Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Daun pandan yang selama ini identik dengan bahan kerajinan tradisional mulai diarahkan menjadi produk bernilai ekonomi di Kabupaten Berau.
Pemerintah daerah kini tidak hanya mendorong perajin untuk bisa membuat produk, tetapi juga memastikan hasil karya mereka memiliki bentuk yang menarik dan mampu menembus pasar.
Langkah itu dilakukan melalui pendampingan lanjutan bagi sekitar 15 perajin daun pandan di Kampung Sei Bebanir Bangun, Kecamatan Sambaliung.
Pembinaan berlangsung selama tiga hari dan menjadi kelanjutan dari pelatihan yang sebelumnya digelar melalui kolaborasi Dekranasda Berau bersama PT Pama Persada Nusantara.
Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau, Eva Yunita mengatakan arah pembinaan kini lebih ditekankan pada pengembangan produk yang memiliki peluang pasar.
Artinya, kata dia, perajin tidak cukup hanya mampu menghasilkan kerajinan. Produk yang dibuat juga harus menjawab kebutuhan konsumen dan memiliki nilai jual.
“Fokusnya produk daun pandan yang bisa diterima pasar, misalnya tas dan lainnya,” ujarnya.
Sejumlah inovasi pun mulai dikembangkan. Selain tas, para perajin mencoba membuat cover buku kerja yang nantinya diarahkan untuk dipasarkan ke lingkungan perkantoran, baik pemerintah maupun swasta.
Produk lainnya berupa kopiah juga mulai dikembangkan untuk memperluas segmen konsumen.
Menurut Eva, variasi produk menjadi bagian penting agar kerajinan berbahan pandan tidak berhenti sebagai produk rumahan dengan pasar terbatas.
Semakin beragam produk yang dihasilkan, semakin besar pula peluang perajin menjangkau konsumen dari berbagai kebutuhan.
Sebab itu, Dekranasda Berau bersama Diskoperindag turut melakukan monitoring dan pendampingan selama proses pengembangan berlangsung.
Pembinaan tersebut juga tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Para perajin akan terus didampingi hingga mampu menghasilkan produk dengan kualitas yang lebih baik dan memenuhi standar kelayakan jual.
“Para perajin terus didampingi sampai benar-benar sudah mahir dan hasil kerajinannya layak jual,” kata Eva.
Pendampingan ini sekaligus menjadi upaya untuk mengubah pola pengembangan kerajinan lokal. Produk berbahan pandan tidak lagi hanya dipandang sebagai kerajinan tradisional, tetapi diarahkan menjadi bagian dari potensi ekonomi kreatif yang memiliki pasar lebih luas.
Dukungan pembinaan tersebut dibiayai sepenuhnya oleh pihak ketiga. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjaga keberlanjutan proses pendampingan sehingga perajin tidak kehilangan arah setelah mengikuti pelatihan.
Jika kualitas, desain dan pemasaran terus diperkuat, kerajinan pandan dari Sei Bebanir Bangun berpeluang menjadi salah satu produk lokal Berau yang tidak hanya dikenal karena proses pembuatannya, tetapi juga karena nilai ekonominya. (Adv)



