40 Tahun Berjualan, Bu Kas Pertahankan Harga dan Anggap Pelanggan sebagai Keluarga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Bu Kas merapikan lauk pauknya di warungnya, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Bu Kas merapikan lauk pauknya di warungnya, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

40 Tahun Berjualan, Bu Kas Pertahankan Harga dan Anggap Pelanggan sebagai Keluarga

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Bu Kas merapikan lauk pauknya di warungnya, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Bu Kas merapikan lauk pauknya di warungnya, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

40 Tahun Berjualan, Bu Kas Pertahankan Harga dan Anggap Pelanggan sebagai Keluarga

Bu Kas merapikan lauk pauknya di warungnya, Minggu (20/9/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Di tengah naik turunnya harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi, Bu Kas memilih tetap mempertahankan warung makannya sebagai tempat makan yang terjangkau bagi masyarakat.

Bagi perempuan yang sudah 40 tahun berjualan di Jalan Telaga Sari, Kecamatan Balikpapan Kota, tepat di depan SMPN 27 Balikpapan itu, berdagang bukan semata-mata mengejar keuntungan besar.

Ia menjalani usaha tersebut dengan prinsip sederhana, yaitu ikhlas, jujur dan bersyukur.

"Rezeki itu ada aja, yang penting ikhlas. Terus jualan ini kayak setengah pasrah gitu lho," ucap Bu Kas, Minggu (20/9/2026).

Lokasi warung yang berada di kawasan sekolah membuat pelanggannya didominasi siswa. Namun, masyarakat sekitar hingga pekerja harian juga menjadi pelanggan tetap.

Selama puluhan tahun berjualan, Bu Kas mengaku tidak ingin memasang harga terlalu tinggi. Ia tetap berusaha menyediakan makanan yang bisa dijangkau berbagai kalangan.

Untuk nasi lengkap dengan lauk ayam, misalnya, harganya berkisar Rp14.000 hingga Rp15.000. Sementara bagi pelanggan yang memiliki uang terbatas, termasuk anak sekolah dan pekerja harian, tersedia porsi dengan harga sekitar Rp10.000.

Bagi Bu Kas, keuntungan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan usaha.

Dengan omzet sekitar Rp500.000 per hari, ia sudah bersyukur apabila dapat memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp100.000.

"Ya gini-gini aja, yang penting kita sehat, jualan ikhlas, ada untungnya sedikit, jangan sampai rugi," katanya.

Prinsip tersebut juga diterapkan dalam cara Bu Kas melayani pelanggannya.

Ia bahkan tidak selalu mengawasi ketika pelanggan melakukan pembayaran. Uang bisa langsung diletakkan di wadah yang telah disediakan.

"Aku bilang, ‘Mbak, taruh aja uangnya di situ'. Aku enggak ngawasi, tapi Insya Allah yang di atas sudah jaga. Kalau hati kita ikhlas dan pasrah, Insya Allah enggak ada apa-apa," tuturnya.

Bagi Bu Kas, para pelanggan yang datang ke warungnya bukan sekadar pembeli.

Ia menganggap pelanggan seperti keluarga sendiri. Anak-anak muda dianggap seperti anaknya, sementara pelanggan yang lebih tua diperlakukan layaknya saudara.

"Pelanggan itu kayak keluargaku semua. Yang anak-anak muda kayak anakku, yang tua-tua kayak kakak-kakakku atau adik-adikku. Kayak warung keluarga gitu," ujarnya.

Ia juga tidak ingin pelanggan merasa terburu-buru ketika memilih makanan. Menurutnya, kesabaran dalam melayani merupakan bagian dari menjalankan usaha dengan ikhlas.

"Mau pilih apa ya ditungguin, enggak pernah dipaksa. Yang penting ikhlas aja, rezeki itu yang di atas sudah ngatur," katanya.

Kehangatan tersebut rupanya dirasakan oleh para pelanggan. Salah satunya seorang pengemudi ojek online, Ari Pradana mengaku dapat mengunjungi Warung Bu Kas hingga empat atau lima kali dalam sepekan.

Menurutnya, selain rasa makanan yang cocok, harga yang bersahabat menjadi alasan dirinya kembali datang.

"Rasanya enak, mudah diterima, dan harganya juga bersahabat. Dan yang penting silaturahmi penjualnya kepada customer luar biasa, jadi di sini kita agak kayak keluarga. Warung rumahan rasa restoran," kata Ari.

Usaha keluarga tersebut kini juga terus berlanjut hingga malam hari.

Setelah Bu Kas berjualan sejak pagi hingga sekitar pukul 16.00 WITA, anaknya melanjutkan usaha tersebut mulai pukul 17.00 WITA hingga tengah malam dengan menu lalapan.

Sang anak sebelumnya bekerja di sebuah hotel sebelum akhirnya memilih mengikuti usaha kuliner seperti ibunya. Kini, usaha warung malam tersebut telah berjalan sekitar 14 tahun.

Bagi Bu Kas, keberlangsungan warung selama lebih dari empat dekade bukan semata-mata soal besarnya keuntungan.

Selama masih bisa berjualan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjaga kesehatan dan bertemu pelanggan yang sudah dianggap keluarga, ia merasa sudah cukup bersyukur.

"Yang penting kita sehat, jualan ikhlas, ada untungnya sedikit nggak apa-apa," pungkasnya.