Banner ADV

Sekda Berau Tekankan Wartawan Jangan Sekadar Berita Cepat, Tapi Mesti Akurat

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca2075 kali dibaca
Sekda Berau membuka Workshop Relasi Media. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Sekda Berau membuka Workshop Relasi Media. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Sekda Berau Tekankan Wartawan Jangan Sekadar Berita Cepat, Tapi Mesti Akurat

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca2075 kali dibaca
Sekda Berau membuka Workshop Relasi Media. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Sekda Berau membuka Workshop Relasi Media. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Sekda Berau Tekankan Wartawan Jangan Sekadar Berita Cepat, Tapi Mesti Akurat

2075
Sekda Berau membuka Workshop Relasi Media. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Di tengah derasnya arus informasi digital yang dapat menyebar hanya dalam hitungan menit, kemampuan wartawan dalam memastikan kebenaran sebuah informasi dinilai semakin penting.

Kecepatan memberitakan tidak cukup jika tidak dibarengi verifikasi dan kompetensi jurnalistik.

Pesan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Berau, Muhammad Said saat membuka Workshop Relasi Media dalam rangka Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Gedung RPJMD Bapperida Berau, Sabtu (12/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 12–13 September tersebut diikuti dua kelas jenjang muda. Workshop menjadi ruang bagi para wartawan untuk kembali mengasah kemampuan sekaligus memperkuat profesionalisme dalam menjalankan tugas jurnalistik.

Muhammad Said menilai pers memiliki posisi penting dalam kehidupan demokrasi. Media tidak hanya berfungsi menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme kontrol terhadap jalannya pemerintahan dan pembangunan.

Menurutnya, kritik yang disampaikan media tidak semestinya selalu dipandang sebagai bentuk mencari kesalahan pemerintah.

Sebaliknya, pemberitaan dapat menjadi bahan evaluasi agar pemerintah mengetahui sisi-sisi yang masih perlu diperbaiki.

“Pers ini bukan semata-mata mencari kekurangan. Justru menjadi evaluasi dan introspeksi bagi pemerintah,” ujarnya.

Namun, peran tersebut menurutnya harus dibangun di atas informasi yang benar.

Wartawan diminta tidak terburu-buru menjadikan isu sebagai berita sebelum memastikan data dan fakta yang diperoleh telah melalui proses verifikasi.

Salah satu hal yang menjadi perhatian Muhammad Said adalah penggunaan data dalam pemberitaan.

Ia mendorong wartawan tidak hanya mengandalkan satu sumber, tetapi melakukan konfirmasi silang, termasuk dengan sumber data resmi.

“Kalau mendapatkan informasi, jangan hanya mengambil dari satu sumber. Konfirmasi dan cek kembali datanya agar informasi yang disampaikan benar-benar valid,” katanya.

Ia mencontohkan perbedaan antara data yang disampaikan perangkat daerah dengan data statistik. 

Menurutnya, data dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) perlu dikonfirmasi kembali dengan sumber lain, termasuk data Badan Pusat Statistik (BPS), sehingga pemberitaan memiliki dasar yang kuat.

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah munculnya berbagai platform informasi yang tidak seluruhnya memiliki standar jurnalistik. 

Muhammad Said mengaku pemerintah juga kerap menghadapi pihak yang mengatasnamakan media, namun identitas maupun kelembagaannya tidak jelas.

Kondisi itu, kata dia, tidak hanya menyulitkan pemerintah dalam memberikan informasi, tetapi juga berpotensi mengaburkan batas antara kerja jurnalistik dengan aktivitas lain yang mengatasnamakan pers.

“Karena itu, sertifikasi kompetensi penting. Pemerintah juga merasa lebih nyaman ketika berhadapan dengan media yang jelas dan wartawannya memiliki kompetensi,” tuturnya.

Ia menilai UKW bukan sekadar formalitas untuk memperoleh sertifikat. Uji kompetensi justru menjadi momentum bagi wartawan untuk mengukur kembali kemampuan mereka, sekaligus memperbarui pengetahuan terhadap perkembangan aturan dan praktik jurnalistik.

Muhammad Said bahkan menyebut profesi wartawan membutuhkan kemampuan yang terus diasah. Sebab, pekerjaan jurnalistik memiliki tantangan tersendiri, terutama ketika berita yang ditulis menyangkut kepentingan publik dan berpotensi menimbulkan keberatan dari pihak tertentu.

“Menulis itu ada kompetensinya. Ada orang yang bisa tersinggung atau tidak menerima apa yang kita sampaikan. Karena itu, kemampuan dan profesionalisme harus terus ditingkatkan,” katanya.

Ia juga menyinggung fenomena penyebaran informasi yang salah secara berulang. Menurutnya, sebuah informasi yang terus-menerus disampaikan dapat membentuk persepsi publik seolah-olah informasi tersebut benar, meskipun belum terbukti.

Untuk itu, Muhammad Said berharap wartawan di Berau dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas informasi publik. Pers diharapkan tidak hanya cepat menyampaikan kabar, tetapi juga mampu memberikan konteks, melakukan verifikasi, serta berani mengoreksi informasi yang keliru.

Di sisi lain, ia mengapresiasi kontribusi wartawan yang selama ini aktif mengawal berbagai program pemerintah dan menyampaikan persoalan yang terjadi di masyarakat.

“Teman-teman media adalah bagian dari perjalanan pembangunan Berau. Kami berharap sinergi ini terus berjalan untuk menyampaikan kebenaran dan data yang tepat,” ungkapnya.

Workshop tersebut pun diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan UKW semata. Peningkatan kompetensi diharapkan menjadi proses berkelanjutan agar wartawan mampu menghadirkan pemberitaan yang akurat, berimbang, dan tetap berpihak pada kepentingan publik.

Dengan semakin banyaknya informasi yang beredar di ruang digital, kualitas wartawan justru menjadi semakin penting.

Sebab, ketika semua orang dapat menyebarkan informasi, profesi jurnalistik dituntut mampu membedakan mana sekadar kabar, mana isu, dan mana fakta yang benar-benar telah teruji. (Adv)