Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII mendorong lahirnya eksportir baru dari Kalimantan Timur (Kaltim) melalui program Diklat Pemberdayaan Masyarakat (DPM) Digital Logistic for Export.
Program yang bekerja sama dengan Politeknik Penerbangan Indonesia (PPI) Curug tersebut direncanakan mulai dilaksanakan pada 21 September 2026 dengan sekitar 50 peserta.
Kepala Kantor Otban Wilayah VII, Ferdinan Nurdin mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap percepatan peningkatan ekspor nonmigas dan nonbatubara di Kaltim.
"Kegiatan ini merupakan dukungan kami terhadap pelaksanaan tugas Satgas Percepatan Peningkatan Ekspor Nonmigas Nonbatubara Kaltim," ujar Ferdinan dalam keterangannya, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai proses ekspor, tetapi juga mempertemukan pemerintah, regulator, pelaku logistik, eksportir dan calon eksportir untuk membangun ekosistem ekspor yang lebih terintegrasi.
Penguatan ekosistem logistik juga dilakukan melalui National Logistics Ecosystem (NLE) yang telah berjalan di wilayah Balikpapan.
"Kami berharap penguatan NLE yang sudah berjalan di Balikpapan dapat terus dikembangkan dan direplikasi di bandar udara lain di wilayah kerja Otban Wilayah VII," katanya.
Rapat persiapan kegiatan tersebut turut dihadiri Dinas Perhubungan Kaltim, Bea Cukai, Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (BBKHIT) Kaltim, BPPMHKP Kaltim, pengelola Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan, UPBU APT Pranoto Samarinda, UPBU Kalimarau Berau, asosiasi logistik, perusahaan logistik, eksportir serta pelaku usaha dari Balikpapan, Samarinda dan Berau.
Royan Saputra dari Dinas Perhubungan Kaltim mengatakan program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah daerah mempersiapkan transformasi ekonomi Kaltim 2026-2030.
"Transformasi ekonomi Kaltim perlu didukung dengan memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi di luar migas dan batu bara, termasuk perkebunan, pertanian dan komoditas potensial lainnya," ujar Royan.
Dari sisi kepabeanan, Max Rori selaku Kabid Fasilitas Kepabeanan dan Cukai yang mewakili Kepala Kanwil Bea Cukai Kalimantan Bagian Timur (Kalbagtim), menyatakan dukungan terhadap pelaksanaan Digital Logistic for Export.
Menurutnya, Bea Cukai siap mendukung kebutuhan data, narasumber maupun materi mengenai regulasi dan fasilitas fiskal yang dapat dimanfaatkan eksportir untuk meningkatkan daya saing.
Sementara itu, BBKHIT Kaltim menyoroti potensi komoditas daerah yang dapat dikembangkan untuk pasar ekspor.
Salah satunya sarang burung walet yang dinilai memiliki potensi besar untuk diekspor langsung dari Kaltim. Namun, pengembangannya masih membutuhkan kesiapan fasilitas pengolahan dan pencucian yang memenuhi persyaratan ekspor.
"Kami sudah mulai melakukan pemetaan potensi ekspor dengan melibatkan pelaku ekspor dan pelaku usaha," ujar drh Dian R dari BBKHIT Kaltim.
Menurutnya, selain komoditas perikanan yang selama ini telah rutin diekspor, sarang burung walet menjadi salah satu potensi yang perlu didorong agar dapat memberikan nilai tambah bagi daerah.
Dari sisi pelaku usaha, Iko Sukma dari UKM Mendunia menekankan pentingnya pelatihan diarahkan untuk mencetak eksportir riil dari Kaltim.
"Harapannya pelatihan ini bisa mencetak eksportir riil dari Kalimantan Timur," kata Iko.
Ia menilai peningkatan kompetensi perlu diikuti kesiapan legalitas dan administrasi usaha sehingga aktivitas perdagangan dan ekspor benar-benar mencerminkan kontribusi pelaku usaha Kaltim.
Dengan demikian, pelatihan diharapkan tidak hanya meningkatkan transaksi ekspor, tetapi juga memperkuat basis data eksportir lokal dan mendorong UMKM Kaltim naik kelas menuju pasar global.
DPM Digital Logistic for Export direncanakan diikuti sekitar 50 peserta yang berasal dari eksportir, calon eksportir dan pelaku usaha.
Kegiatan tersebut diharapkan menghasilkan langkah konkret berupa lahirnya eksportir baru, terpetakannya komoditas unggulan, meningkatnya kesiapan produk memenuhi standar negara tujuan serta semakin efisiennya rantai logistik melalui pemanfaatan NLE.
Pada akhirnya, penguatan ekspor nonmigas dan nonbatubara diharapkan dapat memperluas akses pasar internasional bagi produk Kaltim sekaligus mendukung transformasi ekonomi daerah.


