PM2.5 Samarinda Sempat Tembus 600, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Hasil pemantauan BMKG menunjukan kualitas udara di Kota Samarinda masih buruk, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Hasil pemantauan BMKG menunjukan kualitas udara di Kota Samarinda masih buruk, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PM2.5 Samarinda Sempat Tembus 600, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Hasil pemantauan BMKG menunjukan kualitas udara di Kota Samarinda masih buruk, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Hasil pemantauan BMKG menunjukan kualitas udara di Kota Samarinda masih buruk, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

PM2.5 Samarinda Sempat Tembus 600, Kualitas Udara Masuk Kategori Berbahaya

Hasil pemantauan BMKG menunjukan kualitas udara di Kota Samarinda masih buruk, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Kualitas udara di Kota Samarinda pada Sabtu (19/9/2026) pagi sempat berada pada kategori berbahaya.

Hasil pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 399,8 mikrogram per meter kubik pada pukul 06.00 WITA.

Berdasarkan grafik hasil pengamatan BMKG, konsentrasi PM2.5 mulai meningkat sejak dini hari. Pada pukul 00.00 WITA, kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat dengan konsentrasi sekitar 200 mikrogram per meter kubik.

Konsentrasi kemudian terus meningkat dan pada pukul 02.00 WITA tercatat mencapai lebih dari 600 mikrogram per meter kubik.

Memasuki pukul 08.00 WITA, konsentrasi PM2.5 mulai menunjukkan penurunan menjadi 349,1 mikrogram per meter kubik. Meski demikian, kondisi tersebut masih berada dalam kategori berbahaya.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Samarinda, Ismid Kusasih mengatakan kondisi kualitas udara yang dipantau BMKG maupun Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menunjukkan kondisi yang hampir merata, mulai dari kategori tidak sehat hingga cukup berbahaya.

Pihaknya memberikan rekomendasi kepada Satgas Penanganan Bencana Kekeringan dan Karhutla di Kota Samarinda untuk dilakukan pembelajaran jarak jauh atau daring kepada anak sekolah. 

Rekomendasi tersebut kemudian diputuskan Satgas untuk diberlakukan selama tiga hari yaitu pada 17–19 September 2026 melalui surat rekomendasi pembelajaran jara jauh bernomor 400.7.23/7450/100.02 tertanggal 16 September 2026. 

Setelah periode tersebut, pelaksanaan pembelajaran akan dievaluasi berdasarkan perkembangan kualitas udara dari hari ke hari.

Selain mengacu pada hasil pemantauan BMKG dan DLH, Dinkes juga memantau kondisi udara di 26 puskesmas yang tersebar di Samarinda.

Tim sanitarian di puskesmas memiliki perangkat Particle Counter yang digunakan untuk mengukur kualitas udara di dalam ruangan. 

Dari pemantauan tersebut, kadar PM2.5 maupun PM10 di hampir seluruh puskesmas disebut berada di atas kondisi normal.

“Kualitas udaranya, baik yang PM2.5 maupun PM10 itu sudah di atas normal. Dan itu menunjukkan tanda-tanda yang sangat tidak baik untuk kualitas udara,” ucap Ismid.

Dinkes pun mengimbau masyarakat, khususnya lingkungan sekolah untuk membatasi aktivitas peserta didik dan tenaga pendidik di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat atau lebih buruk.

Sekolah juga diminta memastikan ventilasi ruangan memadai serta mengurangi masuknya asap ke dalam ruangan. Penggunaan masker yang sesuai dianjurkan apabila harus beraktivitas di luar.

Masyarakat juga diminta mewaspadai gejala gangguan kesehatan akibat paparan asap, seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, dan keluhan pernapasan lainnya.

Pemantauan kualitas udara dan jarak pandang juga perlu dilakukan secara berkala sebagai bahan evaluasi kegiatan pembelajaran.

"Apabila ada keluhan kesehatan memburuk atau membutuhkan penanganan medis, bisa segera ke pelayanan kesehatan," pungkasnya.