Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda menyiapkan dua unit pompa berkapasitas besar untuk membantu pengairan lahan pertanian di Betapus dan Lempake Jaya, Kelurahan Lempake, Samarinda Utara.
Upaya tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko gagal panen akibat kekeringan. Di dua lokasi itu, pompa akan mengambil air dari sumber anak Sungai Karang Mumus (SKM) untuk dialirkan ke lahan pertanian.
Plt Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan Dinas Ketapang Tani Kota Samarinda, Noke Pattipawaej mengatakan, pengairan alternatif tersebut diharapkan dapat membantu menjaga tanaman tetap hidup, terutama padi yang masih berada pada fase awal pertumbuhan.
“Setidaknya bisa mengurangi dampak risiko gagal panen,” kata Noke.
Lahan sawah yang akan menjadi sasaran pengairan mencapai sekitar 40 hektare. Selain itu, terdapat sekitar 30 hektare lahan sayuran dan tanaman lainnya yang juga diharapkan mendapat manfaat dari upaya tersebut.
Noke menjelaskan, kondisi yang paling dikhawatirkan saat ini adalah tanaman padi yang baru berusia sekitar 30 hari setelah tanam. Pada fase tersebut, tanaman masih membutuhkan pasokan air yang cukup agar tidak mengalami kekeringan hingga menyebabkan puso.
Berbeda dengan ketika memasuki masa menjelang panen, kebutuhan air tanaman akan berkurang. Karena itu, pengairan pada fase awal pertumbuhan menjadi salah satu prioritas penanganan.
Dari dua lokasi tersebut, terdapat lima kelompok tani dengan jumlah penerima manfaat sekitar 100 orang. Dinas Ketapang Tani berharap bantuan pengairan dapat menjaga produktivitas pertanian, meskipun hasil panen nantinya berpotensi mengalami penurunan akibat dampak kekeringan.
“Yang jelas kita harap tidak gagal panen, tidak puso. Walau ada dampak kekeringan, tapi mereka bisa menghasilkan walaupun turun jumlah produksinya,” jelas Noke.
Sementara itu, penanganan di wilayah Serayu yang terdampak Kekeringan dilakukan dengan mekanisme berbeda. Pasalnya, lahan persawahan di kawasan tersebut tidak memiliki sumber air yang dapat digunakan untuk pemompaan.
Pihaknya mencoba menyalurkan air menggunakan tangki untuk mengisi embung, kemudian air dari embung dialirkan ke lahan persawahan. Namun, sebelum penyaluran dilakukan, kualitas air terlebih dahulu diperiksa.
Noke mengatakan, pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kandungan air tidak justru berdampak buruk terhadap tanaman padi, terutama jika terdapat kandungan logam yang cukup tinggi.
Untuk memperoleh bantuan, petani dapat berkoordinasi melalui kelompok tani dan penyuluh pertanian yang berada di wilayah masing-masing. Penyuluh kemudian meneruskan kebutuhan tersebut melalui Balai Penyuluh Pertanian (BPP).
Di Samarinda, terdapat empat BPP yang berada di Makroman, Lempake, Sungai Kunjang, dan Palaran. Petani yang tergabung dalam kelompok tani diharapkan dapat memperoleh fasilitasi melalui jalur tersebut.
"Kalau mereka ada dalam kelompok itu akan terfasilitasi," pungkasnya.


