Reporter : Herdiansyah l Editor : Buniyamin
SAMARINDA - Penutupan ratusan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) akibat pengetatan standar sanitasi oleh Badan Gizi Nasional (BGN) kembali memunculkan sorotan terhadap kesiapan program tersebut.
Pengamat Ekonomi Kaltim, Purwadi Purwoharsodjo menilai persoalan tersebut justru menunjukkan adanya kelemahan dalam perencanaan program sejak awal.
Ia menyebut pemerintah terlalu terburu-buru menjalankan program berskala nasional tanpa memastikan seluruh perangkat pendukungnya benar-benar siap.
“Ini memang dipaksakan. Ini prematur, terlalu prematur, karena tidak siap semuanya,” kata Purwadi.
Menurutnya, evaluasi dan pengetatan standar yang baru dilakukan setelah program berjalan menunjukkan bahwa aspek perencanaan belum dilakukan secara matang dari awal.
Ia menilai program nasional dengan cakupan penerima yang sangat besar seharusnya memiliki perencanaan menyeluruh, mulai dari kesiapan dapur, standar sanitasi, distribusi makanan, pengawasan, pembiayaan hingga mekanisme evaluasi.
“Ini kan menunjukkan perencanaannya belum matang. Ada yang makanannya ditolak sekolah, sementara di daerah seperti Mahakam Ulu malah belum tersentuh,” jelasnya.
Purwadi menilai keterlibatan pengusaha lokal dalam penyediaan dapur MBG seharusnya memberikan kepastian dari sisi tata kelola dan keberlanjutan program.
Sebab, ketika pelaku usaha telah mengeluarkan investasi berdasarkan skema yang ditawarkan pemerintah, kemudian standar diperketat dan operasional dihentikan, risiko kerugian justru berpotensi ditanggung oleh pihak swasta.
“Kasihan rakyat. Sudah pajaknya dikejar terus, sementara tata kelola keuangan negara berhamburan,” tegasnya.
Menurut Purwadi, pemerintah tidak boleh hanya melihat persoalan penutupan dapur sebagai masalah teknis sanitasi.
Ada konsekuensi ekonomi yang harus diperhitungkan ketika ratusan pelaku usaha telah menginvestasikan modal, merekrut tenaga kerja dan menyiapkan fasilitas untuk mendukung program tersebut.
Kendati demikian, Purwadi tetap meminta pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG.
Namun, evaluasi tersebut harus mencakup perencanaan anggaran, kesiapan infrastruktur, mekanisme kerja sama dengan pelaku usaha, distribusi makanan, pemerataan penerima manfaat hingga standar sanitasi yang harus ditetapkan sejak awal.
“Jangan sampai masyarakat dan pengusaha yang akhirnya menanggung akibat dari perencanaan yang tidak matang,” pungkasnya.


