Bertahan Hidup dari Honor Rp7.500, Syafruddin Pernyata Menulis untuk Keluarga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wartawan senior Kaltim, Syafruddin Pernyata. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Wartawan senior Kaltim, Syafruddin Pernyata. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bertahan Hidup dari Honor Rp7.500, Syafruddin Pernyata Menulis untuk Keluarga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wartawan senior Kaltim, Syafruddin Pernyata. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Wartawan senior Kaltim, Syafruddin Pernyata. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Bertahan Hidup dari Honor Rp7.500, Syafruddin Pernyata Menulis untuk Keluarga

Wartawan senior Kaltim, Syafruddin Pernyata. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Oleh: Achmad Fadillah 

TIDAK banyak pilihan bagi Syafruddin Pernyata ketika memulai perjalanan hidupnya sebagai wartawan pada 1978.

Honor yang diterimanya hanya Rp7.500 sebulan. Jumlah itu mungkin terdengar kecil jika dibandingkan dengan kebutuhan hidup hari ini.

Namun pada masa itu, angka tersebut menjadi bagian dari perjuangan seorang anak dari keluarga sederhana untuk bertahan hidup, melanjutkan pendidikan, sekaligus membantu keluarganya.

Syafruddin merupakan anak ketiga dari 10 bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai tukang cukur, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Dengan kondisi tersebut, menjadi wartawan bukan semata-mata tentang mengejar profesi. Ada kebutuhan keluarga yang ikut dipikulnya.

“Saya gajinya itu Rp7.500 tahun '78 itu sebulan,” ujar Syafruddin saat menceritakan perjalanan hidupnya dalam kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Samarinda, Rabu (9/9/2026).

Honor dari satu pekerjaan ternyata tidak cukup, sehingga harus mencari cara lain agar tetap bisa bertahan.

Di Harian Angkatan Bersenjata, penghasilannya bisa mencapai Rp17.500 hingga Rp20 ribu. Besarnya honor bergantung pada nilai berita, posisi berita di halaman koran, hingga jumlah tulisan yang dimuat.

Namun, Syafruddin tidak berhenti di sana. Ia mulai mengirimkan tulisan berupa cerita ke berbagai majalah remaja, seperti Gadis, Senang, Putri Indonesia hingga Anita Cemerlang. 

Satu tulisan yang dimuat bisa menghasilkan honor sekitar Rp15.000. Bagi Syafruddin, angka itu bukan sekadar bayaran atas sebuah tulisan. Honor tersebut bisa berarti dua kali gaji bulanannya sebagai wartawan.

“Kalau masuk, paling murah Rp15.000. Satu, dua bulan gaji,” katanya.

Strateginya sederhana, tetapi membutuhkan ketekunan. Jika tulisan yang dikirim ke sebuah majalah tidak dimuat, naskah tersebut dikirim kembali ke media lain. Pada zaman itu, naskah masih diketik menggunakan mesin ketik. Agar tidak perlu mengetik ulang seluruh naskah, ia hanya mengganti bagian pengantar sebelum mengirimkannya ke majalah lain.

Cara itu terus dilakukan. Tulisan yang tidak diterima sebuah majalah belum tentu gagal di media lainnya. Syafruddin memahami bahwa setiap redaksi memiliki sudut pandang berbeda dalam memilih cerita.

Dari situlah ia belajar bahwa bertahan hidup sebagai penulis bukan hanya soal kemampuan menghasilkan tulisan, tetapi juga tentang tidak mudah menyerah ketika tulisan ditolak. 

Namun penghasilan dari menulis masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membantu keluarga.

Syafruddin pun menjalani pekerjaan lain. Di sela kesibukannya sebagai wartawan, ia mengajar di SMP dan SMA Muhammadiyah. Hari Minggu yang bagi sebagian orang menjadi waktu beristirahat, justru digunakannya untuk membina kegiatan Pramuka. Semua dilakukan untuk satu alasan, yaitu bertahan.

“Saya enggak ada libur. Hari Minggu ngajar Pramuka,” tuturnya.

Dari berbagai pekerjaan itulah penghasilannya dikumpulkan sedikit demi sedikit. Bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk keluarga. Itulah perjalanan hidup Syafruddin Pernyata semasa mudanya yang dibagikannya kepada kami sebagai peserta UKW ini. Semoga cerita ini terus menginspirasi, aamiin.