Kasus Pelecehan Anak, Wawali Balikpapan Akui Penyimpangan Sosial Ada di Mana-mana

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wawali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Pusaranmedia.com)
Wawali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus Pelecehan Anak, Wawali Balikpapan Akui Penyimpangan Sosial Ada di Mana-mana

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Wawali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Pusaranmedia.com)
Wawali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus Pelecehan Anak, Wawali Balikpapan Akui Penyimpangan Sosial Ada di Mana-mana 

Wawali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo. (Foto: Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Wakil Wali Kota (Wawali) Balikpapan, Bagus Susetyo mengakui perilaku penyimpangan sosial masih sulit dibendung di tengah perkembangan teknologi dan informasi saat ini.

Pernyataan tersebut disampaikan Bagus menanggapi kasus seorang anak perempuan di bawah umur yang diduga menjadi korban pelecehan oleh guru lesnya di wilayah Kecamatan Balikpapan Barat.

Ia mengatakan Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan telah berupaya melakukan pencegahan, termasuk melalui penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP), asesmen, dan wawancara untuk meminimalkan potensi terjadinya tindakan negatif.

"Kita sudah memberikan SOP, melakukan asesmen, melakukan wawancara, supaya sesuatu yang negatif ini kecil kemungkinan terjadi. Tetapi yang namanya manusia ini macam-macam," kata Bagus, Senin (14/9/2026).

Menurutnya, pengawasan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun institusi pendidikan, tetapi juga keluarga. 

Ia mendorong orang tua meningkatkan komunikasi dengan anak agar mereka berani menyampaikan apabila mengalami atau melihat sesuatu yang tidak semestinya.

"Makanya saya selalu bilang ke keluarga, tolong diawasi anak-anak kita. Kalau di rumah tetap komunikasi supaya ada keterbukaan, sebab kita enggak pernah tahu anak kita di-bully atau mengalami sesuatu di sekolah maupun lingkungan bermainnya," ujarnya.

Bagus juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi dan media sosial turut memberikan tantangan dalam pengawasan anak. Sebab, komunikasi antara orang tua dan anak dinilai penting agar anak tidak takut melapor ketika menghadapi persoalan.

"Kadang-kadang anak-anak takut melapor. Makanya ajak komunikasi supaya dia bicara apa adanya," katanya.
Terkait kasus yang melibatkan tenaga pendidik, Bagus menegaskan bahwa perilaku penyimpangan sosial dapat terjadi di berbagai lingkungan. 

Ia mencontohkan kasus serupa yang pernah terjadi di lingkungan pendidikan keagamaan. "Jangankan guru, kemarin ada kasus ustaz mencabuli santrinya. Lebih parah lagi itu. Jadi, perilaku penyimpangan sosial ini di mana-mana ada," ungkapnya.

Untuk itu, ia meminta semua pihak meningkatkan pengawasan dan tidak ragu menyampaikan apabila menemukan dugaan tindakan yang menyimpang, baik di sekolah maupun lingkungan lainnya.

"Di sekolah kan juga ada bimbingan konseling (BK), guru BK 'kan ada. Kadang-kadang hal yang di luar kepatutan itu anak-anak takut melaporkan," jelasnya.

Bagus juga meminta masyarakat tidak melakukan penghakiman terhadap pihak yang diduga terlibat dan menyerahkan proses penanganan kepada aparat penegak hukum.

"Kita berdoa saja, semoga semuanya ini bisa teratasi. Serahkan saja, enggak usah di-judgment, karena mereka juga punya keluarga. Kita bantu juga keluarga itu tetap berjalan. Makanya biar kita serahkan kepada aparat penegak hukum," pungkasnya.