Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Perumda Manuntung Sukses Balikpapan mengantisipasi potensi kenaikan harga pangan di tengah kondisi iklim dan pasokan yang dapat memengaruhi ketersediaan komoditas di pasaran.
Direktur Utama Perumda Manuntung Sukses Balikpapan, Andi Sangkuru mengatakan, ketika pasokan berkurang sementara permintaan masyarakat tetap, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga.
Menurutnya, kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi biaya distribusi dari daerah penghasil pangan menuju Balikpapan.
Saat ini, sebagian pasokan komoditas yang dijual Perumda masih diperoleh melalui distributor, termasuk dari daerah penghasil di Jawa dan Sulawesi.
"Kalau di pabrik memang sudah naik, otomatis di sini juga ikut menaikkan. Ditambah lagi daerah penghasil itu di Jawa sama Sulawesi, jadi butuh ongkos angkut dari Jawa dan Sulawesi ke sini," ucap Andi, Kamis (17/9/2026).
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Perumda menerapkan strategi menjaga stok di gudang agar tidak sampai kosong.
Andi mengibaratkannya seperti tangki bensin kendaraan yang harus terus diisi ketika volumenya berkurang.
"Kalau keluar 10, saya beli 10 lagi. Keluar 100, saya beli 100. Jadi jumlah barang di gudang itu tetap, jangan sampai berkurang," katanya.
Ia menegaskan, strategi tersebut bukan berarti Perumda melakukan penimbunan barang.
Pengadaan dilakukan menyesuaikan kebutuhan dan kapasitas gudang agar stok tetap tersedia tanpa menimbulkan persoalan dalam penyimpanan.
"Sama seperti tangki bensin mobil kita, begitu kurang, isi lagi. Kurang satu liter, isi satu liter. Kurang 10 liter, isi 10 liter. Jadi jangan sampai orang mau beli barang, kita enggak punya barang," jelasnya.
Menurutnya, pembelian dalam jumlah lebih besar dapat dilakukan apabila barang tersebut sudah memiliki pesanan dan langsung disalurkan kepada pelanggan. Namun, jika belum ada pesanan, pengadaan disesuaikan dengan kapasitas gudang.
Ia menyebut, penyimpanan stok yang melebihi kapasitas justru dapat menimbulkan risiko, seperti kerusakan barang maupun keamanan.
"Kalau barang itu diam di gudang, jangan lebih daripada kapasitas gudang. Karena kalau lebih, mau disimpan di mana? Di emperan? Kena hujan, dimaling orang? Malah banyak risiko," ujarnya.
Dalam menjalankan fungsi pelayanan publik, Perumda juga mendapat penugasan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan untuk turut menstabilkan harga komoditas pangan yang berkontribusi terhadap inflasi.
Salah satunya melalui Kios Penyeimbang yang saat ini berada di Pasar Klandasan dan Pasar Pandansari.
Kios tersebut menyediakan sejumlah kebutuhan pokok seperti beras medium dan premium, gula, minyak goreng, serta telur.
"Jadi kami ditugaskan sama Pemerintah Kota untuk turut serta dalam menstabilkan harga, khususnya komoditi pangan yang berkontribusi ke inflasi," katanya.
Untuk komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang, Perumda juga menyediakan dalam jumlah terbatas karena keterbatasan sarana dan prasarana.
Sementara empat komoditas utama, yakni beras, gula, minyak dan telur, diupayakan tersedia secara berkelanjutan.
Kios Penyeimbang beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 14.00 WITA, kecuali Selasa. Masyarakat dapat membeli langsung tanpa harus menjadi anggota atau memiliki keanggotaan khusus.
Dalam penyaluran komoditas tertentu, Perumda juga mengikuti ketentuan harga yang berlaku. MinyaKita, misalnya, dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET), sementara beras SPHP disalurkan dengan harga sesuai ketentuan yang ditetapkan.
Andi mengatakan, Kios Penyeimbang yang telah berjalan sekitar dua tahun mulai memiliki pelanggan tetap. Bahkan, sejumlah pelaku usaha membeli kebutuhan pangan secara rutin.
"Beberapa masyarakat itu sudah kenal, jadi mereka boleh dibilang sudah repeat order, sudah pelanggan yang kembali lagi," ungkapnya.
Ia mencontohkan, terdapat pelanggan yang merupakan penjual nasi goreng dan secara rutin membeli beras serta telur setiap beberapa hari sekali.
Selain Kios Penyeimbang, Perumda juga menjalankan bisnis komersial dengan memasok kebutuhan pangan kepada sektor hotel, restoran, kafe, katering hingga warung.
Untuk sektor komersial tersebut, komoditas yang digunakan umumnya merupakan produk premium.
Meski memiliki fungsi komersial, Perumda tetap menjalankan penugasan pemerintah dalam membantu menjaga stabilitas harga dan pengendalian inflasi di Kota Balikpapan.
Di sisi lain, Andi mengakui ketersediaan MinyaKita terkadang mengalami kekosongan akibat adanya kuota.
Sementara beras SPHP juga dapat mengalami kendala apabila terjadi persoalan dalam proses pengiriman.
"MinyaKita itu memang ada kuota. Jadi kadang MinyaKita itu stoknya kosong. SPHP juga kadang mungkin kendala pengiriman, tapi SPHP enggak terlalu, MinyaKita yang biasanya kosong," katanya.
Menurut Andi, kondisi iklim juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai karena dapat memengaruhi pasokan pangan. Ketika produksi menurun sementara permintaan tetap, harga berpotensi mengalami kenaikan.
"Dengan kondisi iklim ini berarti nanti supply akan berkurang, permintaan tetap, ya pasti akan ada kenaikan harga," ujarnya.
Meski demikian, ia menegaskan Perumda akan terus berupaya menjaga ketersediaan stok dan menjalankan penugasan pemerintah untuk membantu mengendalikan dampak kenaikan harga pangan terhadap inflasi di Balikpapan.


