Banner ADV

Kemarau Bikin Sawah Semurut Kritis, Pemerintah Turunkan Bantuan Pangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kondisi lahan pertanian di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar. (Foto: Dinas Pangan Berau)
Kondisi lahan pertanian di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar. (Foto: Dinas Pangan Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Bikin Sawah Semurut Kritis, Pemerintah Turunkan Bantuan Pangan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kondisi lahan pertanian di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar. (Foto: Dinas Pangan Berau)
Kondisi lahan pertanian di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar. (Foto: Dinas Pangan Berau)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Bikin Sawah Semurut Kritis, Pemerintah Turunkan Bantuan Pangan

Kondisi lahan pertanian di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar. (Foto: Dinas Pangan Berau)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Musim kering mulai meninggalkan persoalan serius bagi petani di Kampung Semurut, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau. 

Persawahan yang biasanya menjadi sumber pangan warga kini berhadapan dengan ancaman gagal panen setelah pasokan air terus menipis.

Sedikitnya 20 Hektare (Ha) lahan pertanian diperkirakan terdampak kekeringan. Sebagian tanaman padi bahkan telah mati, sementara tanaman yang masih bertahan berada dalam kondisi rentan dan berpotensi ikut puso jika hujan tak kunjung turun.

Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah mengambil langkah cepat. Dinas Pangan Kabupaten Berau menyalurkan 1,76 ton beras melalui program Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) untuk membantu warga yang terdampak.

Bantuan tersebut menyasar 21 kepala keluarga dengan total 88 jiwa di Kampung Semurut.

Plt Kepala Dinas Pangan Berau, Tenteram Rahayu, mengatakan bantuan diberikan setelah pemerintah menerima laporan dari kampung dan memastikan kondisi warga serta lahan pertanian melalui pengecekan langsung.
“Bantuan kami salurkan kepada 88 jiwa yang terdampak, dengan total 1.760 kilogram beras,” katanya.

Menurut Tenteram, persoalan di Semurut tidak hanya menyangkut berkurangnya hasil pertanian. Kekeringan telah membuat tanaman padi yang menjadi tumpuan pangan masyarakat berada dalam kondisi kritis.

Dari hasil peninjauan lapangan, terdapat tanaman yang sudah mati. Sementara sebagian lainnya masih tumbuh, tetapi tidak memiliki cukup pasokan air untuk menyelesaikan masa produksinya. “Kalau hujan belum turun, tanaman yang masih bertahan pun sangat berisiko gagal panen,” jelasnya.

Pemerintah kemudian melakukan pendataan bersama sejumlah perangkat daerah sebelum bantuan pangan diberikan. Dinas Pangan berkoordinasi dengan DTPHP, Dinas Sosial dan BPBD untuk memastikan dampak kekeringan serta warga yang benar-benar membutuhkan bantuan.

Tenteram menegaskan, penyaluran dilakukan berdasarkan kondisi penerima di lapangan, bukan sekadar jumlah kartu keluarga. “Data penerima kami verifikasi berdasarkan nama dan alamat, kemudian dihitung berdasarkan jumlah jiwa,” ujarnya.

Besaran bantuan pun disesuaikan dengan kondisi masyarakat yang terdampak. Jika sebelumnya alokasi bantuan berada di angka 10 kilogram beras per jiwa, kini dinaikkan menjadi 15 kilogram per jiwa.

Kebijakan tersebut mempertimbangkan waktu pemulihan pertanian, khususnya di kawasan rawa yang membutuhkan waktu cukup panjang untuk kembali menghasilkan padi.

“Pemulihan lahan tidak bisa berlangsung cepat, sehingga kebutuhan pangan warga selama masa itu juga harus kami perhitungkan,” tuturnya.

Di tengah ancaman puso, pemerintah memastikan bantuan pangan masih dapat digulirkan apabila kondisi serupa terjadi di wilayah lain. Cadangan pangan daerah yang dikelola bersama Bulog disebut masih tersedia dan disiapkan sebagai penyangga ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.

Tenteram memastikan stok tersebut tetap aman sehingga bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan dan hasil pendataan di lapangan.

“Cadangan pangan masih tersedia dan siap digunakan apabila kondisi darurat kembali terjadi,” pungkasnya.

Kekeringan di Semurut kini menjadi perhatian bukan hanya karena ancaman terhadap produksi padi, tetapi juga dampaknya terhadap ketahanan pangan masyarakat. Pemerintah pun harus bergerak sembari menunggu kondisi cuaca kembali mendukung pemulihan lahan pertanian. (Adv)