BMKG Prediksi Hujan Mulai November, OMC Kaltim Terkendala Minimnya Awan di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Kondisi cuaca di Kota Balikpapan masih didominasi oleh awan mendung, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kondisi cuaca di Kota Balikpapan masih didominasi oleh awan mendung, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BMKG Prediksi Hujan Mulai November, OMC Kaltim Terkendala Minimnya Awan di Balikpapan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Kondisi cuaca di Kota Balikpapan masih didominasi oleh awan mendung, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kondisi cuaca di Kota Balikpapan masih didominasi oleh awan mendung, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

BMKG Prediksi Hujan Mulai November, OMC Kaltim Terkendala Minimnya Awan di Balikpapan

Kondisi cuaca di Kota Balikpapan masih didominasi oleh awan mendung, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Kalimantan Timur (Kaltim) masih menghadapi kondisi musim kemarau dengan curah hujan yang sangat rendah. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Kaltim mulai memasuki musim hujan pada November 2026, setelah melewati masa transisi pada Oktober.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, Djoko Sumardiono mengatakan, kondisi September masih didominasi musim kemarau sehingga pasokan air di sejumlah wilayah masih perlu menjadi perhatian.

"Untuk bulan September ini memang masih kering. Artinya, kita masih musim kemarau. Sehingga curah hujan dikategorikan sangat rendah," kata Djoko, Minggu (20/9/2026).

Memasuki Oktober, kondisi cuaca diperkirakan mulai berubah dengan masuknya periode transisi atau peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Sementara pada November, Kaltim diprediksi mulai memasuki musim hujan. Meski demikian, Djoko mengatakan waktu pasti awal musim hujan masih menunggu hasil analisis dan rilis resmi Stasiun Meteorologi BMKG APT Pranoto Samarinda sebagai Mandatori Klimatologi di wilayah Benua Etam ini.

"Insya Allah nanti di bulan November kita sudah masuk musim hujan. Cuma lebih tepatnya kita melihat press release dari teman-teman di Klimatologi APT Pranoto," ujarnya.

Namun, datangnya musim hujan tidak serta-merta membuat curah hujan tahun ini sama dengan tahun sebelumnya. 

Djoko menyebut adanya pengaruh El Nino yang membuat curah hujan diperkirakan masih lebih rendah.

Sebagai gambaran, jika curah hujan November tahun sebelumnya dapat mencapai 200 hingga 300 milimeter dalam sebulan, tahun ini diperkirakan bisa berada di bawah 200 milimeter.

"Artinya hujan tetap ada, cuma karena tahun ini adalah tahun El Nino, curah hujannya juga tidak seperti di tahun sebelumnya," jelasnya.

Di tengah kondisi tersebut, Balikpapan dalam beberapa hari terakhir sempat mengalami cuaca mendung. 

BMKG menjelaskan, kondisi itu tidak sepenuhnya disebabkan kabut asap.

Djoko mengatakan, tiga hari sebelumnya memang sempat terdapat asap kiriman yang masuk ke wilayah Kaltim. 

Pergerakan asap berasal dari sejumlah wilayah di Kalimantan dan dipengaruhi kondisi angin yang lebih lemah.

"Asap itu asap kiriman. Terasa sekali aromanya," katanya.

Namun, untuk kondisi Balikpapan saat ini, mendung lebih dominan disebabkan pertumbuhan awan. 

Berdasarkan pengamatan udara atas, cukup banyak awan rendah yang berpotensi berkembang menjadi awan hujan.

Hanya saja, pertumbuhan awan tersebut belum optimal karena lapisan udara di atas sekitar 3.000 meter masih relatif kering. 

Kondisi tersebut membuat awan cepat menguap dan tidak berkembang menjadi hujan lebat.

Meski begitu, hujan rintik mulai terjadi di sejumlah wilayah. Menurut Djoko, kondisi tersebut menjadi salah satu indikasi bahwa pertumbuhan awan konvektif di Kaltim mulai meningkat.

"Walaupun tidak lebat, kemarin rintik-rintik saja. Itu memang indikasi bahwa awan-awan konvektif sudah mulai tumbuh di wilayah Kalimantan Timur," ujarnya.

Untuk membantu meningkatkan peluang turunnya hujan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga telah dilakukan di Kaltim. 

Posko OMC berada di Samarinda dan penyemaian dilakukan pada wilayah yang memiliki potensi pertumbuhan awan.

Namun, Balikpapan belum menjadi wilayah yang optimal untuk dilakukan penyemaian karena pertumbuhan awannya masih minim.

"Untuk Balikpapan sendiri karena pertumbuhan awannya kurang sehingga kita tidak sempat disemaikan," ungkap Djoko.

Selain faktor awan, kondisi angin juga menjadi kendala. Saat ini angin bergerak dari wilayah pantai menuju utara sehingga pelaksanaan penyemaian di Balikpapan menjadi lebih sulit.

Sebaliknya, pertumbuhan awan yang lebih masif terpantau di wilayah utara Kaltim, termasuk Berau. 

Kondisi tersebut membuat wilayah tersebut lebih memungkinkan untuk dilakukan penyemaian.

Djoko menyebut OMC yang dilakukan sekitar 15 hingga 17 September bertepatan dengan perkembangan awan hujan yang cukup luas di sejumlah wilayah Kaltim. Setelah penyemaian dilakukan, hujan kemudian turun di beberapa daerah.

Namun, pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan di sembarang lokasi. Keberhasilannya sangat bergantung pada keberadaan awan yang dapat disemai serta ketersediaan armada.

"Misalnya di Balikpapan kita mau lakukan penyemaian tapi ternyata tidak ada awannya, kan tidak bisa," jelasnya.

Selain keterbatasan pertumbuhan awan, armada OMC yang tersedia juga membuat penyemaian harus dilakukan pada wilayah prioritas.

Terkait bahan yang digunakan, Djoko memastikan proses penyemaian menggunakan garam dengan butiran sangat halus. 

Ia mengatakan bahan tersebut bukan zat kimia berbahaya dan akan larut ketika bercampur dengan air. Sebab itu, hujan buatan yang turun tidak berbahaya bagi kesehatan.

"Yang kita tebarkan itu adalah garam. Garam sifatnya cair kalau ketemu air, konsentrasinya akan berkurang. Itu tidak berbahaya untuk kesehatan," katanya.

Ia menjelaskan, jumlah bahan yang digunakan dalam proses penyemaian memang dapat mencapai sekitar satu ton. 

Namun, bahan tersebut disebarkan dalam bentuk partikel sangat halus sehingga ketika turun bersama hujan konsentrasinya menjadi sangat rendah.

Djoko menambahkan, OMC bukan berarti dapat menciptakan hujan tanpa adanya awan. Operasi tersebut tetap membutuhkan kondisi atmosfer dan pertumbuhan awan yang mendukung.

Karena itu, dengan kondisi Kaltim yang masih berada dalam periode kemarau, pelaksanaan OMC harus menyesuaikan perkembangan awan di masing-masing wilayah.

Sementara itu, masyarakat masih diminta menunggu informasi resmi BMKG terkait kepastian awal musim hujan di Kaltim, yang diperkirakan mulai terjadi pada November.