Banner ADV

Kabut Asap Menebal, Kasus ISPA Berau Tembus 5.100

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca2988 kali dibaca
Kabut asap di Tepian Ahmad Yani. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kabut asap di Tepian Ahmad Yani. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kabut Asap Menebal, Kasus ISPA Berau Tembus 5.100

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca2988 kali dibaca
Kabut asap di Tepian Ahmad Yani. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kabut asap di Tepian Ahmad Yani. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kabut Asap Menebal, Kasus ISPA Berau Tembus 5.100

2988
Kabut asap di Tepian Ahmad Yani. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Kabut asap kembali menebal di sejumlah wilayah Kabupaten Berau. Bukan hanya mengurangi jarak pandang, kondisi ini juga mulai terlihat dari meningkatnya gangguan kesehatan masyarakat.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat sekitar 5.100 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Angka tersebut menjadi yang tertinggi selama tahun ini, jauh di atas kondisi normal yang berkisar 2.000–3.000 kasus per bulan.

Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Dinkes Berau, Rahmawati, mengatakan jumlah tersebut masih berasal dari kasus yang tercatat di fasilitas pelayanan kesehatan.

Masyarakat yang memilih melakukan pengobatan sendiri di rumah belum masuk dalam catatan tersebut.

“Sekitar 5.100 kasus dan ini yang tertinggi selama 2026,” ujarnya.

Lonjakan kasus tersebut terjadi ketika kualitas udara di Berau kembali memburuk akibat kabut asap. Konsentrasi partikel udara seperti PM2,5 dan PM10 menjadi perhatian karena ukurannya yang sangat kecil memungkinkan partikel masuk hingga ke saluran pernapasan dan paru-paru.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau kini tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan kondisi kasatmata. Bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), pemerintah melakukan pemantauan kualitas udara menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS) untuk mendapatkan gambaran kondisi udara secara lebih akurat.

Wakil Bupati Berau, Gamalis, menyebut kondisi kabut asap sempat mengalami perbaikan. Namun, dalam beberapa hari terakhir, asap kembali menebal dan membuat kualitas udara memburuk. “Kondisinya sempat membaik, tetapi kembali memburuk dalam sepekan terakhir,” kata Gamalis.

Pemkab juga menyiapkan pengukuran kualitas udara dengan standar Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di kawasan Kantor Bupati Berau. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menentukan kebijakan berikutnya.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak menganggap remeh kabut asap. Aktivitas di luar ruangan yang tidak mendesak disarankan untuk dikurangi, sementara penggunaan masker kembali ditekankan, terutama bagi kelompok yang rentan terdampak polusi udara.

“Untuk sementara, masyarakat kami minta kembali menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan penting,” tuturnya.

Perhatian juga diarahkan kepada anak-anak. Pemkab Berau berencana memperpanjang kebijakan Belajar dari Rumah (BDR) sebagai bagian dari upaya mengurangi paparan udara buruk.

Gamalis mengingatkan, kebijakan BDR bukan berarti anak-anak justru memiliki keleluasaan beraktivitas di luar rumah.

“BDR bukan berarti anak-anak bebas beraktivitas di luar. Tetap di rumah jika tidak ada keperluan,” tegasnya.

Dinkes Berau kembali mengingatkan masyarakat agar menjadikan perlindungan diri sebagai langkah utama selama kualitas udara belum kembali normal. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan dan membatasi aktivitas yang tidak diperlukan menjadi langkah sederhana yang dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan. (Adv)