Reporter: Siswandi | Editor: Buniyamin
SANGATTA – Kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Kutim pada Rabu (16/9/2026) mulai berdampak pada kualitas udara.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker apabila harus bepergian.
Kepala Dinkes Kutim, dr Yuwana menyampaikan imbauan tersebut melalui pesan kepada jajaran pemerintah daerah dan masyarakat.
Ia mengatakan kondisi udara saat ini sudah mengganggu kesehatan. “Yang jelas kondisinya memang asapnya ini sudah mulai mengganggu dari sisi kesehatan,” kata Yuwana saat dikonfirmasi pusaranmedia.com, Rabu (16/09/2026).
Pemantauan sementara dari sejumlah puskesmas menunjukkan kondisi udara yang buruk terjadi di beberapa wilayah Kutim.
Salah satunya di Puskesmas Sepaso. Pengukuran pada pukul 16.51 WITA mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 221 ug/m³ dan PM10 mencapai 629 ug/m³ dengan suhu 28,97 derajat Celsius dan kelembapan 73,5 persen.
Sementara pengukuran di Puskesmas Batu Ampar pada pukul 16.42 WITA mencatat PM2.5 sebesar 145 ug/m³ dan PM10 419 µg/m³. Suhu tercatat 25,96 derajat Celsius dengan kelembapan 78,7 persen.
Di Sangatta Utara, hasil pemantauan menunjukkan indeks kualitas udara 161 dengan polutan utama PM2.5.
Angka tersebut berada pada kategori tidak sehat dalam hasil pemantauan yang diterima Dinkes.
Yuwana mengatakan laporan dari sejumlah wilayah masih dikumpulkan karena belum seluruh puskesmas dapat mengirimkan data.
Namun, berdasarkan laporan sementara, kondisi udara tidak hanya terjadi di satu wilayah. “Long Mesangat, Muara Bengkal, Kaubun, Busang itu sama kondisinya. Kemudian daerah Wahau, Kombeng sama juga. Sangata Utara, Sangata Selatan sama,” ujarnya.
Ia menuturkan, pihaknya masih belum dapat memastikan sumber asap yang menyelimuti Kutim.
Menurutnya, asap bisa saja berasal dari kebakaran di wilayah Kutim maupun terbawa dari daerah lain.
“Kita belum berani menyampaikan ini dari mana. Yang jelas kondisinya memang asapnya ini sudah mulai mengganggu dari sisi kesehatan,” katanya.
Dinkes juga memantau kondisi kualitas udara di wilayah lain di Kaltim. Menurut Yuwana, laporan mengenai kondisi udara yang buruk juga diterima dari sejumlah daerah di luar Kutim.
Untuk mengurangi risiko paparan, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, Dinkes menganjurkan penggunaan masker, terutama masker N95, KN95 atau KF94.
“Seandainya pun keluar rumah pakai masker, masker yang safety. Tapi kalau misalnya tidak ada ya masker yang ada,” tuturnya.
Selain penggunaan masker, masyarakat juga dianjurkan menggunakan pelindung tambahan seperti topi, kacamata dan pakaian panjang ketika beraktivitas di luar ruangan.
Dinkes Kutim, kata Yuwana, telah menyiapkan masker untuk dibagikan kepada masyarakat meski stok yang tersedia masih terbatas.
Pihaknya juga telah mengajukan permintaan tambahan masker kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan.
Yuwana juga meminta masyarakat memperbanyak konsumsi air putih dan mengurangi minuman berkafein secara berlebihan.
Masyarakat diminta menjaga ketersediaan air bersih karena kondisi udara dan cuaca dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Selain itu, masyarakat diingatkan tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar.
“Jangan sampai membakar sampah atau membuka lahan, sehingga ini menyebabkan kabut asap,” ujarnya.
Menurut Yuwana, paparan asap dan kondisi lingkungan yang kurang mendukung dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan, di antaranya infeksi saluran pernapasan, gangguan kulit, dehidrasi hingga heatstroke.
Kekurangan air bersih juga berpotensi meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan seperti diare.
Kondisi udara kabur juga tercantum dalam prakiraan BMKG untuk wilayah perairan Kutim pada Rabu siang.
BMKG mencatat, kondisi udara kabur pada periode siang hingga sore sebelum berubah menjadi berawan tebal pada malam hari.


