Banner ADV

Kakao Berau Mulai Jadi Incaran Pasar Cokelat Dunia

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kakao Berau Mulai Jadi Incaran Pasar Cokelat Dunia

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kakao Berau Mulai Jadi Incaran Pasar Cokelat Dunia

Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Biji kakao dari Kabupaten Berau perlahan mulai naik kelas. 

Komoditas yang selama ini identik dengan perkebunan rakyat tersebut kini mampu menembus pasar luar negeri dan menarik perhatian industri cokelat premium di Eropa.

Peluang itu terlihat dari aktivitas ekspor yang terus berlangsung. Dalam kurun 2023–2025, sebanyak 23 ton biji kakao Berau dikirim ke sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Belanda dan Prancis.

Pasar ekspor kembali terbuka pada 2026. Hingga tahun ini, sekitar 11,5 ton kakao Berau telah dikirim ke Prancis dan Swiss.

Plt Kepala Dinas Perkebunan Berau, M Hendratno mengatakan permintaan dari pasar internasional menjadi sinyal bahwa kakao Berau memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas dengan nilai ekonomi lebih tinggi.

Menurutnya, tantangan berikutnya bukan sekadar meningkatkan jumlah produksi, tetapi memastikan kualitas biji tetap konsisten agar mampu memenuhi standar pasar premium.

Salah satu daya tarik kakao Berau berada pada karakter rasanya. Biji kakao daerah ini memiliki perpaduan rasa pahit dengan sentuhan asam segar yang menjadi ciri tersendiri.

Karakter tersebut turut membuka jalan bagi kakao Berau untuk masuk ke pasar yang lebih selektif. 

Bahkan, biji kakao dari Berau telah menarik minat Valrhona, produsen cokelat premium asal Prancis.

“Permintaan dari pasar menjadi peluang bagi kakao Berau untuk dikembangkan dengan nilai tambah yang lebih besar,” kata Hendratno.

Melihat peluang tersebut, pemerintah daerah mulai mengarahkan pengembangan perkebunan bukan hanya pada penambahan luas areal. 

Proses pascapanen, terutama fermentasi biji kakao, menjadi salah satu titik penting untuk menjaga mutu produk sebelum dipasarkan.

Petani juga didorong mendapatkan dukungan yang berkaitan langsung dengan kualitas produksi. Mulai dari bantuan peralatan fermentasi, pupuk hingga pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia di sektor perkebunan.

Pemerintah pusat juga memberikan alokasi perluasan perkebunan seluas 400 hektare melalui Kementerian Pertanian. Dari luasan tersebut, 200 hektare diperuntukkan bagi kakao dan 200 hektare lainnya untuk komoditas kelapa.

Tambahan areal itu membuat perkebunan kakao Berau kini mencapai sekitar 1.050 hektare, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di kisaran 1.037 hektare. Produksinya rata-rata sekitar 800 ton per tahun.

Wilayah Sambaliung masih menjadi salah satu kantong utama produksi kakao dengan luas sekitar 479 hektare. Pengembangan juga dilakukan di sejumlah wilayah lain, seperti Kelay, Segah, Long Lanuk, Kampung Merasa, dan Kampung Birang.

Hendratno menilai terbukanya pasar internasional perlu dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat posisi petani. Sebab, semakin tinggi standar pasar yang mampu dipenuhi, semakin besar pula peluang kakao Berau mendapatkan nilai jual yang lebih baik.

“Yang kami dorong bukan hanya peningkatan produksi, tetapi bagaimana kualitasnya semakin baik sehingga nilai yang diterima petani ikut meningkat,” pungkasnya. (Adv)