Kasus ISPA di Samarinda Meningkat, Dinkes Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA di Samarinda Meningkat, Dinkes Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kasus ISPA di Samarinda Meningkat, Dinkes Minta Warga Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Samarinda mencatat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Samarinda meningkat hingga hampir 30 persen sepanjang periode 1–17 September 2026. 

Kondisi ini terjadi di tengah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti hampir seluruh wilayah kota.

Kepala Dinkes Kota Samarinda, Ismid Kusasih mengatakan, peningkatan kasus ISPA menjadi perhatian seiring kondisi kualitas udara yang berada pada kategori tidak sehat hingga cukup berbahaya.

“ISPA ini meningkat sampai periode 1–17 September, hampir 30 persen,” kata Ismid, Kamis (18/9/2026). 

Dinkes juga melakukan pemantauan di 26 puskesmas di Kota Samarinda. Pemeriksaan kualitas udara di dalam ruangan menggunakan Particle Counter menunjukkan hampir seluruh puskesmas memiliki kadar PM2.5 dan PM10 di atas kondisi normal.

Kondisi tersebut turut menjadi pertimbangan Dinkes dalam merekomendasikan pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagi siswa TK, SD, dan SMP. 

Rekomendasi itu kemudian diputuskan Satgas Penanganan Bencana Kekeringan dan Karhutla Kota Samarinda untuk diberlakukan pada 17–19 September 2026.

Ismid menyebut kebijakan tersebut dilakukan untuk mengurangi paparan anak-anak terhadap kondisi udara yang sedang tidak baik. Evaluasi akan dilakukan setelah masa pelaksanaan PJJ dengan melihat perkembangan kualitas udara dan kondisi kesehatan masyarakat.

Selain memantau perkembangan ISPA, Dinkes memastikan ketersediaan obat-obatan, peralatan kesehatan, serta logistik pendukung di fasilitas pelayanan kesehatan.

Koordinasi dengan Kementerian Kesehatan juga dilakukan untuk mengantisipasi kebutuhan masker dan perlengkapan lainnya apabila diperlukan.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Penggunaan masker juga dianjurkan, terutama saat harus beraktivitas di luar rumah.

"Kita sudah mengajjurkan imbauan ya, artinya mengurangi aktivitas di luar, harapannya peningkatannya tidak signifikan," pungkasnya.