Reporter: Bambang Irawan | Editor: Buniyamin
Pagi itu, sejumlah pemuda Dayak Kenyah berkumpul di ujung jalan desa. Mereka terlihat kompak mengenakan kaus putih tanpa lengan, topi atau tapung berbahan anyaman daun pandan, serta kalung atau uleng dari susunan manik-manik warna-warni. Di pinggang terselip mandau, senjata tradisional khas suku Dayak.
Tepat di depan mereka, tampak sebuah perahu kayu sepanjang lima meter berukiran khas Dayak dengan ornamen Burung Enggang pada bagian depan. Perahu tersebut diletakkan di atas susunan bambu panjang menyerupai rakit.
Uniknya, perahu itu tidak hanyutkan ke sungai, tetapi diletakkan di atas tanah untuk kemudian dipikul bersama-sama oleh para pemuda tersebut. Dalam bahasa Dayak Kenyah, perahu tersebut disebut Alut Adang. Alut berarti perahu, sedangkan Adang berarti terbang.
Tak berselang lama yang ditunggu tiba, dari kejauhan terlihat kepulan debu dari kendaraan yang membawa rombongan pejabat Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara. Di antaranya Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan H. Heriansyah serta Camat Muara Badak Arpan, S.Sos.
Selanjutnya, para tamu kehormatan tersebut didaulat naik ke atas perahu dan diarak menuju Lamin Adat atau balai pertemuan. Arak-arakan tersebut diiringi pertunjukan Tari Perang yang dilakukan para pemuda Dayak Kenyah.
Prosesi itu merupakan tradisi penyambutan tamu kehormatan masyarakat Dayak Kenyah. Perahu dipikul bersama-sama oleh para pemuda adat, seolah-olah sedang terbang di atas daratan.
Tradisi tersebut menjadi salah satu rangkaian Festival Budaya Dayak Kenyah Mecaq Undat yang digelar selama dua hari, 27–28 Agustus 2026, di Lamin Adat Pemung Madung, Desa Budaya Sungai Bawang, Kecamatan Muara Badak, Kutai Kartanegara (Kukar), Kaltim.
Mecaq Undat merupakan pesta adat setelah panen padi yang menjadi ungkapan rasa syukur, sarana melestarikan tradisi, sekaligus bentuk penghormatan masyarakat Dayak Kenyah terhadap leluhur.
Secara harfiah, Mecaq Undat berarti menumbuk beras secara bersama-sama menggunakan lesung panjang hingga menjadi tepung. Pesta adat ini bukan sekadar perayaan atas keberhasilan panen, tetapi juga memiliki nilai spiritual dan sosial bagi masyarakat.
Masyarakat Dayak Kenyah percaya hasil panen pada musim berikutnya akan lebih baik apabila hasil panen dibagikan sebagai bentuk penghormatan kepada arwah leluhur. Para leluhur dipercaya akan menjaga ladang dari hama serta membawa keberkahan pada musim tanam berikutnya.
Tradisi yang Menyatukan Warga
Kepala Adat Desa Budaya Sungai Bawang, Amos Usat, mengatakan pelaksanaan Mecaq Undat biasanya digelar pada akhir Maret atau awal April. Waktu tersebut menandai peralihan musim tanam menuju musim tanam berikutnya.
"Namun, sekarang waktunya bisa bergeser tergantung kesiapan anggaran dan pemerintah kabupaten," katanya.
Menurut Amos, sebelum ada keterlibatan pemerintah, Mecaq Undat dilaksanakan secara sederhana dengan mengandalkan swadaya masyarakat.
"Kami iuran. Satu kepala keluarga itu bisa sampai Rp200 ribu dan beras lima kilogram," katanya.
Amos menegaskan, Mecaq Undat bukan sekadar pesta panen, melainkan juga menjadi momentum memperkuat kebersamaan dan gotong royong. Seluruh warga Desa Sungai Bawang, tanpa memandang usia maupun status sosial, berbaur dalam berbagai kegiatan.
Mulai dari menyiapkan tempat, makanan, hingga pelaksanaan ritual adat.
"Kami juga mengundang saudara-saudara kami suku Dayak yang tersebar di Kaltim, seperti Desa Pampang di Samarinda, Desa Lung Anai, Pondok Labu, dan Lekaq Kidau di Kukar," katanya.
Dalam ritual Mecaq Undat, perempuan Dayak Kenyah mengenakan pakaian adat berwarna-warni dan menumbuk beras secara bergantian. Bunyi tumbukan beras di dalam lesung panjang berpadu dengan suasana meriah festival.
Perayaan semakin semarak dengan berbagai tarian khas Dayak seperti Tari Kancet Papatai atau Tari Perang, Tari Hudoq, Tari Kancet Lasan, Tari Anyam Tali, dan Tari Datun Julit.
Tarian-tarian tersebut diiringi alunan musik tradisional seperti Jatung Utang dan Sape yang menambah kekhasan suasana festival.
