Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Sebagian wilayah Kota Samarinda sejak Rabu (16/9/2026) pagi terpantau berkabut dan minim pencahayaan matahari.
BMKG Kota Samarinda menyebut hal itu dipengaruhi oleh asap yang menyelimuti hampir di seluruh wilayah kota.
Itu juga menyebabkan jarak pandang atau visibilitas menurun. Kondisi tersebut juga membuat kualitas udara di Samarinda berdasarkan parameter PM2,5 masuk kategori tidak sehat.
Forecaster BMKG Kota Samarinda, Duo Rahman Abdilah mengatakan hasil observasi sementara menunjukkan kondisi udara di Samarinda saat ini cenderung menurun, disertai berkurangnya visibilitas akibat asap dan tutupan awan yang cukup tebal.
"Ini sangat dipengaruhi adanya asap dari kebakaran hutan. Karena tutupan awannya cukup banyak, asap itu cenderung terperangkap di bawah permukaan daerah Samarinda,” kata Rahman, Rabu (16/9/2026).
Tutupan awan yang cukup banyak, kata Rahman, membuat pancaran radiasi matahari yang diterima di permukaan berkurang, sehingga suhu udara juga cenderung menurun.
Di sisi lain, BMKG memastikan penurunan visibilitas yang terjadi bukan semata-mata akibat kabut. Hal itu terlihat dari tingkat kelembapan udara yang berada di bawah 90 persen.
“Dari data kelembapan kami, tidak cukup sampai dikatakan ini kabut karena kelembapannya di bawah 90, sekarang sekitar 70 persen. Makanya kami bisa mengatakan ini faktor dari asap,” jelasnya.
Selain mengganggu jarak pandang, keberadaan asap juga berpengaruh terhadap kualitas udara. “Berdasarkan alat kami, PM2,5, kategorinya berada dalam tidak sehat untuk hari ini. Dari pagi sampai sekarang berada dalam kategori tidak sehat,” ujarnya.
Berdasarkan data IQAir pada hari yang sama juga menyatakan hal serupa. Pada pukul 16.00 WITA, indeks kualitas udara atau AQI Samarinda tercatat sebesar 115 dengan konsentrasi polutan utama PM2.5 mencapai 41,2 mikrogram per meter kubik yang termasuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif.
Kondisi tersebut, lanjut Rahman, berkaitan dengan konsentrasi asap yang berada di dekat permukaan akibat tutupan awan yang cukup banyak.
BMKG pun masih melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi atmosfer dan kualitas udara di wilayah Samarinda.
Selain itu, Rahman menjelaskan kondisi atmosfer di wilayah Samarinda saat ini dipengaruhi interaksi sejumlah faktor.
Berdasarkan pantauan BMKG, terdapat pembentukan siklon di wilayah Laut Cina Selatan yang secara tidak langsung menarik sejumlah awan hujan dari wilayah lain.
Kondisi tersebut kemudian diperkuat oleh angin monsun Australia atau biasa disebut angin muson timur yang turut membawa dan mengumpulkan awan ke wilayah Samarinda, sehingga tutupan awan menjadi lebih banyak.
"Apa yang melatar belakangi ini sebenarnya karena interaksi kompleks di atmosfer wilayah Samarinda," ujarnya.
Hingga pukul 16.50 WITA, sebagian besar wilayah Kota Samarinda masih diselimuti asap. Masyarakat pun diimbau untuk menggunakan masker dan meminimalisasi aktivitas di luar rumah.


