DPRD Berau Desak Pertamina Siapkan Jalur Darurat, Antrean BBM Jangan Terulang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
RDP DPRD Berau bersama pihak Pteramina terkait persoalan BBM. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
RDP DPRD Berau bersama pihak Pteramina terkait persoalan BBM. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Berau Desak Pertamina Siapkan Jalur Darurat, Antrean BBM Jangan Terulang

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
RDP DPRD Berau bersama pihak Pteramina terkait persoalan BBM. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
RDP DPRD Berau bersama pihak Pteramina terkait persoalan BBM. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Berau Desak Pertamina Siapkan Jalur Darurat, Antrean BBM Jangan Terulang

RDP DPRD Berau bersama pihak Pteramina terkait persoalan BBM. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Antrean panjang di sejumlah SPBU Kabupaten Berau pada akhir Agustus menjadi alarm bagi pemerintah dan Pertamina. 

Gangguan distribusi yang sempat membuat masyarakat kesulitan mendapatkan BBM kini mendorong DPRD Berau meminta adanya pola penanganan yang lebih cepat ketika pasokan utama kembali tersendat.

Persoalan tersebut dibawa ke meja pembahasan melalui rapat dengar pendapat (RDP) yang digelar DPRD Berau bersama Pertamina, Pemkab Berau dan perwakilan masyarakat.

Bagi legislatif, persoalan BBM tidak cukup diselesaikan setelah terjadi kelangkaan. Jalur distribusi harus memiliki skenario cadangan, sehingga kebutuhan masyarakat tetap dapat dipenuhi ketika pengiriman dari luar daerah mengalami hambatan.

Ketua DPRD Berau, Dedy Okto Nooryanto, menilai keterlambatan pasokan harus menjadi bahan evaluasi. Salah satu perhatian utama ialah memastikan stok yang tersedia di terminal penyangga dapat segera dimanfaatkan ketika pengiriman reguler terganggu.

“Perlu kita dorong adalah bagaimana ketika distribusi terkendala, cadangan yang ada bisa segera dimaksimalkan agar masyarakat tidak kembali menghadapi antrean panjang,” ujarnya.

Gangguan yang terjadi sebelumnya diketahui berkaitan dengan keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Balikpapan.

Faktor cuaca menjadi salah satu kendala, ditambah kondisi alur Sungai Segah yang sempat terganggu akibat kapal pengangkut batu bara mengalami kandas.

Fuel Terminal Manager Tarakan, Hario Somapangestu, menjelaskan kondisi tersebut berdampak pada jadwal kedatangan pasokan menuju Berau.

Namun, Pertamina memastikan proses pengiriman tetap berada dalam pemantauan. Pergerakan kapal dipantau menggunakan sistem GPS sehingga perjalanan armada dapat diketahui secara berkala.

Pertamina juga menepis dugaan adanya penghentian kapal ataupun praktik kecurangan dalam proses pengiriman. Data perjalanan kapal serta dokumen pembongkaran menjadi bagian dari mekanisme pengawasan distribusi.

Ketika jalur Balikpapan terganggu, Pertamina menjalankan skema pasokan alternatif. Salah satunya melalui pengiriman dari Terminal BBM Samarinda menggunakan mobil tangki.

Hanya saja, opsi tersebut memiliki kendala tersendiri. Jarak Samarinda–Berau membuat perjalanan darat membutuhkan waktu sekitar 30 jam dan kapasitas mobil tangki tidak cukup untuk menggantikan pasokan dalam volume besar.

Karena itu, Pertamina kemudian mengambil langkah lain dengan mendatangkan BBM melalui jalur laut dari Tarakan. Skema tersebut digunakan untuk menutup kekurangan pasokan di Berau.

“Untuk mengatasi kekurangan itu, kami mengambil pasokan alternatif melalui pengiriman kapal dari Tarakan,” kata Hario.

Pertamina menyebut kondisi stok di SPBU Berau pada awal September kembali aman. Pasokan juga kembali diperkuat dengan kedatangan kapal dari Balikpapan yang dijadwalkan pada Senin (7/9/2026).

Meski stok mulai normal, DPRD Berau meminta persoalan ini tidak berhenti pada pemulihan pasokan. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat pengawasan distribusi, terutama BBM bersubsidi, agar penyalurannya tepat sasaran.

Bagi masyarakat, ketersediaan BBM bukan sekadar persoalan jumlah kuota. Ketika distribusi terhambat, stok yang secara hitungan mencukupi tetap bisa berubah menjadi antrean panjang di lapangan.

Karena itu, keberadaan jalur pasokan alternatif dan respons cepat ketika terjadi gangguan menjadi hal penting agar persoalan serupa tidak kembali berulang.