Panitia juga menggelar sejumlah lomba olahraga tradisional, seperti menyumpit, gasing, ngetapel, menombak, dan nyerbu.
"Pesertanya lumayan banyak. Mereka datang dari berbagai wilayah di Kaltim," katanya.
Jejak Desa Budaya Sungai Bawang
Nama Sungai Bawang berasal dari bahasa Dayak yang berarti air rawa. Nama tersebut merujuk pada kawasan rawa sepanjang sekitar 400 meter di pintu masuk desa yang menjadi salah satu ciri khas wilayah tersebut karena tidak pernah kering.
Desa Sungai Bawang berada di Kecamatan Muara Badak dan berbatasan langsung dengan Kelurahan Budaya Pampang, Kota Samarinda. Desa ini memiliki luas wilayah 1.636 kilometer persegi dengan jumlah penduduk 1.695 jiwa dan kepadatan 32 jiwa per kilometer persegi.
Lokasinya cukup strategis karena tidak jauh dari jalur poros Samarinda–Bontang serta Bandar Udara APT Pranoto.
Permukiman Sungai Bawang didirikan oleh dua tokoh asal Hulu Sungai Mahakam, yakni Anyeq Apul dari suku Dayak Kenyah dan Geh dari suku Dayak Bahau.
Pada awal 1980-an, Anyeq Apul dan Geh bersama keluarga dari Kampung Datah Bilang, Long Segar, dan Lutan pindah ke wilayah Karang Mumus Dalam, Samarinda.
Mereka kemudian membentuk komunitas adat yang mandiri dan berupaya mempertahankan tradisi leluhur.
Secara administratif, wilayah tersebut mengalami beberapa kali perubahan. Pada 1990–2000, wilayah Sungai Bawang masuk dalam administrasi Kota Samarinda dengan status RT 113.
Kemudian, pada 2001, wilayah tersebut bergabung dengan Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Pada 29 Agustus 2005, Sungai Bawang ditetapkan sebagai desa persiapan. Selanjutnya, pada 7 Januari 2008, Sungai Bawang diresmikan sebagai desa definitif dengan lima RT sekaligus ditetapkan sebagai desa budaya.
Amos Usat mengatakan mayoritas penduduk Sungai Bawang merupakan Dayak Kenyah Lepoq Jalan. Mereka merupakan generasi ketiga dari kelompok masyarakat yang bermigrasi dari Apo Kayan, wilayah pedalaman Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia.
"Awalnya sekitar tahun 1980-an hanya beberapa kepala keluarga yang datang. Tujuannya mencari layanan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik," katanya.
Pada 1984, sejumlah anggota keluarga lainnya menyusul dan menetap di Sungai Bawang hingga kemudian berkembang menjadi sebuah desa.
"Sebenarnya saat itu, sekitar tahun 2005, Sungai Bawang belum layak menjadi desa definitif karena jumlah penduduknya relatif sedikit. Namun, karena penduduknya memiliki tradisi kental suku Dayak Kenyah, sehingga bisa ditetapkan sebagai desa budaya," kata Amos.
Dukungan PHM Perkuat Desa Budaya Sungai Bawang
Kepala Desa Sungai Bawang, Martinus, mengatakan pelaksanaan festival budaya adat tersebut diinisiasi pemerintah desa melalui anggaran alokasi dana desa.
"Untuk pelaksanaan kegiatannya, kami percayakan semuanya kepada lembaga adat untuk mengoordinasikan agar seluruh kegiatan berjalan sesuai dengan rencana dan program yang telah dibuat bersama," katanya.
Pada festival tahun ini, pihaknya mengundang sekitar 1.500 orang, termasuk peserta lomba olahraga tradisional yang digelar secara terbuka untuk masyarakat se-Kalimantan Timur.
"Teman-teman dari Kutai Timur, Kutai Barat, Samarinda, dan Balikpapan ikut serta dalam lomba olahraga tradisional. Sedangkan untuk mengisi acara seni tari, kami mengundang saudara kita dari Desa Lekaq Kidau dan Desa Long Anai," katanya.
Martinus mengatakan salah satu kendala dalam persiapan festival adalah jumlah penduduk yang relatif sedikit. Kondisi tersebut membuat sejumlah peserta harus tampil dalam beberapa kegiatan sekaligus.
"Contohnya seperti tari-tarian yang kami tampilkan dalam pentas seni tadi. Ada anak-anak yang menari sampai dua atau tiga kali," katanya.
Menurut Martinus, pesta adat Mecaq Undat pada awalnya dilaksanakan secara sederhana dengan mengandalkan swadaya masyarakat.
Namun, kondisi tersebut perlahan berubah sejak PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) terlibat dalam pengembangan Desa Budaya Sungai Bawang pada 2018.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada manajemen PT Pertamina Hulu Mahakam yang memberikan perhatian kepada kami melalui salah satu program mereka, yaitu pengembangan kebudayaan," katanya.
