Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Bambang Irawan
BONTANG - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bontang mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul kondisi kualitas udara yang berubah dalam beberapa hari terakhir. Pemantauan kualitas udara menunjukkan adanya peningkatan konsentrasi partikulat PM2,5 yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.
Kepala Dinkes Kota Bontang, Toetoek Pribadi Ekowati, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan pada Rabu (16/9/2026) pukul 17.00 WITA, ISPU PM2,5 Kota Bontang berada di angka 75 dan masih termasuk kategori sedang.
Namun, kondisi tersebut kemudian mengalami perubahan. Pada Kamis (17/9/2026), nilai ISPU tercatat mencapai 125, yang menunjukkan kualitas udara berada pada kondisi yang perlu mendapat perhatian lebih.
“Belum perlu panik, tetapi sudah harus waspada dan melakukan perlindungan,” ujar Toetoek.
Menurutnya, Dinkes Kota Bontang saat ini belum menggunakan istilah darurat terkait kondisi kualitas udara. Dinkes juga belum merekomendasikan peliburan sekolah secara otomatis hanya berdasarkan angka ISPU.
Meski demikian, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan mengingat kondisi pencemaran udara saat ini dikaitkan dengan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Paparan partikulat dari asap dapat memberikan dampak terhadap kesehatan, khususnya pada anak-anak dan kelompok masyarakat yang lebih rentan.
Toetoek mengatakan kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih antara lain balita, anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki asma, penyakit jantung, maupun penyakit kronis lainnya.
Dinkes mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara mulai dipenuhi asap atau jarak pandang mengalami penurunan. Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas fisik berat seperti olahraga maupun pekerjaan yang membutuhkan tenaga besar di ruang terbuka ketika kualitas udara menurun.
"Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah, penggunaan masker yang menutup hidung dan mulut dengan baik dianjurkan untuk membantu mengurangi paparan debu dan partikulat asap," ujarnya pada Wartawan Pusaranmedia.com.
Selain perlindungan dari paparan langsung, masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan beristirahat cukup, memperbanyak minum air putih, serta mengonsumsi makanan bergizi.
Langkah tersebut penting dilakukan terutama apabila mulai muncul keluhan ringan seperti batuk, pilek, atau sakit tenggorokan.
Dinkes juga meminta masyarakat tidak hanya memantau angka kualitas udara, tetapi memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing. Sebab, kualitas udara dapat berubah sewaktu-waktu mengikuti kondisi lingkungan dan sumber pencemar.
Jika muncul gejala yang mengarah pada kondisi serius, masyarakat diminta segera mendapatkan pertolongan medis. Balita dan lansia harus segera dibawa ke Puskesmas atau rumah sakit apabila mengalami sesak atau kesulitan bernapas berat, napas sangat cepat, nyeri atau rasa sesak di dada, penurunan kesadaran, maupun kelemahan tubuh secara drastis.
Terkait aktivitas pendidikan, Toetoek menjelaskan penyesuaian kegiatan pembelajaran, termasuk kemungkinan peliburan sementara sekolah, dapat dilakukan apabila kualitas udara memburuk dan dinilai berisiko terhadap kesehatan peserta didik.
Keputusan tersebut, kata dia, perlu didasarkan pada hasil pemantauan kualitas udara serta rekomendasi dan koordinasi dengan instansi terkait.
Dengan demikian, kondisi ISPU saat ini tidak serta-merta menjadi dasar untuk menyatakan keadaan darurat maupun meliburkan seluruh sekolah. Namun, peningkatan angka ISPU menjadi sinyal agar langkah perlindungan kesehatan mulai diperkuat.
Dinkes Kota Bontang memastikan pemantauan terhadap perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat akan terus dilakukan. Apabila terjadi peningkatan ISPU atau perkembangan kondisi yang signifikan, langkah perlindungan kesehatan akan disesuaikan dengan tingkat risiko dan situasi di lapangan.
Toetoek kembali menekankan agar masyarakat tidak bereaksi secara berlebihan terhadap kondisi kabut asap yang terjadi. Masyarakat diminta tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan langkah pencegahan.
“Belum perlu panik, tetapi sudah harus waspada dan melakukan perlindungan,” menjadi pesan utama Dinkes Kota Bontang kepada masyarakat di tengah perubahan kualitas udara saat ini.


