Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Setiap kampung di Kabupaten Berau didorong memiliki produk unggulan yang benar-benar mencerminkan potensi wilayahnya.
Konsep kampung tematik dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat ekonomi masyarakat sekaligus membangun identitas masing-masing kampung.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan pemerintah kampung tidak diarahkan untuk mengembangkan terlalu banyak produk sekaligus. Sebaliknya, kampung perlu menentukan satu potensi yang paling kuat untuk dikembangkan secara konsisten.
Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Produk Unggulan Desa (Prudes) yang saat ini terus didampingi DPMK.
“Setiap kampung harus punya produk yang sesuai dengan potensinya,” katanya.
Konsep itu mulai terlihat dari munculnya sejumlah kampung yang dikenal dengan produk tertentu. Seperti Kampung Nila, Kampung Jagung hingga Kampung Kerapu di Bohe Silian.
Tenteram menyebut, identitas tersebut tidak hanya sebatas nama. Produk yang dipilih harus terus dikembangkan agar memiliki nilai ekonomi dan mampu menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat.
Namun, pengembangan produk unggulan tidak bisa hanya mengandalkan DPMK. Menurut Tenteram, keterlibatan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lain justru menjadi bagian penting agar potensi kampung dapat berkembang lebih maksimal.
Program bantuan yang diberikan OPD, misalnya, dapat menjadi pintu masuk untuk mengembangkan usaha masyarakat. Salah satunya bantuan ikan asap dari Dinas Perikanan (Diskan) yang kemudian perlu disertai pendampingan agar tidak berhenti pada pemberian bantuan.
“Bantuan perlu dilanjutkan dengan pendampingan,” ujarnya, Selasa (15/9/2026).
Dalam hal ini, pendampingan dari program Sigap diharapkan dapat membantu masyarakat mengoptimalkan bantuan yang telah diterima, termasuk dalam pengelolaan dan pengembangan usaha.
DPMK Berau pun terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai instansi untuk memperkuat pengembangan Prudes. Kolaborasi lintas sektor dinilai penting karena setiap OPD memiliki program dan keahlian yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kampung.
Dengan pola tersebut, kampung tidak hanya diarahkan menjadi penghasil komoditas, tetapi memiliki produk yang punya identitas, nilai jual dan peluang untuk dikembangkan menjadi usaha masyarakat secara berkelanjutan. (Adv)