Menurutnya, kehadiran PHM memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebudayaan sekaligus peningkatan kapasitas masyarakat Desa Sungai Bawang, antara lain melalui pelatihan dan program pengembangan sumber daya manusia.
Martinus mengatakan Festival Budaya Mecaq Undat dan olahraga tradisional tahun ini tidak akan berjalan lancar tanpa partisipasi dan dukungan pendanaan dari PHM.
"Awalnya sempat tidak terdukung dana panitia, tetapi dengan bantuan dari Pertamina Hulu Mahakam, acara ini bisa terselenggara dengan meriah," katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Adat Desa Budaya Sungai Bawang, Amos Usat. Ia mengatakan PHM telah berperan dalam pengembangan desa budaya melalui berbagai program, seperti pelatihan produksi kerajinan dan kesenian Dayak, pengembangan sumber daya manusia, pelatihan mengukir, hingga kunjungan budaya ke luar daerah.
"Kehadiran PHM sangat luar biasa karena sangat banyak membantu kami, masyarakat Desa Sungai Bawang," katanya.
Komitmen PHM Melestarikan Budaya
Head of Communication Relations & CID PHM, Achmad Krisna Hadiyanto, mengatakan PHM berkomitmen mendukung pelestarian budaya Dayak dan Kutai di Kalimantan Timur.
"Dukungan nyata terwujud melalui Desa Budaya Sungai Bawang dan partisipasi rutin pada Festival Mecaq Undat yang diadakan setiap tahun," katanya.
Menurut Achmad, program berbasis arahan SKK Migas (Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas) tersebut dijalankan melalui PPM atau Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat, dengan fokus pada pengembangan aset, peningkatan kompetensi, serta pengelolaan pariwisata.
Keterlibatan PHM di Desa Sungai Bawang dimulai pada periode 2018–2020. Pada tahap awal, program diarahkan untuk membangun fondasi dan melestarikan aset budaya.
Kegiatan tersebut antara lain pelatihan kerajinan anyaman, pembangunan gapura Lamin Adat dan gapura desa, bantuan kostum tari dan alat musik tradisional, pengadaan mebel Lamin Adat, asesmen lingkungan, bantuan bibit pohon untuk menunjang bahan kerajinan, serta orientasi dan studi banding pariwisata.
Memasuki periode 2021–2022, PHM melakukan penguatan kapasitas dan produk budaya. Kegiatan mencakup pelatihan perajin, seperti penggunaan pewarna alam, diversifikasi produk, pemasaran digital, partisipasi dalam pameran Inacraft, serta dukungan kepada Kelompok Wanita Tani (KWT).
Pada 2023–2024, program diarahkan pada penataan destinasi dan infrastruktur pendukung. Di antaranya pendampingan destinasi, bantuan lampu penerangan jalan umum, dukungan terhadap Festival Mecaq Undat, asesmen dan pemetaan potensi tahap kedua, serta pembangunan fasilitas pendukung wisata seperti toilet dan sarana prasarana Lamin Adat.
Pada 2025, program berlanjut pada aktivasi pasar dan promosi destinasi. Kegiatannya mencakup pemasangan baliho promosi wisata, pelatihan promosi wisata melalui konten media sosial, promosi budaya seperti Mecaq Undat dan Erau, serta pelestarian olahraga tradisional Ngeleput atau menyumpit.
Kemudian, pada 2026, program diarahkan pada pengembangan produk wisata dan keberlanjutan.
Kegiatannya meliputi diversifikasi produk wisata, seperti open trip sebagai alternatif produk wisata, dukungan seragam tari, promosi budaya melalui Festival Mecaq Undat, serta pelestarian olahraga tradisional Ngeleput atau menyumpit dan begasing.
Achmad mengatakan inisiatif yang dimulai sejak 2018 tersebut kini memasuki fase lanjutan hingga 2026 dengan tujuan mendukung keberlanjutan Desa Budaya Sungai Bawang.
"Pendekatannya tidak sekadar melibatkan warga, tetapi juga mengembangkan kapasitas. Pada tahap awal fokus pada pengembangan aset budaya, dan tahap berikutnya fokus pada peningkatan kompetensi warga, seperti pelatihan produksi kerajinan dan kesenian Dayak," jelasnya.
Menurut dia, pengembangan kapasitas tersebut bertujuan agar produk budaya dapat diproduksi secara berkelanjutan sekaligus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.
Pada tahap berikutnya, kemampuan tersebut diharapkan dapat ditransformasikan menjadi pengelolaan pariwisata yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat.
Target akhir keterlibatan PHM adalah mendorong Desa Budaya Sungai Bawang berkembang sebagai desa budaya sekaligus desa pariwisata.
Dengan demikian, masyarakat setempat diharapkan mampu mengelola potensi wisata secara mandiri sehingga manfaat ekonomi dari pengembangan budaya dan pariwisata dapat dirasakan secara langsung oleh warga.


