Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Pemerintah Kota (Pemkot) mulai melakukan penyesuaian pelayanan air bersih kepada masyarakat di tengah kondisi kemarau panjang yang disertai fenomena El Nino.
Ini terungkap dalam press release perkembangan kondisi kekeringan akibat dampak El Nino di Kota Balikpapan yang digelar di Balaikota, Senin (7/9/2026).
Direktur Teknik Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB), Mohamad Kohiruddin mengatakan, pengurangan jam pelayanan tersebut terjadi setelah PTMB mendapat instruksi dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV di Samarinda untuk mengurangi pengambilan air baku dari Waduk Manggar dan Waduk Teritip.
Instruksi tersebut mulai berlaku sejak 1 September 2026. Di Waduk Manggar, pengambilan air baku yang sebelumnya mencapai 1.150 liter per detik harus dikurangi menjadi 900 liter per detik. Artinya, terjadi pengurangan sebesar 250 liter per detik.
Sementara di Waduk Teritip, pengambilan air baku turun dari 220 liter per detik menjadi 110 liter per detik atau berkurang 110 liter per detik. "Kalau diakumulasi dari dua sumber air baku tersebut sekitar 360 liter per detik," kata Kohiruddin.
Menurutnya, berkurangnya pasokan air baku tersebut berdampak terhadap jam pelayanan air bersih masyarakat.
Berdasarkan data dan analisis PTMB, sekitar 38 ribu sambungan rumah akan mengalami gangguan jam pelayanan.
Namun, Kohiruddin menegaskan gangguan tersebut bukan berarti pelanggan tidak mendapatkan air sama sekali.
"Ini bukan berarti mati sama sekali, tapi jam pelayanannya berkurang. Yang mungkin awalnya bisa 24 jam, bisa turun kurang dari 24 jam," jelasnya.
Untuk itu, masyarakat diminta tidak panik dan mulai menyiapkan tempat penampungan air. Air dapat ditampung ketika aliran kembali tersedia untuk memenuhi kebutuhan selama pelayanan mengalami gangguan.
"Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk bisa menyiapkan tampungan air. Pada saat air mengalir, bisa mengisi tampungan," ujarnya.
PTMB juga berupaya melakukan pemerataan distribusi air untuk mengurangi dampak gangguan pelayanan. Selain itu, sejumlah langkah mitigasi disiapkan, salah satunya melalui penyediaan terminal tangki air.
Kohiruddin mengaku terdapat tiga terminal tangki yang disiapkan PTMB, masing-masing berada di Balikpapan Barat, Balikpapan Selatan dan Balikpapan Utara. Wilayah Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur akan mendapat dukungan dari terminal tangki di Jalan MT Haryono, tepatnya di depan kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil).
Sementara terminal di Balikpapan Utara akan melayani sebagian wilayah Balikpapan Utara dan Balikpapan Tengah. Adapun terminal di Balikpapan Barat difokuskan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
"Ini upaya-upaya yang kita lakukan supaya air masih bisa diakses oleh masyarakat Kota Balikpapan," tuturnya. Kondisi wilayah Balikpapan Timur menjadi perhatian khusus karena terjadi penurunan kapasitas pengambilan air hingga sekitar 50 persen di Waduk Teritip.
PTMB akan memaksimalkan terminal tangki di kawasan Jalan MT Haryono untuk mendukung pelayanan di wilayah Balikpapan Selatan dan Balikpapan Timur.
Direktur Operasional PTMB, Ali Rahman menambahkan, dari sembilan instalasi pengolahan air (IPA) yang dimiliki PTMB, terdapat dua IPA yang mengalami gangguan akibat berkurangnya pasokan air baku.
Pertama, IPA Teritip yang biasanya mampu mengolah sekitar 200 hingga 220 liter per detik kini hanya dapat beroperasi pada kapasitas sekitar 100 hingga 110 liter per detik.
Kemudian IPA Km 12 yang biasanya mampu mengolah sekitar 80 hingga 100 liter per detik kini tidak dapat beroperasi secara penuh dan hanya memungkinkan beroperasi pada sore atau malam hari.
"Untuk pelayanan di dua IPA tersebut, mohon maaf, kami hanya bisa melayani mungkin tidak maksimal 24 jam. Tapi masyarakat tetap akan mendapatkan air, cuma belum secara optimal seperti biasanya," kata Ali.
Sementara tujuh IPA lainnya masih beroperasi seperti biasa. Jika terdapat gangguan seperti kebocoran, PTMB akan segera melakukan perbaikan.
Sebagai solusi jangka pendek menghadapi kekeringan, PTMB juga menyiapkan 17 unit truk tangki untuk mendistribusikan air kepada masyarakat melalui layanan nonperpipaan.
Ali mengatakan, 17 truk tersebut dibagi ke dalam tiga titik pelayanan. Setiap unit truk dapat melakukan hingga lima kali perjalanan pengantaran dalam sehari, tergantung jarak dan kondisi akses menuju lokasi.
"Kalau sehari, satu unit itu bisa sampai lima ret," ujarnya.
Setiap truk memiliki kapasitas 5.000 liter atau lima meter kubik air.
Untuk pelanggan PTMB, tarif yang dikenakan sebesar Rp50 ribu per tangki berdasarkan Perwali tahun 2014. Padahal, biaya transportasi untuk satu tangki mencapai Rp250 ribu.
Dengan demikian, PTMB memberikan subsidi sekitar Rp200 ribu untuk setiap tangki yang diterima pelanggan.
"Ini sebagai tanggung jawab Perumda bisa memberikan air kepada masyarakat Kota Balikpapan yang statusnya sebagai pelanggan," jelasnya.
Ali mengakui permintaan air tangki saat ini cukup tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian masyarakat harus menunggu untuk mendapatkan pelayanan.
"Permintaannya cukup tinggi, mengingat hampir dua bulan ini tidak ada hujan. Jadi memang masyarakat sangat bergantung sekali dengan air tangki seperti itu," katanya.
PTMB juga mengingatkan masyarakat untuk menggunakan air secara bijaksana.
Berdasarkan rapat terakhir bersama BMKG pada Jumat (4/9/2026), kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026.
Karena itu, masyarakat diminta tidak menggunakan air secara berlebihan agar ketersediaan air baku tetap terjaga.
"Kita bisa menjaga konsumsi air ini, jangan terlalu berlebihan. Bijaksana menggunakan air, sehingga sampai dengan Oktober nanti kita masih punya air yang cukup," kata Kohiruddin.
Terkait hujan yang terjadi di Balikpapan pada Senin, Ali mengatakan pihaknya belum dapat memastikan apakah kondisi tersebut menjadi tanda berakhirnya musim kemarau.
Menurutnya, informasi mengenai kondisi cuaca secara lebih detail merupakan kewenangan BMKG. Sementara PTMB lebih berfokus memantau ketersediaan air di waduk sebagai sumber air baku.
"Kami 'kan hanya tahunya ada air di waduk. Kita juga tidak tahu apakah di utara di Waduk Manggar atau di Teritip di Balikpapan Timur ada hujan," ujarnya.
PTMB saat ini juga masih menunggu surat keterangan kondisi darurat dari Wali Kota Balikpapan.
Surat tersebut diharapkan dapat memperkuat langkah mitigasi yang dilakukan PTMB untuk menghadapi dampak kekeringan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah bersama PTMB mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air dan memanfaatkan air secara bijaksana selama musim kemarau masih berlangsung.


