Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Jauh sebelum budaya lokal dikemas menjadi atraksi wisata, masyarakat Berau telah memiliki tradisi yang lahir dari kedekatan mereka dengan sungai dan kehidupan perairan. Salah satunya Baturunan Manurunkan Parau, tradisi yang berkembang dari aktivitas masyarakat di kawasan Gunung Tabur.
Tradisi tersebut menggambarkan bagaimana perahu atau parau menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat masa lalu. Perahu bukan sekadar alat transportasi, tetapi menjadi sarana untuk menunjang berbagai aktivitas warga yang bergantung pada jalur perairan.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau melihat nilai sejarah dalam tradisi tersebut masih relevan untuk diperkenalkan kepada generasi saat ini.
Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa menjelaskan, Baturunan Manurunkan Parau menyimpan nilai kebersamaan yang tumbuh dari kehidupan masyarakat yang memiliki hubungan erat dengan sungai dan sumber daya perairan.
“Dari tradisi ini kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat dahulu sangat dekat dengan perairan dan mengandalkan kebersamaan dalam menjalankan aktivitasnya,” ujar Yudha.
Menurutnya, keberadaan tradisi tersebut juga menjadi gambaran bahwa kebudayaan Berau tumbuh dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Karena itu, pelestariannya tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial, tetapi perlu diperkenalkan sebagai bagian dari sejarah dan identitas masyarakat.
Yudha menyebut generasi muda perlu mengetahui latar belakang sebuah tradisi, bukan hanya melihat bentuk kegiatannya.
Pemahaman terhadap sejarah inilah yang dinilai dapat membuat budaya lokal tetap memiliki tempat di tengah perubahan zaman. “Jangan hanya melihat tradisinya, tetapi juga pahami cerita dan nilai yang ada di baliknya,” katanya.
Potensi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Baturunan Parau untuk dikembangkan dalam wisata budaya. Tradisi yang berkaitan dengan sejarah kehidupan masyarakat dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal identitas Berau lebih jauh.
Meski demikian, pengembangan sebagai bagian dari pariwisata tetap perlu menjaga nilai asli yang melekat pada tradisi tersebut. Menurut Yudha, budaya tidak boleh kehilangan makna hanya karena dikemas menjadi tontonan.
Dengan mempertahankan nilai sejarah sekaligus melibatkan masyarakat sebagai pelaku budaya, Baturunan Manurunkan Parau diharapkan tetap hidup sebagai warisan masyarakat Gunung Tabur dan menjadi salah satu cerita budaya yang memperkaya identitas Kabupaten Berau. (Adv)



