Balai TNKM Belajar dari SAE Lanuka, Ubah 10 Hektare Lahan jadi Ruang Publik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito didampingi Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan saat mengunjungi SAE Lanuka di Kecamatan Nunukan Selatan (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito didampingi Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan saat mengunjungi SAE Lanuka di Kecamatan Nunukan Selatan (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Balai TNKM Belajar dari SAE Lanuka, Ubah 10 Hektare Lahan jadi Ruang Publik

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito didampingi Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan saat mengunjungi SAE Lanuka di Kecamatan Nunukan Selatan (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kepala Balai TNKM Seno Pramudito didampingi Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan saat mengunjungi SAE Lanuka di Kecamatan Nunukan Selatan (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Balai TNKM Belajar dari SAE Lanuka, Ubah 10 Hektare Lahan jadi Ruang Publik

Kepala Balai TNKM Seno Pramudito didampingi Kepala Lapas Kelas IIB Nunukan saat mengunjungi SAE Lanuka di Kecamatan Nunukan Selatan (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin

NUNUKAN — Tidak semua lahan yang berada di balik tembok lembaga pemasyarakatan berakhir sebagai ruang tertutup.

Di Nunukan, sebagian kawasan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB justru dikembangkan menjadi lahan produktif yang memiliki fungsi pembinaan, edukasi hingga rekreasi masyarakat.

Transformasi itu terlihat di Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Lapas Nunukan (Lanuka), kawasan seluas sekitar 10 hektare yang kini dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, mulai dari perikanan, akuakultur, peternakan hingga wisata.

Pengembangan kawasan tersebut menarik perhatian Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM), Seno Pramudito saat berkunjung ke SAE Lanuka.

Seno menilai pemanfaatan lahan di kawasan Lapas Nunukan memberikan pelajaran penting bahwa sebuah lahan tidak selalu dapat dinilai dari kondisi awalnya. Dengan pengelolaan yang tepat, kawasan yang sebelumnya kurang produktif dapat berubah menjadi ruang yang memiliki manfaat lebih luas.

“Di sini kita bisa belajar banyak. Lahan yang sebelumnya mungkin tidak terlalu produktif, sekarang bisa menjadi produktif dan bisa dinikmati oleh masyarakat sekitar,” kata Seno kepada pusaranmedia.com.

Dalam kunjungan tersebut, Seno didampingi Kepala Subbagian Tata Usaha Balai TNKM Gusta Fitriadi Adi, Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Balai TNKM Hery Gunawan, serta sejumlah personel.

Kepala Lapas Nunukan Donny Setiawan, mengatakan lahan sekitar 10 hektare tersebut memang dirancang untuk memiliki fungsi yang lebih luas.

“Lahan ini digunakan untuk kegiatan sosialisasi dan edukasi, baik untuk kegiatan pembinaan warga binaan maupun kegiatan wisata masyarakat,” ujar Donny.

Konsep tersebut membuat SAE Lanuka memiliki karakter berbeda dari pemanfaatan lahan Lapas pada umumnya. Aktivitas pembinaan berjalan bersamaan dengan pengembangan potensi lingkungan dan kegiatan yang dapat melibatkan masyarakat.

Sejumlah sektor dikembangkan di kawasan tersebut, di antaranya perikanan, akuakultur dan peternakan. Pengelolaan berbagai sektor itu menjadi bagian dari upaya menjadikan lahan tidak sekadar sebagai tempat beraktivitas, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran dan pengembangan produktivitas.

Daya tarik SAE Lanuka semakin kuat karena letaknya yang menawarkan panorama laut. Dari kawasan tersebut, pengunjung dapat melihat pemandangan perairan serta sejumlah wilayah kepulauan di sekitar Nunukan dan Sebatik.

Bagi Seno, pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa pengelolaan kawasan dapat dimulai dari potensi yang sederhana, kemudian dikembangkan secara bertahap hingga memiliki nilai edukasi dan wisata.

“Ini juga menjadi panduan bagi kami dalam mengimplementasikan pemanfaatan lahan untuk kegiatan-kegiatan yang memiliki nilai wisata dan edukasi. Kadang kita melihat suatu kawasan tidak berpotensi, tetapi ternyata masih bisa berkembang menjadi potensi,” tuturnya.

Sementara bagi TNKM, SAE Lanuka memberikan perspektif mengenai pentingnya melihat sebuah kawasan secara lebih menyeluruh bukan hanya berdasarkan fungsi awalnya, tetapi juga dari potensi edukasi, produktivitas, lingkungan dan manfaat sosial yang dapat dikembangkan.