Banner ADV

‎Dumaring Tembus 15 Besar Desa Wisata Nasional, Tata Kelola Jadi Kekuatan Berau di WIA 2026

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Desa Wisata Dumaring. (Foto: Istimewa)
Desa Wisata Dumaring. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

‎Dumaring Tembus 15 Besar Desa Wisata Nasional, Tata Kelola Jadi Kekuatan Berau di WIA 2026

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Desa Wisata Dumaring. (Foto: Istimewa)
Desa Wisata Dumaring. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

‎Dumaring Tembus 15 Besar Desa Wisata Nasional, Tata Kelola Jadi Kekuatan Berau di WIA 2026

Desa Wisata Dumaring. (Foto: Istimewa)

‎Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
‎
‎TANJUNG REDEB – Nama Kampung Dumaring, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau kembali membawa harum Kabupaten Berau di panggung pariwisata nasional. 
‎
‎Bukan hanya karena potensi wisatanya, kampung tersebut berhasil mencuri perhatian dalam ajang Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2026 setelah menempati posisi 7 dari 15 besar Desa Wisata Terbaik tingkat nasional.
‎
‎Capaian itu menjadi sinyal, pengembangan pariwisata di tingkat kampung mulai menunjukkan hasil.
‎
‎Dumaring dinilai mampu menawarkan konsep pengelolaan destinasi yang tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan berbagai unsur untuk menjaga keberlanjutan wisata sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat.
‎
‎Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan perjalanan Dumaring menuju tahap nasional berlangsung melalui proses seleksi yang cukup panjang.
‎
‎Berau sebelumnya menyiapkan lima kampung wisata untuk mengikuti ajang tersebut. Setelah melewati proses kurasi, jumlahnya mengerucut hingga akhirnya Dumaring menjadi wakil Berau yang berhasil melaju ke tingkat nasional.
‎
‎“Alhamdulillah, Kampung Dumaring Kecamatan Talisayan berhasil masuk 15 besar Desa Wisata dan berada di urutan ketujuh,” ujar Yudha.
‎
‎Menurutnya, posisi tersebut menjadi pencapaian penting karena Dumaring harus bersaing dengan berbagai desa wisata dari daerah lain yang juga memiliki potensi unggulan.
‎
‎Namun, potensi alam saja tidak cukup untuk membawa sebuah desa wisata bertahan dalam kompetisi nasional.
‎
‎Salah satu hal yang menjadi perhatian tim penilai justru berada pada cara Dumaring mengelola seluruh potensi yang dimilikinya.
‎
‎Konsep pengembangannya dinilai mampu mempertemukan sejumlah sektor sekaligus. Mulai dari upaya menjaga lingkungan, mempertahankan budaya dan adat, menyediakan ruang edukasi, hingga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
‎
‎Pola kolaboratif tersebut menjadi salah satu pembeda Dumaring dibandingkan peserta lainnya.
‎
‎“Keistimewaan Dumaring adalah pola pengelolaannya yang berbasis kolaborasi. Pengembangannya tidak hanya berbicara tentang destinasi, tetapi juga konservasi, budaya, edukasi dan pemberdayaan masyarakat,” jelas Yudha.
‎
‎Meski demikian, perjalanan Dumaring belum selesai. Posisi 15 besar justru membuka tahapan penilaian berikutnya yang tidak kalah penting, yakni kunjungan langsung atau visitasi dari tim Kementerian Pariwisata.
‎
‎Disbudpar Berau pun menyiapkan sejumlah langkah untuk menghadapi tahapan tersebut.
‎
‎Pendampingan akan terus dilakukan, termasuk mendorong pembenahan fasilitas dan memperkuat tata kelola destinasi.
‎
‎Ini diperlukan agar seluruh potensi yang dimiliki Dumaring dapat terlihat secara utuh ketika tim penilai melakukan visitasi.
‎
‎Yudha mengakui pengembangan pariwisata bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Berbagai tantangan akan selalu muncul, baik dari sisi fasilitas maupun pengelolaan.
‎
‎Namun, capaian Dumaring di WIA 2026 dinilainya sebagai pemicu untuk terus melakukan pembenahan.
‎
‎Bagi Berau, keberhasilan Dumaring bukan sekadar soal peringkat. Lebih jauh, pencapaian tersebut menjadi bukti kampung dengan kekuatan masyarakat dan tata kelola yang baik mampu bersaing di tingkat nasional.
‎
‎Kini, Dumaring tinggal selangkah lagi membuktikan bahwa prestasi tersebut bukan kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. (Adv)