BNPP Dorong Transformasi Pengelolaan Perbatasan, Kaltara jadi Kawasan Strategis

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin saat mengunjungi Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin saat mengunjungi Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BNPP Dorong Transformasi Pengelolaan Perbatasan, Kaltara jadi Kawasan Strategis

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin saat mengunjungi Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)
Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin saat mengunjungi Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BNPP Dorong Transformasi Pengelolaan Perbatasan, Kaltara jadi Kawasan Strategis

Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin saat mengunjungi Nunukan. (Foto: Diansyah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN - Arah baru pengelolaan perbatasan Indonesia mulai didorong Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) RI. Perbatasan tidak lagi dipandang semata-mata sebagai garis pemisah wilayah dan kawasan pengamanan negara, tetapi harus berkembang menjadi ruang pertumbuhan ekonomi, pusat pelayanan, serta penghubung aktivitas masyarakat lintas kawasan.

Arah transformasi tersebut menjadi penting bagi Kalimantan Utara (Kaltara), khususnya Kabupaten Nunukan yang berhadapan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia. Posisi geografis tersebut menempatkan Nunukan sebagai salah satu kawasan strategis dalam membangun wajah Indonesia di bagian utara.

BNPP RI menggelar forum pembahasan penyusunan desain besar transformasi pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan bersama kementerian/lembaga mitra.

Deputi Bidang Pengelolaan Batas Wilayah Negara BNPP RI Nurdin mengatakan, transformasi diperlukan karena pengelolaan perbatasan selama ini masih menghadapi persoalan koordinasi dan pelaksanaan yang berjalan secara sektoral.

Menurutnya, perubahan harus menyentuh cara pandang, cara kerja, hingga sistem pengelolaan perbatasan agar seluruh kementerian dan lembaga dapat bergerak dalam kerangka yang sama.

“Tujuannya agar kita bisa secara terintegrasi berjalan dalam satu arah, satu kerangka, dan satu hasil di dalam pengelolaan batas negara dan kawasan perbatasan secara terpadu,” kata Nurdin.

Bagi Kaltara, perubahan pendekatan tersebut memiliki arti strategis. Wilayah seperti Nunukan, Sebatik, Krayan, hingga kawasan perbatasan lainnya tidak cukup hanya dibangun dari sisi infrastruktur pertahanan dan keamanan.

Konektivitas, perdagangan, pelayanan dasar, pusat produksi, serta akses masyarakat terhadap pasar juga harus menjadi bagian dari desain pengelolaan perbatasan.

Nurdin mengatakan, salah satu persoalan yang masih perlu dibenahi adalah belum optimalnya pelaksanaan Rencana Induk (Renduk) pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan.

Karena itu, BNPP mendorong mekanisme pengendalian bersama yang tidak berhenti pada pengukuran realisasi program, tetapi juga melihat dampak nyata pembangunan terhadap kawasan dan masyarakat perbatasan.

Perubahan paradigma tersebut sekaligus menggeser orientasi pembangunan perbatasan. Jika sebelumnya perhatian lebih banyak diarahkan pada penetapan garis batas dan pengamanan wilayah, kini perbatasan dituntut mampu menjadi simpul ekonomi dan pelayanan masyarakat.

Pengembangan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) dan Pusat Pelayanan Pintu Gerbang Negara (PPGN) menjadi bagian dari pendekatan tersebut.

“Karena berfungsi sebagai pintu gerbang, maka ia harus terhubung dengan pusat-pusat produksi, pusat-pusat layanan, dan sebagainya. Sehingga nanti akan terbentuk koridor ekonomi kawasan perbatasan,” jelas Nurdin.

Konsep itu menjadi relevan bagi Kaltara yang memiliki sejumlah kawasan perbatasan dengan karakteristik ekonomi dan geografis berbeda.

Nunukan, misalnya, memiliki hubungan sosial dan ekonomi yang kuat dengan Sabah. Arus perdagangan, mobilitas masyarakat, hingga aktivitas lintas batas telah berlangsung selama puluhan tahun. Tantangannya kini adalah bagaimana konektivitas tersebut dapat diarahkan menjadi kekuatan ekonomi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat Indonesia.

Asisten Deputi Politik, Hukum, dan Keamanan dan Pemerintahan Daerah Wilayah I pada Deputi Kelembagaan dan Tata Laksana Kementerian PAN-RB, Istyadi Insani, menekankan pentingnya menyelaraskan desain besar tersebut dengan arah pembangunan nasional, termasuk Asta Cita dan RPJMN 2025–2029.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan semata-mata membangun kawasan perbatasan, melainkan memastikan berbagai kewenangan yang tersebar di banyak kementerian dan lembaga dapat bekerja dalam satu arah.

“Tantangan utamanya yaitu bagaimana kewenangan yang tersebar tersebut dapat bekerja secara terpadu untuk mencapai arah, prioritas, target, dan hasil nasional yang sama,” ujar Istyadi.

Bila konsep tersebut dapat diterapkan secara konsisten, paradigma perbatasan sebagai 'halaman belakang' perlahan dapat ditinggalkan.

Kaltara memiliki peluang besar untuk membuktikan perubahan tersebut. Dengan posisi geografis yang berhadapan langsung dengan Malaysia, kawasan perbatasan dapat dikembangkan bukan hanya sebagai benteng pertahanan, tetapi juga sebagai beranda ekonomi Indonesia.