Karhutla Muara Muntai Dinyatakan Zero Setelah Hampir Sebulan Ditangani

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi. Upaya pemadaman karhutla di Kukar (Foto: Damkar Kukar)
Ilustrasi. Upaya pemadaman karhutla di Kukar (Foto: Damkar Kukar)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Karhutla Muara Muntai Dinyatakan Zero Setelah Hampir Sebulan Ditangani

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Ilustrasi. Upaya pemadaman karhutla di Kukar (Foto: Damkar Kukar)
Ilustrasi. Upaya pemadaman karhutla di Kukar (Foto: Damkar Kukar)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Karhutla Muara Muntai Dinyatakan Zero Setelah Hampir Sebulan Ditangani

Ilustrasi. Upaya pemadaman karhutla di Kukar (Foto: Damkar Kukar)

Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

TENGGARONG - Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) yang melanda Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) akhirnya dinyatakan padam total.

Penanganan kebakaran yang berlangsung sejak sekitar 8-9 Agustus 2026 itu membutuhkan waktu hampir satu bulan. Sejumlah titik api sempat menjadi kendala karena berada di area yang sulit dijangkau petugas.

Camat Muara Muntai, Mulyadi mengatakan seluruh titik yang sebelumnya menjadi perhatian kini telah berhasil ditangani, tidak lagi ditemukan api maupun asap di kawasan utama yang terbakar.

“Alhamdulillah, semuanya sudah tertangani. Kondisinya sudah zero,” kata Mulyadi, Senin (7/9/2026)

Menurut Mulyadi, kondisi lahan menjadi salah satu faktor yang membuat proses pemadaman berlangsung cukup lama.

Sebagian kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai lebih dari dua meter.

Karakteristik tersebut membuat api sulit dijangkau karena dapat merambat dan bertahan di bawah permukaan tanah. Petugas pun membutuhkan peralatan yang mampu menjangkau area dengan jarak cukup jauh.

Mulyadi mengapresiasi dukungan dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar dalam proses penanganan karhutla tersebut.

Bantuan personel dan peralatan dinilai sangat membantu, terutama untuk menjangkau titik api yang lokasinya jauh dan sulit ditangani menggunakan sarana yang tersedia di tingkat kecamatan.

“Kita bersyukur, Alhamdulillah kemarin mendapat bantuan dari teman-teman Damkar. Damkar memiliki peralatan yang cukup lengkap untuk menjangkau titik-titik yang sulit,” tuturnya.

Meski kebakaran telah berhasil dipadamkan, Mulyadi menilai masih terdapat kebutuhan terhadap sarana pendukung penanganan karhutla. Salah satunya peralatan dengan kemampuan jangkauan lebih panjang.

Ia menjelaskan, penanganan relatif mudah dilakukan apabila lokasi kebakaran berada tidak jauh dari sumber air. Tapi kondisi menjadi lebih sulit ketika titik api berada ratusan meter dari sumber air.

“Kita perlukan sebenarnya adalah peralatan yang memiliki jangkauan lebih jauh. Intinya, kalau tidak ada peralatan yang memadai, kita juga bisa putus asa,” katanya.

Kepala Disdamkarmatan Kukar Fida Hurasani turut memastikan kawasan karhutla di Muara Muntai yang sebelumnya menjadi perhatian telah padam sepenuhnya.

Namun, status zero tidak serta-merta membuat petugas menghentikan pemantauan. Tim kembali diterjunkan untuk memastikan tidak terdapat titik panas yang berpotensi memicu kebakaran kembali.

Dua tim yang sebelumnya melakukan penanganan di lapangan kembali melakukan pengecekan. Pemantauan juga dilakukan menggunakan drone, terutama pada malam hari karena titik api lebih mudah terlihat melalui pemantauan udara.

“Mereka kembali lagi melihat pantauan dari drone apakah masih ada titik merah. Kalau malam lebih jelas lagi titik apinya. Mudah-mudahan malam ini tidak ada,” ujar Fida.

Fida menuturkan, salah satu tantangan selama proses pemadaman adalah jauhnya jarak antara sumber air dengan lokasi kebakaran.

Bahkan, dalam salah satu penanganan, petugas harus menggelar selang hingga sekitar 600 meter dari sumber air menuju titik api.

“Jaraknya tadi dari titik air kita itu kurang lebih 600 meter. Kita masuk, jadi selang kita itu 600 meter. Kita gelar peralatan,” jelasnya.

Menurut Fida, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya perencanaan sebelum melakukan penanganan karhutla. Petugas tidak bisa hanya mengandalkan perkiraan ketika menentukan pola pemadaman.

Koordinat titik api, jarak sumber air, akses menuju lokasi, kebutuhan selang hingga kemampuan peralatan harus dihitung terlebih dahulu.

Pasalnya, titik api dapat terus bergerak. Jika penanganan tidak dilakukan secara tepat, api berpotensi menjalar semakin jauh dan memperluas area yang harus ditangani.

“Jadi tidak boleh kira-kira. Makanya kekuatan surplus kita harus kita hitung benar-benar. Jangan sampai ke lapangan main kita itu tidak tuntas,” tegasnya.

Ia menambahkan, penanganan yang tidak tuntas justru dapat menimbulkan persoalan baru. Api yang masih tersisa di dalam lahan berpotensi kembali muncul dan menjalar ke area lain.

Karena itu, pemetaan menjadi salah satu tahapan penting sebelum petugas melakukan penanganan. Tim perlu memastikan lokasi titik api sekaligus mengetahui status wilayah yang terbakar.

“Yang penting pemetaan dulu. Itu wilayah siapa, atau dia konsesi, atau dia berdekatan dengan penduduk atau pemukiman. Yang penting kita jelas,” pungkasnya.