Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan
NUNUKAN – Keterbatasan akses dan tingginya biaya logistik di wilayah perbatasan mendorong Kelompok Tani Hutan (KTH) Mas Muda Desa Buduk Tumu, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, mencari alternatif pakan ikan yang dapat diproduksi secara mandiri.
Kelompok yang berdiri sejak 2023 tersebut mulai mengembangkan maggot Black Soldier Fly (BSF) dan Lemna atau duckweed sebagai bahan baku alternatif pakan ikan. Upaya itu dilakukan setelah anggota kelompok mengikuti pelatihan pembuatan pakan ikan berbahan baku lokal yang digelar Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM).
Ketua KTH Mas Muda, Novri, mengatakan kebutuhan pakan menjadi salah satu tantangan utama dalam usaha budidaya ikan yang mereka jalankan. Dalam sebulan, kelompoknya dapat menghabiskan sekitar 20 karung pakan pabrikan.
“Pakan pabrikan sangat berpengaruh karena harganya semakin mahal,” ujar Novri, Senin (7/9/2026).
Saat ini, KTH Mas Muda membudidayakan ikan mas, nila dan lele jumbo. Dalam satu kali panen, produksi ikan mencapai sekitar 50 kilogram yang kemudian dipasarkan dari rumah ke rumah serta melalui kios pedagang daging ayam dan ikan.
Melalui pelatihan yang digelar Balai TNKM, anggota kelompok diperkenalkan pada pemanfaatan maggot BSF dan Lemna sebagai sumber bahan baku pakan ikan.
Pelatihan tersebut menghadirkan Prof Ir Ramadhani Eka Putra, Guru Besar Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) Institut Teknologi Bandung (ITB).
Selain mendapatkan pemahaman mengenai kebutuhan nutrisi ikan, peserta juga diajak mengidentifikasi potensi bahan baku lokal yang tersedia di Desa Buduk Tumu. Mereka kemudian mempraktikkan proses pembuatan pakan, mulai dari menghitung komposisi bahan, menyiapkan dan menimbang bahan baku, mencampur adonan, mencetak, hingga mengeringkan dan menyimpan pakan.
Novri menyambut baik pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan tersebut. Ia mengaku materi mengenai budidaya maggot menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi anggota kelompok.
“Kami bersyukur karena dari pelatihan ini kami dapat memahami bagaimana membudidayakan maggot secara bertahap,” katanya.
Ia berharap pengembangan maggot dan Lemna dapat dilanjutkan hingga menjadi bahan baku pelet ikan sehingga ketergantungan terhadap pakan pabrikan dapat dikurangi.
“Ini yang sangat dibutuhkan sekali bagi kelompok sekarang ini untuk membuat pakan mandiri,” ungkapnya.
Novri juga berharap pendampingan dari Balai TNKM dapat terus berlanjut, khususnya dalam pengembangan maggot hingga pembuatan pelet ikan.
“Supaya kegiatan ini ke depan ada kelanjutannya, yaitu pembuatan pelet dari bahan maggot,” harapnya.
Sebagai langkah awal, Balai TNKM telah memberikan bibit maggot dan Lemna serta kandang jaring untuk indukan lalat BSF. Dukungan tersebut diharapkan menjadi modal awal bagi kelompok untuk mengembangkan sumber bahan pakan alternatif di tingkat desa.
Kepala Balai TN Kayan Mentarang, Seno Pramudito, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen Balai TNKM dalam mendampingi masyarakat di kawasan penyangga taman nasional.
“Pelatihan ini merupakan salah satu bentuk komitmen kami mendampingi masyarakat di kawasan penyangga, khususnya kelompok binaan seperti KTH Mas Muda, agar dapat mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar secara mandiri dan berkelanjutan,” kata Seno.
Ia berharap kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk ITB, dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat sekaligus mendukung pengelolaan kawasan taman nasional secara berkelanjutan.
“Kami berharap kolaborasi dengan berbagai pihak seperti ITB dapat terus berlanjut, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap sumber daya di dalam kawasan taman nasional,” pungkasnya.


