Reporter: Herdiansyah l Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kaltim menyerukan tanggap darurat dan aksi kemanusiaan menyikapi kondisi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kaltim.
Ketua PWM Kaltim, KH Muhammad Jafron, mengatakan kondisi tersebut membutuhkan respons cepat, terpadu, dan berkelanjutan dari berbagai elemen masyarakat.
“Bencana kekeringan dan karhutla ini merupakan musibah yang memerlukan respons cepat, terpadu, dan berkelanjutan,” kata KH Muhammad Jafron, Kamis (17/9/2026).
Menurutnya, penanganan bencana tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan atas dasar rasa iba. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak harus menjadi perhatian utama.
“Pemberian pertolongan kepada korban bencana adalah kewajiban kelompok masyarakat yang berkelebihan sumber daya, bukan sekadar rasa kasihan,” tegasnya.
Ia menambahkan, bantuan yang diberikan harus benar-benar diarahkan untuk memenuhi hak dasar para korban bencana.
“Bantuan kemanusiaan harus berorientasi pada pemenuhan hak-hak dasar korban, termasuk hak atas air bersih, pangan, dan layanan kesehatan,” sambungnya.
Untuk mempercepat penanganan di lapangan, PWM Kaltim meminta seluruh elemen Muhammadiyah ikut bergerak. Mulai dari organisasi dan lembaga seperti Lazismu, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Aisyiyah, hingga pimpinan ranting dan cabang diminta mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.
“Seluruh elemen Muhammadiyah di Kaltim, mulai dari Lazismu, MDMC, Aisyiyah, hingga ranting dan cabang, kami minta untuk bergerak aktif,” harapnya.
Salah satu langkah yang didorong adalah pendistribusian air bersih ke wilayah yang terdampak kekeringan.
“Kami mendorong pendistribusian air bersih ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan,” tuturnya.
Di sisi lain, PWM Kaltim mengajak masyarakat untuk meningkatkan ikhtiar spiritual di tengah kondisi bencana yang terjadi.
“Kami mengimbau seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat Muslim pada umumnya untuk memperbanyak istigfar dan tobat kepada Allah,” ungkapnya.
Ia juga mengajak masyarakat melaksanakan salat istisqa sebagai bagian dari ikhtiar menghadapi kondisi kekeringan.
“Laksanakan salat istisqa secara berjamaah di masjid atau lapangan terbuka. Pelaksanaannya dapat dipandu oleh imam atau pimpinan daerah setempat,” pungkasnya.


