Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Lahan terbatas di kawasan perkotaan mulai dimanfaatkan warga RT 59, Kelurahan Batu Ampar, Balikpapan untuk menghasilkan pangan melalui budidaya hidroponik.
Pemanfaatan lahan tersebut dikembangkan melalui Program PELITA yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan melalui Integrated Terminal (IT) Balikpapan.
Program ini tidak hanya menghadirkan sarana urban farming, tetapi juga membekali warga dengan keterampilan budidaya hidroponik.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun mengatakan program tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
"Melalui program ini, kami ingin mendukung ketahanan pangan masyarakat dengan menghadirkan akses pangan yang lebih dekat bagi warga. Budidaya hidroponik juga diharapkan menjadi peluang masyarakat memperoleh pendapatan dan meningkatkan perekonomian keluarga," ujar Edi dalam keterangannya, Sabtu (12/9/2026).
Menurutnya, pemanfaatan lahan tidur menjadi salah satu cara agar kawasan perkotaan tetap dapat menghasilkan pangan. Selain itu, Program PELITA diarahkan untuk memperkuat peran masyarakat, khususnya perempuan, dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan kegiatan ekonomi keluarga.
Kepala Seksi (Kasi) Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Batu Ampar, Suhartini mengapresiasi program tersebut dan menilai hidroponik dapat menjadi alternatif untuk memanfaatkan lahan terbatas sekaligus membuka peluang tambahan pendapatan bagi warga.
"Kami berterima kasih kepada Pertamina serta Ketua RT 59 dan warga yang telah mendukung pelaksanaan program ini. Hidroponik menjadi solusi pemanfaatan lahan terbatas sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat," kata Suhartini.
Untuk memastikan warga tidak hanya menerima fasilitas, Program PELITA juga dilengkapi pelatihan budidaya hidroponik bersama narasumber dari Asosiasi Hidroponik Balikpapan, Noormansyah.
Peserta mendapatkan materi mulai dari pengenalan sistem dan peralatan hidroponik, pembibitan, persemaian, pindah tanam, perawatan hingga pengendalian hama. Pelatihan juga disertai praktik agar keterampilan tersebut dapat diterapkan secara mandiri.
Edi berharap kelompok penerima manfaat dapat menjaga dan mengembangkan fasilitas yang telah diberikan sehingga urban farming tidak berhenti sebagai program bantuan, tetapi berkembang menjadi kegiatan produktif masyarakat.
"Kami berharap fasilitas yang diberikan dapat dijaga, dimanfaatkan, dan terus dikembangkan oleh kelompok penerima manfaat agar program ini memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat sekitar," pungkasnya.


