Penempatan Kerja Balikpapan Baru 600 Orang, Disnaker Catat 500-an PHK hingga Agustus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Penempatan Kerja Balikpapan Baru 600 Orang, Disnaker Catat 500-an PHK hingga Agustus

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Penempatan Kerja Balikpapan Baru 600 Orang, Disnaker Catat 500-an PHK hingga Agustus

Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Penyerapan tenaga kerja di Kota Balikpapan masih berjalan lambat sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Balikpapan mencatat penempatan tenaga kerja baru sekitar 600 orang dari target tahunan sebanyak 2.300 orang.

Di sisi lain, jumlah pekerja yang tercatat mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai sekitar 500 orang pada periode yang sama.

Kepala Disnaker Balikpapan, Adamin Siregar mengatakan angka PHK tersebut relatif tidak jauh berbeda dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 543 orang.

"Kalau kita lihat data dari tahun sebelumnya dengan periode bulan yang sama, kurang lebih 543 yang sudah tercatat adanya PHK. Kalau kita lihat statistik angka tahun lalu di periode yang sama, kurang lebih sama," kata Adamin, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut belum menunjukkan adanya gelombang PHK besar-besaran di Balikpapan.

PHK terjadi di sejumlah sektor, terutama jasa dan transportasi. Selain itu, terdapat pekerja dari perusahaan pendukung kegiatan pertambangan yang ikut terdampak, meski jumlahnya relatif sedikit.

Adamin menyebut terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab PHK. Di antaranya efisiensi perusahaan yang berkaitan dengan kondisi keuangan, pelanggaran yang dilakukan pekerja, serta berakhirnya proyek atau pekerjaan.

"Secara umum terkait dengan efisiensi. Kita paham terkait geopolitik global berimbas kepada daerah. Yang kedua terkait pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pekerja. Ketiga memang ada terkait dengan selesainya proyek atau pekerjaan," ujarnya.

Untuk penempatan tenaga kerja, Adamin mengatakan pihaknya masih menunggu hasil dari pelaksanaan Job Fair yang menyediakan sekitar 2.087 lowongan pekerjaan.

Ia berharap lowongan tersebut dapat meningkatkan angka penyerapan tenaga kerja di Balikpapan hingga akhir tahun.

Sementara itu, Disnaker Balikpapan mencatat sekitar 5.000 pencari kerja atau pengangguran yang terdaftar. 

Kondisi ini menjadi salah satu perhatian pemerintah kota di tengah melambatnya penerimaan tenaga kerja oleh sejumlah perusahaan.

Adamin mengatakan, berdasarkan komunikasi dengan beberapa perusahaan, sebagian di antaranya saat ini belum membuka penerimaan pekerja baru.

"Memang penerimaannya agak berkurang dari tahun-tahun sebelumnya. Kami sudah komunikasi dengan beberapa perusahaan pada saat Job Fair. Mereka bilang perusahaan tidak ada penerimaan, tapi mereka mencoba yang sudah ada jangan sampai ada PHK," katanya.

Untuk membantu pencari kerja dan pekerja terdampak PHK, Disnaker Balikpapan juga menjalankan program pelatihan kerja. 

Program tersebut menyasar pekerja yang sudah terkena PHK, pekerja yang ingin meningkatkan produktivitas, serta masyarakat yang benar-benar berminat bekerja atau membuka usaha.

Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan kelompok, mulai dari digital marketing, pembuatan kue, laundry, pangkas rambut hingga bercocok tanam.

Pelatihan tersebut tidak dibatasi usia dan diberikan secara gratis karena dibiayai negara. Pesertanya dapat membentuk kelompok minimal enam orang dengan bidang pelatihan yang sama.

"Kalau satu orang agak sulit biaya pengajarnya. Paling tidak ada enam orang dengan materi yang sama," jelasnya.

Adamin menambahkan, pelatihan tidak hanya diarahkan agar peserta memperoleh keterampilan, tetapi juga memiliki rencana setelah mengikuti pelatihan.

Peserta yang telah mengikuti pelatihan diharapkan memiliki komitmen untuk membuka usaha atau meningkatkan produktivitas sesuai bidang yang dipilih.