Hujan Mulai Turun di Berau, Karhutla Tetap Masih jadi Ancaman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Bupati Berau memberikan penghargaan kepada perwakilan PT HSB. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Bupati Berau memberikan penghargaan kepada perwakilan PT HSB. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hujan Mulai Turun di Berau, Karhutla Tetap Masih jadi Ancaman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Bupati Berau memberikan penghargaan kepada perwakilan PT HSB. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Bupati Berau memberikan penghargaan kepada perwakilan PT HSB. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Hujan Mulai Turun di Berau, Karhutla Tetap Masih jadi Ancaman

Bupati Berau memberikan penghargaan kepada perwakilan PT HSB. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Hujan yang mengguyur Kabupaten Berau beberapa hari terakhir belum menjadi tanda bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berlalu. Saat cuaca kembali menghangat, sejumlah titik panas (hotspot) mulai terpantau di beberapa wilayah.

Situasi tersebut menjadi pengingat agar kewaspadaan terhadap karhutla tetap dipertahankan, meski hujan sempat turun pada 9 dan 11 September lalu.

Manajer Pengamanan Hutan PT Hutan Sanggam Berau (HSB), Anwar Kalfangare, menyebut kondisi cuaca yang cepat berubah membuat potensi kebakaran masih terbuka. Menurutnya, masyarakat maupun seluruh pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan lahan perlu tetap berhati-hati.

“Turunnya hujan belum berarti risiko karhutla sudah hilang,” kata Anwar, Selasa (15/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikannya setelah PT HSB menerima penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Berau atas kontribusinya dalam membantu penanganan karhutla.

Penghargaan diberikan Bupati Berau Sri Juniarsih Mas dalam upacara peringatan Hari Jadi Kabupaten Berau ke-73 dan Hari Jadi Kota Tanjung Redeb ke-216 di Lapangan Pemuda, Tanjung Redeb.

Bagi Anwar, apresiasi tersebut bukan sekadar bentuk penghargaan atas upaya yang telah dilakukan perusahaan. Pengakuan dari pemerintah daerah justru menjadi pemacu untuk memperkuat keterlibatan perusahaan dalam menghadapi ancaman kebakaran.

“Apresiasi ini membuat kami semakin terdorong untuk memperkuat upaya pencegahan,” ujarnya.

Kemunculan kembali hotspot menjadi perhatian tersendiri. Anwar mengatakan kondisi panas yang kembali terjadi harus diikuti dengan peningkatan pengawasan, khususnya pada kawasan yang rawan terbakar.

Ia juga meminta masyarakat tidak terburu-buru menganggap kondisi lahan sudah aman untuk dibakar hanya karena hujan telah turun.

Praktik pembakaran saat membuka maupun membersihkan lahan tetap memiliki risiko tinggi apabila kondisi kembali kering dan panas.

“Pembukaan lahan sebaiknya tidak dilakukan dengan membakar, apalagi saat cuaca masih sulit diprediksi,” tegasnya.

Tak hanya soal pencegahan, kecepatan laporan juga dinilai berperan besar dalam mengendalikan api. Masyarakat yang melihat kepulan asap, api, maupun indikasi titik panas diminta segera menyampaikan informasi kepada petugas.

Langkah tersebut penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum api berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

Di tengah kondisi kabut asap yang masih terlihat di sejumlah kawasan, PT HSB menyatakan akan terus berkoordinasi dengan berbagai unsur. Mulai dari pemerintah daerah, TNI dan Polri, KPHP Berau Barat, pemerintah kecamatan dan kampung hingga pihak terkait lainnya.

Koordinasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pencegahan sekaligus mempercepat respons apabila kembali ditemukan titik api.

Momentum Hari Jadi Berau dan Kota Tanjung Redeb pun dimaknai PT HSB sebagai pengingat bahwa menjaga daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah.

“Menjaga lingkungan harus menjadi kepedulian bersama, terutama dengan tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan,” pungkas Anwar.

Sementara itu, Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyampaikan penghargaan kepada seluruh unsur yang selama ini terlibat dalam menghadapi karhutla.

Menurut Sri, kerja petugas, relawan, perusahaan, aparat dan unsur lainnya memiliki peran penting dalam menjaga api agar tidak meluas.

“Dedikasi mereka dalam menghadapi karhutla patut kita hargai,” ujar Sri.

Ia menilai penanganan karhutla membutuhkan kekuatan bersama. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan aparat, perusahaan, relawan hingga masyarakat.

Karena itu, Sri mengajak seluruh elemen di Berau mempertahankan koordinasi dan kepedulian terhadap kondisi lingkungan, terlebih ketika cuaca kembali panas.

“Semangat kebersamaan harus terus kita jaga dalam menghadapi ancaman karhutla,” tandasnya.