Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Nama Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau kembali membawa harum Kabupaten Berau di panggung pariwisata nasional.
Bukan hanya karena potensi wisatanya, kampung tersebut berhasil mencuri perhatian dalam ajang Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 setelah menempati posisi 7 dari 15 besar Desa Wisata Terbaik tingkat nasional.
Capaian itu menjadi sinyal, pengembangan pariwisata di tingkat kampung mulai menunjukkan hasil.
Dumaring dinilai mampu menawarkan konsep pengelolaan destinasi yang tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan berbagai unsur untuk menjaga keberlanjutan wisata sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan perjalanan Dumaring menuju tahap nasional berlangsung melalui proses seleksi yang cukup panjang.
Berau sebelumnya menyiapkan lima kampung wisata untuk mengikuti ajang tersebut. Setelah melewati proses kurasi, jumlahnya mengerucut hingga akhirnya Dumaring menjadi wakil Berau yang berhasil melaju ke tingkat nasional.
“Alhamdulillah, Kampung Dumaring Kecamatan Talisayan berhasil masuk 15 besar Desa Wisata dan berada di urutan ketujuh,” ujar Yudha.
Menurutnya, posisi tersebut menjadi pencapaian penting karena Dumaring harus bersaing dengan berbagai desa wisata dari daerah lain yang juga memiliki potensi unggulan.
Namun, potensi alam saja tidak cukup untuk membawa sebuah desa wisata bertahan dalam kompetisi nasional.
Salah satu hal yang menjadi perhatian tim penilai justru berada pada cara Dumaring mengelola seluruh potensi yang dimilikinya.
Konsep pengembangannya dinilai mampu mempertemukan sejumlah sektor sekaligus. Mulai dari upaya menjaga lingkungan, mempertahankan budaya dan adat, menyediakan ruang edukasi, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Pola kolaboratif tersebut menjadi salah satu pembeda Dumaring dibandingkan peserta lainnya.
“Keistimewaan Dumaring adalah pola pengelolaannya yang berbasis kolaborasi. Pengembangannya tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga konservasi, budaya, edukasi dan pemberdayaan masyarakat,” jelas Yudha.
Meski demikian, perjalanan Dumaring belum selesai. Posisi 15 besar justru membuka tahapan penilaian berikutnya yang tidak kalah penting, yakni kunjungan langsung atau visitasi dari tim Kementerian Pariwisata.
Disbudpar Berau pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi tahapan tersebut.
Pendampingan akan terus dilakukan, termasuk mendorong pembenahan fasilitas dan memperkuat tata kelola destinasi.
Ini diperlukan agar seluruh potensi yang dimiliki Dumaring dapat terlihat secara utuh ketika tim penilai melakukan visitasi.
Yudha mengakui pengembangan pariwisata bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Berbagai tantangan akan selalu muncul, baik dari sisi fasilitas maupun pengelolaan.
Namun, capaian Dumaring di WIA 2026 dinilainya sebagai pemicu untuk terus melakukan pembenahan.
Bagi Berau, keberhasilan Dumaring bukan sekadar soal peringkat. Lebih jauh, pencapaian tersebut menjadi bukti kampung dengan kekuatan masyarakat dan tata kelola yang baik mampu bersaing di tingkat nasional.
Kini, Dumaring tinggal selangkah lagi membuktikan bahwa prestasi tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. (Adv)



