Banner ADV

Oltrad Warnai Erau 2026, Sekda Kukar Sebut Harus Ada Generasi Penerus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Oltrad Warnai Erau 2026, Sekda Kukar Sebut Harus Ada Generasi Penerus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Oltrad Warnai Erau 2026, Sekda Kukar Sebut Harus Ada Generasi Penerus

Lomba olahraga tradisional menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026 (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Lomba olahraga tradisional (Oltrad) menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam memeriahkan Erau Adat Kutai 2026. Kegiatan tersebut resmi dibuka di area parkir Pulau Kumala, Tenggarong, Senin (21/9/2026).

Sekretaris Daerah (Sekda) Kutai Kartanegara (Kukar), Sunggono mengatakan oltrad memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar persoalan menang atau kalah.

Menurutnya, berbagai permainan tradisional mengajarkan kecakapan, ketangkasan, keseimbangan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama hingga sportivitas.

“Olahraga tradisional memiliki nilai yang jauh lebih luas daripada sekadar menang atau kalah. Di dalamnya terdapat kecakapan, ketangkasan, keseimbangan, konsentrasi, keberanian, kesabaran, kerja sama, dan sportivitas,” kata Sunggono dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut.

Ia mencontohkan sejumlah permainan yang dipertandingkan dalam kegiatan tersebut, salah satunya belogo. Permainan yang diikuti sekitar 90 peserta itu mengajarkan ketepatan dan perhitungan.

Sementara permainan bergasing memerlukan keterampilan, ketekunan, pemahaman terhadap bahan dan teknik yang diwariskan dan diperoleh melalui pengalaman.

“Sedangkan menyumpit membutuhkan fokus, pengendalian diri dan ketepatan. Ketapel adalah olahraga tradisional yang menuntut konsentrasi dan keterampilan,” ujarnya.

Sunggono menilai berbagai permainan tersebut menunjukkan bahwa oltrad bukan sekadar hiburan masyarakat.
Di dalamnya terdapat pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi.

“Semua itu menunjukkan bahwa permainan tradisional mengandung pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang masyarakat dan layak ditempatkan sebagai bagian penting dari pendidikan budaya kita,” katanya.

Menurutnya, pelestarian oltrad menghadapi tantangan di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat. Upaya pelestarian tidak cukup hanya dengan mempertahankan nama dan keberadaan permainan tradisional.

Pemerintah dan masyarakat, lanjutnya, perlu memastikan permainan tersebut tetap memiliki pelaku, ruang bermain, komunitas, aturan yang dipahami, serta generasi penerus.

“Di tengah perubahan zaman yang berlangsung sangat cepat, tantangan terbesar kita bukan hanya bagaimana mempertahankan nama sebuah permainan tradisional, tetapi bagaimana memastikan permainan itu tetap memiliki pelaku, ruang bermain, komunitas, aturan yang dipahami dan generasi terus berlanjut,” pungkasnya. (Adv)