risiko dan kebutuhan penanganan berbeda.
Di sekolah, kesiapsiagaan diarahkan pada pemahaman jalur evakuasi, titik kumpul, serta tindakan saat keadaan darurat.
Sementara di rumah sakit, kesiapan juga mencakup mekanisme penanganan dan evakuasi pasien yang membutuhkan perlakuan khusus.
BPBD menilai kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum bencana terjadi. Karena itu, edukasi, simulasi, dan pemahaman terhadap prosedur evakuasi menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat menghadapi kondisi darurat.


