Kasus Diare Akut Meningkat di Musim Kemarau, Dinkes Balikpapan Imbau Faskes Tingkatkan Kewaspadaan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus Diare Akut Meningkat di Musim Kemarau, Dinkes Balikpapan Imbau Faskes Tingkatkan Kewaspadaan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus Diare Akut Meningkat di Musim Kemarau, Dinkes Balikpapan Imbau Faskes Tingkatkan Kewaspadaan

Kepala Dinkes Balikpapan, Alwiati. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan, Alwiati menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor 400.7.8/2600/DINKES terkait Kewaspadaan Terhadap Peningkatan Kasus Diare Akut pada Musim Kemarau dan Penguatan Pengamanan Air Bersih. 

Langkah tersebut diambil menyusul ditemukannya lonjakan kasus diare di Kota Balikpapan pada pertengahan Agustus 2026.

Berdasarkan data Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) Kota Balikpapan, lonjakan kasus signifikan terjadi pada Minggu ke-34 di 2026 yang mencapai 524 kasus. 

Angka ini melonjak dibandingkan minggu sebelumnya yang mencatatkan 466 kasus, sekaligus menjadi angka tertinggi dalam periode lima minggu terakhir. 

Secara akumulatif dari Minggu ke-30 hingga Minggu ke-34 pada tahun ini, total kasus diare akut di Balikpapan mencapai 2.577 kasus, tertinggi secara absolut di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).

Alwiati menjelaskan bahwa keterbatasan ketersediaan air bersih perpipaan selama musim kemarau dapat mendorong perubahan sumber air yang digunakan oleh masyarakat. 

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memengaruhi higiene, sanitasi, pengolahan air minum, serta keamanan pangan di lingkungan rumah tangga.

"Meskipun peningkatan kasus tidak serta-merta dapat disimpulkan akibat musim kemarau yang memanjang, kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui penguatan surveilans, koordinasi multi sektor, kesiapan tata laksana klinis, dan edukasi kepada masyarakat," ucap Alwiati, Kamis (17/9/2026).

Sehubungan dengan lonjakan kasus tersebut, Alwiati meminta seluruh fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit, puskesmas, klinik, hingga dokter praktik mandiri untuk memperketat pemantauan dan melaporkan perkembangan kasus secara rutin serta tepat waktu minimal sepekan sekali.

"Segera melaporkan kepada Dinas Kesehatan paling lambat 1x24 jam apabila ditemukan peningkatan kasus yang tidak lazim, pengelompokan kasus (cluster), kasus berat, atau kematian yang diduga berkaitan dengan diare," tegasnya.

Selain penguatan pengawasan, Alwiati menginstruksikan jajaran fasilitas pelayanan kesehatan untuk memastikan ketersediaan logistik medis standar seperti Oralit, Zinc, dan cairan rehidrasi. 

Ia juga mengimbau tenaga kesehatan agar gencar mengedukasi masyarakat terkait perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk kebiasaan cuci tangan pakai sabun, penggunaan jamban sehat, serta kepastian mengolah air minum dengan merebusnya hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

Khusus untuk puskesmas, Alwiati menegaskan pentingnya menjalin koordinasi erat dengan jajaran kelurahan, kecamatan, serta lintas sektor terkait guna mengidentifikasi wilayah yang mengalami keterbatasan air bersih dan melakukan pengawasan kualitas air pada sumber-sumber yang berisiko.