Banner ADV

Kabut Asap Mulai Ganggu Nelayan Berau, Jarak Pandang di Laut Menurun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Perikanan, Abdul Majid. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Perikanan, Abdul Majid. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kabut Asap Mulai Ganggu Nelayan Berau, Jarak Pandang di Laut Menurun

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Perikanan, Abdul Majid. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Perikanan, Abdul Majid. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kabut Asap Mulai Ganggu Nelayan Berau, Jarak Pandang di Laut Menurun

Kepala Dinas Perikanan, Abdul Majid. (Foto: Nur Hidayah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak hanya mengganggu aktivitas masyarakat di daratan. Kondisi serupa mulai dirasakan nelayan di sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Berau.

Asap yang menyelimuti wilayah perairan membuat jarak pandang nelayan menjadi terbatas. Situasi ini cukup menyulitkan, terutama bagi nelayan yang melaut pada pagi hari ketika kabut dan asap masih cukup pekat.

Kondisi jarak pandang yang menurun juga membuat nelayan harus meningkatkan kewaspadaan saat menuju lokasi penangkapan ikan. Patokan daratan maupun pulau yang biasanya digunakan untuk membantu navigasi bisa lebih sulit terlihat ketika asap menebal.

Kepala Dinas Perikanan Berau, Abdul Majid, mengakui kondisi cuaca dan kabut asap perlu menjadi perhatian bagi nelayan yang tetap menjalankan aktivitas di laut.

“Nelayan harus lebih berhati-hati, terutama ketika jarak pandang terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama. Nelayan diminta tidak memaksakan diri melaut apabila kondisi di perairan dinilai membahayakan, terlebih jika pandangan sudah terlalu terbatas.

“Kalau kondisi tidak memungkinkan, jangan dipaksakan untuk melaut,” katanya.

Abdul Majid juga mengingatkan nelayan untuk memperhatikan perkembangan cuaca sebelum berangkat. Selain membawa perlengkapan keselamatan, nelayan perlu memastikan kondisi perairan dan visibilitas cukup aman untuk melakukan perjalanan maupun aktivitas penangkapan ikan.

Kabut asap sendiri masih menjadi persoalan di Berau. BMKG sebelumnya melaporkan adanya asap, kabut dan haze yang terpantau dari pagi hingga malam hari, dengan jarak pandang di kawasan Bandara Kalimarau sempat berada pada kisaran 2 hingga 4,5 kilometer. 

Kondisi tersebut menunjukkan dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kualitas udara dan kesehatan, tetapi juga mulai menyentuh aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada laut.

Bagi nelayan, berkurangnya jarak pandang berarti perjalanan menuju lokasi tangkap membutuhkan kehati-hatian lebih. Karena itu, Dinas Perikanan mengimbau agar keselamatan tidak dikorbankan demi mengejar hasil tangkapan.

“Yang paling penting keselamatan nelayan. Hasil tangkapan bisa dicari ketika kondisi sudah memungkinkan,” pungkas Abdul Majid. (Adv)