Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda membuka kemungkinan memperpanjang status tanggap darurat kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jika kondisi cuaca belum menunjukkan perubahan.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun mengatakan, keputusan perpanjangan akan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan penanganan di lapangan.
Hingga kini ia masih menunggu hasil telaahan dari Badan Penanggulangab Bencana Daerah (BPBD) sebagai bahan pertimbangan.
“Kalau hujan belum turun, kemungkinan akan kita perpanjang. Apakah lima hari atau satu minggu, tergantung kebutuhan penanganan kita,” kata Andi Harun, Rabu (9/9/2026).
Meski status diperpanjang, Pemkot Samarinda memastikan belum berencana menambah anggaran penanganan bencana. Anggaran yang telah disiapkan dinilai masih mencukupi untuk mendukung kebutuhan penanganan.
Sebelumnya, Pemkot Samarinda mengalokasikan sekitar Rp2,5 miliar Belanja Tak Terduga (BTT) untuk penanganan bencana kekeringan dan karhutla.
“Untuk sementara anggaran kita masih cukup. Alokasi anggaran kemarin tidak wajib harus dihabiskan, sesuai yang kita butuhkan saja dan masih banyak sisanya,” ujarnya.
Kesiapsiagaan pemkot dalam menghadapi kekeringan dan karhutla telah disiapkan sejak menerima informasi mengenai potensi El Nino. Pemkot kemudian membentuk satuan tugas yang melibatkan sejumlah perangkat daerah untuk menangani dampak kekeringan, kebakaran hingga sektor pangan.
Pada penanganan kebakaran, Pemkot menetapkan standar waktu respons maksimal 10 menit untuk wilayah yang relatif dekat dengan posko dan 15 menit untuk wilayah pinggiran kota. Jika kekuatan pemadam di suatu posko tidak mencukupi, bantuan dikerahkan dari posko lainnya.
Dalam dua hingga tiga pekan terakhir, peningkatan titik panas dan titik api juga mendorong Pemkot berkoordinasi dengan pemerintah pusat terkait dukungan water bombing dan modifikasi cuaca.
Dukungan water bombing telah diberikan pemerintah pusat dengan menggeser pesawat dari Papua ke Samarinda. Sementara modifikasi cuaca masih menunggu kondisi awan yang memadai.
“Kita juga sudah mengidentifikasi sumur bor warga sebagai kekuatan cadangan,” pungkasnya.


