Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Harga pakan menjadi salah satu beban terbesar dalam usaha budi daya ikan.
Kondisi tersebut mendorong Dinas Perikanan (Diskan) Kabupaten Berau mencari alternatif melalui pengembangan pakan mandiri berbahan baku lokal di Kampung Batu-Batu.
Program ini masih dalam tahap percontohan. Namun, dari perhitungan awal, pakan yang diracik menggunakan bahan lokal berpotensi memangkas biaya produksi secara signifikan dibandingkan penggunaan pakan pabrikan.
Kepala Bidang Budi Daya, Budiono, menjelaskan pakan mandiri tersebut dibuat dengan memanfaatkan bahan yang relatif mudah diperoleh di daerah.
Tiga bahan utama yang digunakan yakni tepung ikan atau ikan reject, dedak, serta tepung tapioka sebagai bahan perekat. Ikan reject diperoleh dari Tanjung Batu dengan harga sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram.
“Bahan utamanya ikan reject, dedak, dan tapioka,” kata Budiono.
Dari racikan tersebut, biaya operasional pembuatan pakan diperkirakan berada di kisaran Rp6.000 hingga Rp7.000 per kilogram. Nilai itu jauh lebih rendah dibandingkan pakan komersial yang saat ini berada di kisaran Rp15.000 sampai Rp20.000 per kilogram.
Selisih harga tersebut menjadi alasan Diskan mendorong pengembangan pakan mandiri sebagai salah satu upaya menekan biaya produksi pembudidaya, khususnya masyarakat di kawasan lingkar tambang.
Meski demikian, Diskan belum akan langsung menerapkan pakan tersebut secara luas. Pengujian masih dilakukan untuk melihat efektivitasnya terhadap pertumbuhan ikan sekaligus memastikan kandungan nutrisi yang dibutuhkan tetap terpenuhi.
“Sekarang masih kami uji untuk melihat hasil dan kandungan gizinya,” ujarnya.
Jika hasil pengujian memenuhi standar, teknologi pembuatan pakan tersebut nantinya akan diberikan kepada para pembudidaya. Dengan begitu, masyarakat tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki kemampuan memproduksi pakan secara mandiri menggunakan bahan yang tersedia di sekitar mereka.
Pengembangan program ini juga tidak berjalan sendiri. Diskan menggandeng pihak swasta dan pemerintah kampung untuk membangun ekosistem budi daya mulai dari penyediaan benih hingga pemasaran hasil produksi.
Penyediaan benih akan didukung Diskan maupun pihak swasta, sedangkan pembudidaya mendapatkan pendampingan dalam pembuatan pakan. Sementara pemerintah kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) diarahkan mengambil peran dalam pemasaran hasil budi daya.
Potensi pasar dari sektor pariwisata di sekitar Kampung Batu-Batu juga akan dimanfaatkan sebagai bagian dari strategi pemasaran.
Budiono berharap pola tersebut dapat membuat usaha budi daya ikan di Batu-Batu berkembang lebih mandiri. Tidak hanya menekan pengeluaran, tetapi juga membuka peluang terbentuknya rantai usaha dari produksi hingga pemasaran di tingkat kampung.
“Kalau uji cobanya berhasil, cara pembuatannya akan kami transfer ke pembudidaya,” pungkasnya. (Adv)



